Problem ‘Cat Person’: Empat Perempuan Berbagi Kisah Nyata Pengalaman Seks Tak Enak

Bila kamu termasuk perempuan aktif secara seksual, kemungkinan besar kamu pernah bercinta sama seseorang hanya karena kamu merasa itu sebaiknya kamu lakukan. Kamu enggak antusias, tapi kamu juga enggak menolak. Itu adalah seks yang konsensual tapi penuh beban, rasa bersalah, atau bahkan kewajiban.

Cat Person—cerpen Kristen Roupenian di The New Yorker—viral sepanjang akhir pekan, karena membahas perasaan dan pengalaman perempuan yang jarang dituliskan, mengenai dunia kencan pada umumnya. Ratusan perempuan ngetwit bahwa cerpen itu mengilustrasikan dengan amat baik betapa perempuan mendahulukan kebutuhan dan perasaan orang lain (laki-laki) ketimbang miliknya sendiri. Dan bahwa perempuan “berupaya membahagiakan orang-orang di sekitarnya,” sebagaimana disampaikan Roupenian dalam sebuah wawancara soal penulisan cerpen tersebut.

Bersangkutan dengan hal ini adalah fakta bahwa banyak perempuan bersedia (consent) melakukan hubungan seks yang enggak diinginkan karena, kalau tidak, kita bakal tidak sopan atau menyakiti perasaan si laki-laki, sebagaimana dirasakan protagonis cerpen itu, Margot. Yang juga dapat dipahami banyak perempuan adalah pengamatan Margot soal seks semacam ini: bahwa, seperti dugaan, seks seperti itu enggak ada “ena-ena”-nya.

Saya ngobrol sama empat perempuan muda soal pengalaman mereka dengan “cat people.”

Daphne (27)

Waktu saya masih berusia 19 tahun, di kampus, saya menjalani apa yang orang gembar-gemborkan sebagai “masa terbaik dalam hidup.” Setelah ujian tingkat satu, saya mengundang cowok ini dari kampung. Saya udah sering flirting sama dia, ngajak dia mengunjungi asrama saya. Dia lebih tua, 31 tahun, kalau enggak salah ingat. Dia bukan “tipe” saya, sih. Dia lumayan pendek dan rada gembil, tapi wajahnya tampan banget. Dia seorang bapak, tapi dia punya usaha pangkas rambut. Jadi, saya tahu enggak bakal serius sama nih orang, karena dia punya anak. Di sisi lain, kayaknya dia udah stabil dan mapan.

Ya, intinya, dia nyamperin saya. Kami Netflix and chill sebelum Netflix beneran ada, dan dia mulai dekat-dekat. Ya, saya mah ngikut aja… tapi kemudian berubah pikiran, di tengah-tengah third base. Saya merasa bakal rada gak sopan kalau tiba-tiba bilang saya enggak mood, jadi saya biarin aja dia penetrasi saya.

Saya baring aja, mikirin kapan bisa nelepon ayah buat nganterin barang-barang saya dari rumah.

Videos by VICE

“Bisakah ego laki-laki dikasih tahu kalau mereka nggak mahir memuaskan perempuan? Kayaknya enggak deh.”

Amy (26)

Ngewe sama cowok gue enggak ada enak-enaknya. Dia, kan, lebih tua. Jadi gue kira dia bakal lebih berpengalaman. Eh, tapi enggak pernah foreplay. Iya, iya. Ngapain gue tetep sama dia? Gue, kan, terlalu muda buat menderita kayak begitu. Tapi gue memprioritaskan pacaran sama cowok yang bertanggung jawab, punya pekerjaan, dan prospek bagus. Seringnya, sih, gue enggak tidur sama dia. Tapi, ya, yang namanya pacaran. Kadang kami harus ngewe deh. Gue bisa ngajarin dia, sih, yang gue suka kayak gimana. Ya mau enggak mau, masa tujuh tahun ke depan ngewenya enggak pernah enak. Mana tahan.


Baca juga nih laporan VICE yang absurd soal dunia kencan:

Vanessa (21)

Tahun lalu, saya match sama seorang cowok di Tinder, dia tinggi. Kami flirting dan ngobrol-ngobrol di sana, terus pindah chat ke WhatsApp. Kami memutuskan buat ketemuan di ruang publik, tentunya. Kami minum-minum di bar setempat. Saat kami ketemu, rasanya mirip pas chatting: enggak canggung. Jadi, tidur sama dia pada kencan pertama tidak tampak seperti hal yang aneh.

Biasanya saya bakal meledek kawan-kawan saya yang sok-sokan bilang “rasanya gue udah kenal lama sama nih orang,” tapi sekarang gantian saya yang ngerasa gitu. Dia nanya apa saya mau balik ke tempat dia, dan saya nurut. Ya, gimana, kan jarang-jarang bisa klop sama orang sampai kayak gitu. Di tempat dia kami ciuman, tapi cara dia nyedot-nyedot bibir saya bikin saya pengin udahan. Asli deh, itu ciuman terburuk yang saya pernah rasakan. Bahkan ciuman pertama saya, pas acara disko sekolahan SMP, enggak separah itu.

Jadinya saya malah merasa harus tidur sama dia. Saya tahu, saya punya otoritas atas tubuh saya—saya mendukung Feminisme dan segala macem—tapi rasanya setelah pergi minum-minum, dan setuju balik ke tempatnya, saya mesti tidur sama dia. Ya, pada akhirnya enggak ngenakin banget; saya terengah-engah saat dia di atas saya. Kalau dia nyium saya aja enggak ada ritmenya, apalagi pas ngewe. Kok bisa sih orang seganteng itu payah di ranjang?

Rita (18)

Beberapa bulan silam, gue memutuskan ngizinin fuck buddy gue ngasih seks oral. Itu pertama kalinya gue ngelakuin itu sama cowok, dan rasanya enggak enak banget. Pengalaman sama dia 1) bikin gue jadi males seks oral selama beberapa lama dan 2) bikin gue mutusin dia. Setiap kali gue papasan sama dia di kampus, gue terbayang wajahnya yang kebingungan ngeliatin gue, mencoba memastikan saya menikmatinya. Gue jadi mesti senyum-senyum. Gue mau nyuruh dia berhenti, tapi kayaknya enggak ada gunanya. Jadi gue tahanin aja deh dan akhirnya pura-pura orgasme.

Bisa kah ego laki-laki dibilangin mereka enggak mahir memuaskan perempuan? Kayaknya enggak deh. Kalau saya bilang ke dia, dia bakal bilang ke semua orang di kampus. Jadi saya biarin aja.


Thank for your puchase!
You have successfully purchased.