Lukisan pemandangan Taman Nasional Guadalupe, Texas, pada sampah botol plastik.
Lukisan pemandangan Taman Nasional Guadalupe, Texas, pada sampah botol plastik. Semua foto oleh Mariah Reading.
Covering Climate Now

Seniman Ini Melukis Pemandangan Sekitar di Tiap Sampah yang Dia Pungut

Sampah adalah harta berharga bagi seniman Mariah Reading. Dia bisa menciptakan lukisan pemandangan yang menakjubkan pada benda yang mengotori lingkungan.
SJ
Mumbai, IN
23.4.21

Pemandangan indah tertoreh dalam lukisan yang terbuat dari air tercemar dan sampah, menyiratkan kerusakan alam yang telah kita ciptakan. Media visual kerap dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran manusia akan masalah lingkungan. Ideologi inilah yang ditangkap Mariah Reading, seniman ekologis asal Maine, Amerika Serikat, dalam karyanya yang “mengaburkan batas antara pemandangan dan tempat pembuangan sampah”.

Lukisan akrilik pada papan pelampung rusak yang ditemukan di Locust Grove Estate, Poughkeepsie, New York.

Lukisan akrilik pada papan pelampung rusak yang ditemukan di Locust Grove Estate, Poughkeepsie, New York.

Reading menyambangi pantai dan taman nasional cantik untuk memungut sampah-sampah yang dibiarkan teronggok di sana. Setelah itu, dia melukis pemandangan sekitar pada benda yang dibuang pengunjung. Reading ingin mengampanyekan pentingnya membuang sampah pada tempatnya, serta mempertanyakan apakah manusia dan sampah terpisah dari lingkungan atau terintegrasi dengannya.

Lukisan pemandangan Big Sur di California pada sampah roda.

Lukisan pemandangan Big Sur di California pada sampah roda.

Besar dalam keluarga artistik di lingkungan Maine yang indah, Reading sangat suka melukis pemandangan semasa sekolah dulu. Dia terinspirasi oleh para pelukis Impresionis. Namun, dia baru mulai menghasilkan karya yang sadar lingkungan sebelum lulus kuliah.

Reading tersadar sebagian besar peralatan lukis akan berakhir jadi sampah, seperti tong besar beton dan karet yang dibutuhkan untuk membuat cetakan. “Semuanya akan terbuang sia-sia jika campuran [air atau cat] tidak tepat, lalu menghasilkan sampah basah yang berat,” katanya kepada VICE.

“Dari situlah saya terpikir mengganti peralatan. Untuk proyek kelulusan, saya mengumpulkan sampah buat dijadikan kanvas, lalu melukis pemandangan pada benda itu.”

Reading memfoto hasil lukisannya di Taman Nasional Zion, Utah, Amerika Serikat.

Reading memfoto hasil lukisannya di Taman Nasional Zion, Utah, Amerika Serikat.

Rangkaian sampah plastik dibentuk menyerupai tubuh manusia.

Rangkaian sampah plastik dibentuk menyerupai tubuh manusia.

Sementara tugas akhir menyadarkannya akan ironi bahwa alat yang digunakan pelukis pemandangan dapat menghasilkan sampah, risetnya selama inilah yang mendorong Reading untuk berkontribusi dalam upaya konservasi. Tak lama setelah lulus kuliah, dia memulai misi memungut sampah di tempat-tempat paling indah di dunia.

Sampah kaleng di Taman Nasional Denali, Alaska.

Sampah kaleng di Taman Nasional Denali, Alaska.

Tutup kompor kemah yang ditemukan di Alaska.

Tutup kompor kemah yang ditemukan di Alaska.

Sampah kaleng bir, keyboard, alat pendeteksi asap dan botol adalah harta bagi Reading. Dia mengubah apa yang sebelumnya mengotori lingkungan menjadi kanvas untuk lukisan yang memesona. Sang seniman juga tertarik dengan sepatu dan sandal yang dibuang begitu saja, karena barang bekas ini merupakan jejak sungguhan dari sampah yang dihasilkan manusia.

Lukisan pemandangan Taman Nasional Zion pada sandal jepit.

Lukisan pemandangan Taman Nasional Zion pada sandal jepit.

Sandal bekas di Hawaii.

Sandal bekas di Hawaii.

“Saya biasanya menggendong tas ransel berisi peralatan lukis,” tuturnya. “Jika saya menemukan sampah saat mendaki dan keadaan sekitarnya bagus, saya akan langsung melukis pada sampah itu. Kalau kayak begini, saya bisa melihat warna dan gerakan apa saja yang bisa dimasukkan ke dalam lukisan.” Apabila cuacanya tidak mendukung atau visinya terlalu besar, dia akan memfoto pemandangan dan menumpahkannya ke lukisan di dalam studio. Dia juga suka mencari sampah di pusat daur ulang, atau menggunakan kaleng dan botol bekasnya sebagai kanvas.

Lukisan yang menyatu dengan laut

Reading membawa peralatan lukis ke mana pun dia pergi.

Sejauh ini, Reading telah berkelana dari Hawaii sampai Kutub Utara. Dia menginisiasi aksi bersih-bersih untuk membantu masyarakat setempat. Dulunya dia mencari pekerjaan paruh waktu di kedai dan restoran dekat tempat yang dikunjungi, tapi sekarang dia melakoni residensi di berbagai taman nasional Amerika Serikat. Dia juga menggelar lokakarya seni lingkungan selama residensi. Warga diajak memungut sampah sambil belajar melukis.

“Taman Nasional Denali di Alaska paling menggugah inspirasi,” ujar Reading. “Saya berasal dari Maine yang iklimnya sedang, jadi saya merasa takjub bisa melihat hamparan lingkungan di wilayah Tundra, bertemu beruang, menyaksikan bunga liar tumbuh di salju, dan hidup di antara kegembiraan dan ketakutan.”

Lukisan pemandangan Taman Nasional Acadia, Maine pada sarung tangan bekas

Sarung tangan bekas di Taman Nasional Acadia, Maine.

Lukisan pantai Galveston, Texas, pada kamera rusak.

Lukisan pantai Galveston, Texas, pada kamera rusak.

Lukisan laut dan gunung es Antartika pada cangkir kopi

Sampah cangkir kopi di Antartika.

Dia juga tidak bisa melupakan kunjungannya ke Antartika pada saat musim panas. “Orang cenderung lupa dengan perubahan iklim karena tinggal di iklim sedang, tapi akan langsung menyadari seberapa cepat perubahannya jika mengunjungi Kutub Utara dan Selatan. Kalian akan melihat bagaimana lapisan es semakin menipis, dan hewan-hewan kehilangan habitatnya. Pemandangannya cepat berlalu, sehingga saya merasa harus melestarikannya dalam lukisan.”

Lukisan pegunungan pada boneka

Boneka kuda poni tanpa kepala merupakan sampah paling menarik yang pernah Reading temukan.

“Seni mampu membuat manusia terhubung dan terlibat, serta membuat perubahan yang memiliki hubungan mendalam,” tegasnya. “Grafik atau statistik tentang perubahan iklim takkan mungkin bisa melakukan itu.”

Mariah Reading dengan bangga memamerkan karyanya.

Mariah Reading dengan bangga memamerkan karyanya. Harga lukisan berkisar $125-500 (Rp1,8-7,2 juta).

Follow Shamani di Instagram dan Twitter.