teknologi

Menguak Kebenaran Rumor Viral Tiongkok Berhasil Meluncurkan 'Matahari Buatan'

Kabar adanya “matahari buatan” yang menggegerkan medsos tempo hari merupakan pencapaian besar menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Tangkapan layar video viral Matahari buatan Tiongkok
Kiri: Twitter/@raptvcom. Kanan: Twitter/PeterHeater84

Beberapa hari menjelang tahun baru, Tiongkok menggemparkan dunia dengan peluncuran “matahari buatan” selama 17 menit. Matahari buatan itu digadang-gadang lima kali lipat lebih panas dari aslinya, dengan suhu mencapai 70 juta derajat Celsius.

Banyak foto dan video beredar di internet yang menampilkan bola cahaya berpendar di langit. Salah satunya nampak terjadi di siang hari, membuat orang-orang yang menyaksikan di sekitar tempat kejadian menahan napas. Sementara itu, video lain memperlihatkan matahari buatan “mengubah malam menjadi siang hari”.

Iklan

Klaim Tiongkok memiliki matahari buatan telah terbukti keliru, karena rekaman-rekaman tersebut sepertinya berasal dari peluncuran satelit yang juga meninggalkan kepulan asap beberapa minggu sebelumnya. Meskipun demikian, pencapaian Tiongkok dalam “meluncurkan Matahari buatan” sangat mengesankan dan patut diapresiasi.

Kalau bukan “matahari buatan”, lalu bola bercahaya itu apa?

“Matahari buatan” ini sebenarnya adalah reaktor fusi nuklir—alat penghasil listrik dari fusi inti atom hidrogen—yang dikembangkan oleh para ilmuwan Institut Ilmu Fisika Hefei yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok. Mereka sejak lama berambisi meningkatkan sumber energi bersih di negara itu. Reaktor Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) telah beroperasi lebih dari satu dekade dan menelan biaya hampir 1 triliun Dolar AS, setara Rp14 kuadriliun. EAST bukanlah bola energi, melainkan objek berbentuk donat besar yang bertengger dengan nyaman di permukaan Bumi.

Berlokasi di Hefei, ibu kota provinsi Anhui, EAST termasuk dalam proyek lebih besar bernama Reaktor Eksperimental Termonuklir Internasional (ITER) yang berbasis di Prancis. Tiongkok merupakan salah satu dari 35 negara yang berpartisipasi dalam proyek tersebut. EAST berperan sebagai tempat eksperimen yang mendukung tujuan akhir ITER, yakni menciptakan reaksi termonuklir berkelanjutan pada 2035. Dengan kata lain, prestasi terbaru EAST merupakan kemenangan bagi seluruh dunia.

Iklan

Tiongkok mampu mengalahkan rekor yang sebelumnya ditorehkan Prancis pada 2003. Tore Supra Tokamak milik Prancis mempertahankan suhu serupa selama 390 detik, sedangkan EAST dapat bertahan selama 1.056 detik atau sekitar 17 menit. Reaktor fusi nuklir ini telah memecahkan rekor pada Mei 2021, dengan mempertahankan suhu 120 juta derajat Celsius selama 101 detik. Suhunya berkali-kali lipat lebih panas daripada suhu inti Matahari asli sebesar 15 juta derajat Celsius.

“Operasi plasma kali ini bertahan selama 1.056 detik pada suhu mendekati 70 derajat Celsius, memantapkan fondasi ilmiah dan eksperimental menuju pengoperasian reaktor fusi,” peneliti Gong Xianzu dari Institute of Plasma Physics of the Chinese Academy of Sciences (ASIPP) menerangkan dalam siaran pers pada 2 Januari.

Kenapa kita butuh ‘matahari buatan’?

Tiongkok mengembangkan “matahari buatan” bukan untuk menggantikan sumber cahaya Bumi, tetapi menjadi sumber energi. EAST tidak bisa diluncurkan ke langit seperti yang terlihat dalam video.

Pengembangan energi fusi nuklir merupakan tonggak penting menuju terwujudnya energi bersih terbarukan. Dengan mengubah atom hidrogen menjadi helium di bawah tekanan tinggi, para ilmuwan menirukan proses yang terjadi di inti matahari.

Pada reaktor nuklir, hal ini terjadi dalam gulungan plasma—keadaan materi yang sangat panas, sering disebut sebagai wujud materi keempat di luar cair, padat dan gas—yang suhunya sulit dicapai tanpa mengalami kebocoran. Para ilmuwan telah bekerja keras selama puluhan tahun untuk mewujudkan ini. Pencapaian EAST merupakan prestasi besar, tapi netizen yang menyebarkan video tidak menyadari itu.

Tak seperti pembakaran bahan bakar fosil, fusi nuklir mengandalkan atom hidrogen yang berlimpah di lautan untuk menghasilkan energi yang luar biasa jumlahnya tanpa emisi karbon. Berbagai negara berkolaborasi dan berinvestasi besar-besaran dalam proyek ini, karena kehidupan Bumi akan sangat berbeda dengan adanya energi fusi.

Penciptaan sumber energi hijau besar-besaran akan menjadi kemenangan besar bagi dunia dalam transisi global dari sumber energi yang mencemari lingkungan. Dengan demikian, kalian tak perlu takut memandang “matahari buatan”. Tiongkok tidak sedang menyaingi ciptaan Tuhan.