Begini Rasanya Pacaran Sama Orang Tajir Arab Saudi
Semua foto dari arsip pribadi Jill Dodd 

Kalian Pikir Enak Punya Pacar Miliarder? Aku Membuktikan Sendiri Efeknya Bikin Eneg

Iya, mantan pacarku itu tajir banget dan punya yacht. Tapi dia juga menulis pesan 'I love you' pakai darah.
23.3.20

Artikel ini adalah nukilan episode terbaru Extremes: podcast eksklusif VICE untuk Spotify berisi cerita orang dengan pengalaman hidup ekstrem yang menarik. Dengarkan cerita lengkapnya di sini.


Pada 1980'an, aku bekarir sebagai model di Paris, Prancis. Usiaku masih 20 tahun kala itu. Aku tidak pernah mencapai status supermodel, tapi berhasil menghabiskan setahun perlahan-lahan memanjat tangga sosial kalangan tajir Paris. Pekerjaan jadi model itu berat, setidaknya aku mulai muncul di berbagai sampul majalah, yang biarpun mungkin terdengar memuaskan, tapi tidak membuatku merasa berbeda sama sekali. Aku tetap tidak puas. Kupikir mungkin perlu menjalani hubungan romantis supaya hidup dan pekerjaan terasa lebih imbang.

Suatu hari di musim panas, agen memintaku pergi ke acara pesta di Monte Carlo saat akhir pekan. Karena aku tahu tidak pernah ada yang gratis di dunia permodelan, aku menanyakan biaya tiket dan hotelnya. "Oh, enggak, enggak perlu bayar," jawabnya. "Yang ini gratis!"

Aku curiga, namun tetap ikut pergi karena merasa butuh liburan.

1584561378369-1-Boat-Docks-White-skirt

Jill saat masih di dunia modeling pada 1980

Setiba di hotel, aku dan tamu undangan lain menghabiskan waktu seharian duduk di pinggir kolam renang menyeruput minuman-minuman mewah, ngobrol-ngobrol sama kenalan baru, dan menikmati pemandangan Monte Carlo yang indah. Malam itu, agen mengantarku menggunakan mobil limo menuju pesta bertema bajak laut di pinggir Laut Mediterania. Acaranya outdoor, lengkap dengan api unggun dan musik gipsy live.

Setelah di pesta itu beberapa menit, aku menyadari seorang lelaki lebih tua mengamatiku dari jauh. Mungkin kedengarannya seram ya, tapi saat itu aku tidak merasa cemas dengan kehadirannya. Dia menghampiri dan kami mulai joget di atas pasir pantai. Kami melempar gelas sampanye ke dalam api unggun yang berkobar hebat, bersama dengan beberapa kursi kayu. Aku dan lelaki tua itu sama-sama mulai mabuk.

Kemudian kami duduk bersama di meja besar. Dia menatap mataku dan mendorong lengan gaunku ke atas, lantas menulis “I love you” di lengan menggunakan darahnya sendiri. Ternyata dia tadi sempat melukai dirinya sendiri menggunakan potongan gelas. Aku enggak tahu siapa lelaki ini tapi aku malah tertarik sama sosoknya.

Ternyata lelaki itu bernama Adnan Khashoggi. Dia penjual alutsista militer dari Arab Saudi. Pada dekade 80'an, dia salah satu seorang lelaki terkaya di dunia. Adnan memiliki banyak bisnis selain jualan senjata, serta punya banyak rumah dan bekas istana di berbagai negara. Dia juga dikenal karena memiliki banyak “mainan” mahal—pesawat terbang pribadi terbesar di dunia, dan sebuah kapal yacht ultramewah bernama The Nabila.

Tolong diingat peristiwanya terjadi pada 1980'an dan Internet belum ada. Aku enggak bisa langsung googling siapa Adnan ini. Jadi aku harus menganalisa semuanya sendiri. Sepanjang proses mengenal dan akhirnya dekat sama Adnan, aku menyadari betapa pacaran dengan seorang miliarder enggak seseru yang dikira banyak orang. Berikut beberapa pelajaran yang kupetik setelah mengalaminya sendiri:

Punya Harta Melimpah Bikin Kepribadian Orang Jadi Aneh

Keesokan hari setelah pesta dan pesan darah tadi, aku bertemu Adnan buat makan siang. Kami bertukar nomor telepon. Beberapa minggu kemudian dia menerbangkanku ke Spanyol. Dalam pertemuan kedua itu, dia tidak ragu memintaku menjadi pacarnya. Lebih dari itu sih, lebih mirip istri sirinya. Gobloknya, karena terpikat sama harta yang dia miliki, aku langsung mengiyakan, dan setelah itu aku menjadi bagian dari pion catur dunianya.

Awalnya, semua kekayaan yang kudapat terasa baru, asing, dan menarik. Tapi setelah beberapa saat, aku mulai terbiasa. Suatu kali di Kenya, Adnan memberiku sebuah cincin permata 20 karat yang besar. Aku sempat menolaknya karena rasanya kemahalan. Tapi seiring waktu aku melihat perempuan lain mengenakan perhiasan mewah macam ini dan mulai menginginkannya juga. Gaun mewah menjadi kostum makan malam yang normal. Aku mulai rutin makan makanan lezat, sehat dan dibuat oleh koki khusus. Aku selalu diantar-antar ke mana-mana menggunakan limo dan pesawat pribadi.

Lama kelamaan, aku mulai menginginkan gaya hidup bak raja-ratu ini, bahkan ketika sedang tidak bersama Adnan. Ketika pulang ke rumah di Los Angeles untuk bekerja sebagai model, aku meraa harus pergi ke restoran fine dining. Seakan enggak bisa lagi makan di restoran biasa. Teman-teman dekatku jelas tidak mampu membayar untuk makan di situ, jadi aku pergi dengan seorang kenalan yang profesinya dokter dan cukup tajir. Gaya hidupku berubah.

Buat makan doang, aku harus mengenakan pakaian high-fashion mewah di ruangan dengan lilin dan taplak meja linen putih, dilayani pelayan berseragam putih. Aku sudah benar-benar termakan dengan gaya hidup ini, tapi bahkan belum sadar saat itu. Ketika aku sedang menghabiskan waktu bersama teman-teman dekat, kadang aku kangen dengan gaya hidup mewah itu. Aku jadi tidak terbiasa dengan hidup yang biasa saja. Aku terlalu mencintai kemewahan.

1584561442480-26-Spain-Helicopter

Jill dan Adnan saat liburan di Spanyol.

Orang yang Kaya Banget Biasanya Tidak Gampang Puas

Sekitar setahun berhubungan sama Adnan, aku mulai mengalami kecemasan akut. Apapun yang kulakukan tidak bikin bahagia. Kepalaku terasa berputar-putar. Aku mulai punya sifat seperti Adnan, selalu mencari “sensasi” berikutnya: mainan baru, kontrak bisnis baru yang menggiurkan, atau bahkan menjajal narkoba.

Sama seperti Adnan, aku terobsesi mencoba mengisi kekosongan dalam jiwa. Masalahnya, ketika kamu memiliki opsi tidak terbatas karena duit melimpah, kamu seakan tidak punya opsi. Paradoks ya. Kekayaan justru bikin kamu galau. Buat apa juga memilih sesuatu kalau kamu bisa punya semuanya? Semua cita-citaku dulu untuk bekerja keras demi meraih kesuksesan finansial jadi berasa tidak ada artinya.

1584561563168-31-Me-in-Jewelry

Aku didandani kalung berlian mahal untuk sesi pemotretan majalah

Orang Superkaya Selalu Dikelilingi Manusia yang Ada Maunya

Aku tidak pernah merasa cemburu di awal hubungan kami. Adnan menganggapku pasangan favoritnya, karena dia selalu menghabiskan waktu kosongnya denganku, bukan sama istrinya yang sah. Tapi ketika aku mulai sibuk sekolah Desain Fashion di LA, dan kesibukanku membuat kami jarang nongkrong bareng, Adnan mulai menghabiskan waktu dengan perempuan-perempuan lain yang lebih rendah pendidikannya. Ada yang pecandu narkoba, ada yang memang hanya mengejar uangnya saja. Aku merasa tidak seperti mereka. Aku yang sekolah dan punya karir ini jelas lebih oke dong dari pecun tukang morotin harta orang kaya. Begitu pikirku dulu.

Tapi kemudian suatu malam kami, para perempuan Adnan, sedang berada di sebuah konser di Las Vegas, dan salah satu dari mereka memamerkan cincin yang baru Adnan berikan. Cincinnya sama persis dengan yang diberikan kepadaku. Perutmu terasa kayak ditonjok saking cemburunya. Itu adalah awal dari kehancuran hubungan kami.

1584561619428-36-Sit-on-Sand

Klise Sih, Tapi Uang Betulan Tak Bisa Membeli Kebahagiaan Lho

Kami putus tidak lama setelah insiden malam di Las Vegas itu. Aku ternyata lega. Aku menyadari kalau hidup mengejar kebahagiaan lewat harta benda itu seperti mengejar bayanganmu sendiri. Aku sadar tidak ada benda sakti atau jumlah kekayaan yang bisa membuat seseorang merasa penuh dan damai.

Kedamaian tidak ditemukan di benda, kuasa, status, atau kekayaan. Kedamaian jangka panjang hanya bisa ditemukan dalam diri dan perjalananmu ke sana adalah sesuatu yang pribadi.

Aku semakin bisa menerima kekurangan dan kesalahanku. Aku gampang bersyukur dan tidak menghakimi setelah sekarang sudah tua. Aku mendapatkan kepuasan karena disayangi teman-teman dan keluarga. Aku pun bisa menciptakan karya seni menggunakan talenta sendiri yang kumiliki. Dan yang paling penting, aku kini tahu cara mendengarkan dan menghormati suara batinku, tanpa harus silau dengan indahnya dunia.

Follow Jill di Instagram

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia