world politics

Konflik Dengan Cina, India Memblokir TikTok yang Dipakai 200 Juta Warganya

Aksi boikot aplikasi teknologi dan startup Cina yang dilakukan pemerintah India, diyakini tak berdampak pada perekonomian Tiongkok sama sekali. Penggemar TikTok di India merasa blokir berlebihan.
SJ
Mumbai, IN
01 Juli 2020, 5:04am
Imbas Konflik Perbatasan, India Memblokir TikTok dan 57 Aplikasi Buatan Tiongkok Lainnya
Foto ilustrasi TikTok dari  Kon Karampelas / Unsplash

Selepas konflik perbatasan dengan Tiongkok yang terjadi bulan lalu, muncul kebijakan balasan dari India. Kementerian Informasi Teknologi India menyatakan 58 aplikasi ponsel dari perusahaan Tiongkok tak boleh lagi beredar di Google Play dan App Stores untuk wilayah India, efektif mulai 30 Juni 2020. Pemblokiran tersebut turut dialami TikTok, salah satu aplikasi paling populer digunakan warga Negeri Sungai Gangga untuk mencari hiburan.

Pemerintah India beralasan 58 aplikasi tersebut harus diblokir sementara karena "alasan keamanan." Aplikasi bikinan startup Tiongkok dianggap mengandung proteksi yang lemah, sehingga data pengguna bisa bocor lantaran disimpan di server luar negeri. Namun pengamat teknologi di India sepakat, alasan blokir sebenarnya lebih karena motif politik, sebagai upaya balasan atas 20 tentara India yang tewas dua pekan sebelumnya karena kontak senjata dengan militer Tiongkok di perbatasan.

Selain TikTok, aplikasi asal Tiongkok yang kena blokir di India adalah Vigo Video, aplikasi pesan WeChat, UC Browser, serta Baidu Maps. Semua merek itu termasuk aplikasi favorit masyarakat India.

"Kami terpaksa melakukan pemblokiran, karena semua aplikasi tersebut secara diam-diam menyimpan data-data pengguna, yang bisa mengancam keamanan dalam negeri India," demikian pernyataan dari pemerintah India.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian, merasa "sangat prihatin" atas kebijakan ekstrem India. Blokir semacam itu menurut Beijing mengganggu potensi pertumbuhan perekonomian, serta justru merugikan India sendiri.

Konflik perbatasan India-Tiongkok terjadi di lereng Pegunungan Himalaya. Sebanyak 20 tentara India tewas, ketika mereka terlibat konflik memakai senjata tajam dengan aparat dari wilayah Tiongkok yang dianggap melanggar batas teritorial. Beijing sampai sekarang enggan menyebut adakah korban jiwa dari pihak mereka. Akibat sengketa ini, rakyat India marah pada Tiongkok. Muncul seruan dari ormas nasionalis, agar konsumen memboikot produk-produk bikinan Cina, termasuk aplikasi teknologi.

Semua aplikasi yang kena blokir tak langsung terhapus dari ponsel pengguna yang sudah meng-install sebelumnya. Tapi kini ke-58 aplikasi tersebut tak lagi tersedia untuk dibeli dan diunduh di Google Play Store ataupun Apple App Store. Nikhil Gandhi, Kepala Perwakilan Bisnis TikTok di India, menyatakan pihaknya akan berusaha melobi pemerintah India agar diizinkan kembali menyediakan layanan video pendek tersebut. "Kami akan mematuhi semua peraturan privasi data sesuai perundang-undangan di India," kata Gandhi.

TikTok adalah salah satu aplikasi terpopuler di Negeri Sungai Gangga. Pengguna aktifnya mencapai 200 juta orang saban hari, digunakan oleh konsumen lintas kelas sosial. TikTok menjadi lima besar aplikasi ponsel paling banyak diunduh di pasar TI India. Merujuk data TikTok, India merupakan salah satu pasar terbesar mereka, mencapai 44 persen dari total 323 miliar pengunduh TikTok di seluruh dunia.

Masalahnya, menurut analis teknologi, pemblokiran ini tak akan berdampak banyak buat perekonomian Tiongkok. Sekalipun jumlah penggunanya amat besar di India, namun konsumen di negara tersebut baru 0,3 persen yang membelanjakan uang di TikTok, termasuk untuk kepentingan beriklan, sisanya memakai TikTok gratisan. Angka tersebut jauh di bawah pasar negara lain.

Pengguna TikTok di India rata-rata datang dari warga kota kecil atau kawasan pedesaan. Aplikasi ini sempat panen olok-olok oleh kelas menengah India, karena dianggap alay. Tapi popularitas aplikasi video pendek tersebut tak terbendung. Bahkan, TikTok menjadi platform populer untuk sarana menjaga kesehatan mental bagi masyarakat India, terutama selama kebijakan lockdown pandemi corona diberlakukan.

Kebijakan pemerintah India mengecewakan kreator konten TikTok setempat. "Hati saya hancur mendengar TikTok kini kena blokir," kata Geet kepada VICE News. Dia adalah pengguna TikTok yang kondang di India, memiliki 6 juta follower. "Lewat TikTok, aku bisa menjangkau warga hingga di perkampungan kumuh, untuk memberi motivasi agar mereka tetap semangat menjalani hidup," kata Geet.

Geet juga sering berinteraksi dengan penggemar di kolom komentar, yang menurutnya membuktikan TikTok punya manfaat selain hanya menampilkan video joget. "Ada banyak followerku yang batal bunuh diri karena mendapat sarana hiburan lewat TikTok," tandasnya.

Pihak lain yang kecewa dengan pemblokiran ini adalah influencer yang mendapat pemasukan utama dari TikTok. Bhargav Chippada salah satunya. Dia pengguna TikTok asal Kota Visakhapatnam yang memiliki 4 juta follower. Bhargav biasa menerima endorsement, sehingga dia kini menjadi tulang punggung keluarganya.

"Saya berasal dari keluarga miskin, TikTok membuka jalan buat saya mengubah nasib," ujarnya pada VICE. "Berkat pemasukan dari TikTok, saya bisa membelikan ayah sepeda, serta menghadiahkan perhiasan buat ibu."

Di saat bersamaan, pemblokiran 58 aplikasi teknologi buatan Tiongkok ini disambut positif, terutama oleh para pengusaha teknologi lokal. Mereka berharap aplikasi sejenis bikinan "anak bangsa" bisa merebut pasar dan menjadi alternatif bagi konsumen.

Aplikasi semacam Roposo, ShareChat dan Bolo Indya selama ini kalah bersaing dengan produk buatan Tiongkok. Mereka semua optimis, akan diuntungkan ketika aplikasi Tiongkok tak bisa beredar di pasar India.

Follow Shamani Joshi di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News