Drake Punya Kasur Seharga Rp6 Miliar, Kami Mencari Tahu Apa Keistimewaannya

Emangnya tidur di situ membuatmu awet muda? Berikut obrolan kami sama Linus Adolfsson yang memproduksi kasur super mewah milik sang rapper top itu.
29.4.20
Rapper Drake Punya Kasur Mewah Rp6 miliar
Kolase foto oleh VICE. Foto Drake via Getty Images / Ilustrasi kasur mewah Rp6 miliar dari arsip Hastens Beds 

Awal bulan ini, Architectural Digest merilis liputan tentang rumah mewah seluas 4,6 kilometer persegi milik rapper asal Kanada, Drake, di Toronto. Bagi kaum millenial dan Gen Z yang ngos-ngosan membayar cicilan rumah/apartemen, rasanya tak ada informasi lebih menghibur dibanding membaca berita tentang pesohor yang rumahnya lebih luas dibanding satu gang jalanan tempatmu ngekos sekarang.

Gilanya lagi, ternyata benda termahal di dalam istana super mewah Drake bukan piano Bösendorfer yang dibuat khusus oleh seniman Takashi Murakami di ruang tengah. Bukan juga instalasi 20 ribu lampu kristal Swarovski di ruang tamu, ataupun lemari dua lantai penuh tas Hermes Birkin yang Drake koleksi untuk "perempuan yang konon jadi pasangannya sekarang."

Ternyata barang paling mewah di rumah itu adalah kasur jahitan tangan dengan ujung kulit, hiasan dari bahan kuningan seberat setengah ton, seharga US$390 ribu (setara Rp6 miliar). Kasur berjuluk "Grand Vividus" ini adalah hasil kolaborasi antara produsen kasur mewah Swedia, Hästens, bersama seniman/desainer Ferris Rafauli.

Mengingat Rafauli sempat mengerjakan beberapa hiasan untuk rumah Drake, sang rapper akhirnya bisa membeli Grand Vividus pertama di dunia, dan satu-satunya yang sudah keluar dari gudang sejauh ini.

Rasanya kurang pas juga sih menyebut Grand Vividus sebagai 'kasur'. Soalnya, kasur ini bukan semacam komoditas massal yang bisa kamu beli di Informa, IKEA, atau toko furnitur biasa. Grand Vividus lebih menyerupai koleksi museum yang hanya bisa ditiduri orang-orang superkaya.

"Di Swedia tidur bukanlah sekadar tidur, tapi momen pemeliharaan diri," ujar Linus Adolfsson, pemilik Hästens Sleep Spa dan tiga toko Hästens di Los Angeles kepada Noisey. "Kasurmu adalah furnitur paling penting di rumah. Di Swedia, kalau sofa ruang tamumu harganya lebih mahal dari kasur, orang justru bingung. Orang Swedia punya sikap yang berbeda saat memaknai tidur."

Orang tua Adolfsson pernah menghadiahinya sebuah kasur Hästens ketika doi masih remaja. Kado kasur ternyata cukup lazim di Swedia. "Saya bukan berasal dari keluarga berada, tapi kasur saya harganya lebih mahal dari mobil keluarga kami," ujarnya. "Orang tua saya sadar pentingnya memberi saya tidur dengan kualitas terbaik."

(Catatan editor: Kalau kamu berbincang dengan Adolfsson selama 5 menit saja, dia bakal sukses meyakinkanmu kenapa kasur Hästens layak dihargai mahal. Emang pinter jualan doi. Itu sebabnya Hästens amat laris di Los Angeles, tempat tinggal banyak pesohor Amerika).

Sebelum Architectural Digest menulis Grand Vividus milik Drake, kasur termahal merek tersebut adalah Vividus ‘Classic’, yang dihargai Rp2,9 miliar. Perbedaan dasar antara versi Classic dan Grand adalah jumlah rambut kuda yang digunakan jadi bantalannya (beneran lho ini), jumlah pegas yang digunakan, dan waktu yang dibutuhkan untuk membuat kasur tersebut karena semuanya handmade.

Empat pengrajin yang telah tersertifikasi khusus bekerja 600 jam untuk setiap Grand Vividus. Padahal satu unit Classic Vividus dapat diselesaikan dalam 300 jam saja. Semua kasur Hästens dibuat menggunakan bahan-bahan alami—kapas, kain lenan, wok dan rambut kuda—dan melibatkan susunan pegas dengan struktur, ukuran, ketinggian yang berbeda-beda.

"Pegasnya terasa seperti…bayangkan kamu rockstar dan sedang meloncat ke kerumunan penonton," ujar Adolfsson. "Rasanya seperti sedang berada di stadion, dan orang-orang menangkapmu ketika kamu stage dive, rasanya seperti melayang."

Sepuluh kasur Grand Vividus telah selesai dibikin. Kendati baru kasur milik Drake yang dikirim, sembilan kasur lainnya sudah dipesan dan dibayar di muka. Hästens memperkirakan para pengrajin seharusnya mampu menyelesaikan 12 kasur Grand Vividus dalam setahun, tapi mungkin proses ini akan ditunda akibat pandemi corona. Sekalipun tingkat produksi melambat, penjualan kasur Hästens lain meningkat sebulan terakhir. "Pemeliharaan diri, tidur, menjaga sistem kekebalan tubuh, semua hal tersebut penting di masa-masa pandemi," ujar Adolfsson.

Drake, saat diwawancarai Architectural Digest, menyatakan kamar tidur utamanya seluas 297 meter persegi. Dia mengangapnya ruangan favoritnya di rumah. Kehadiran kasur mewah Hästens "membuatnya merasa melayang", yang tentu saja diakibatkan pegas yang disebutkan Adolfsson tadi. (Jujur dengan harga segitu, harusnya kasur itu bisa bikin kita awet muda).

Apakah kasur Grand Vividus—yang harganya melebihi gaji rata-rata tahunan di AS—bakal menjadi koleksi wajib baru bagi orang-orang tajir? Mari kita periksa berbagai faktornya. Harganya kelewat mahal, ada citra eksklusivitas karena produksi model sama hanya 12 buah per tahun, dan ada gengsi tersendiri dari gimmick memiliki kasur berlapis kulit seberat setengah ton.

Tampaknya itu semua hal-hal yang digemari orang kaya. Drake sendiri adalah rapper yang diperkirakan punya kekayaan senilai Rp2,3 triliun. Namun alih-alih memiliki studio rekaman profesional atau bak mandi marmer ala-ala tokoh penjahat film James Bond, dia memilih punya kasur seharga Rp6 miliar.

"Saya ingin strukturnya tetap kuat selama 100 tahun. Saya ingin dia terus monumental," ujar Drake. "Ini akan jadi salah satu warisan saya, jadi barangnya harus kuat dan abadi."

Sebetulnya Drake lagi ngomongin rumahnya, tapi kalau kami enggak bilang, kamu mungkin mengira dia sedang ngomongin kasur mewahnya yang bahkan lebih mahal dari rumah orang tajir kebanyakan.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey