Restoran yang menghadap Laut Hitam di kota Gerze. Semua foto oleh Mathias Depardon.
Restoran yang menghadap Laut Hitam di kota Gerze. Semua foto oleh Mathias Depardon.
Fotografi

Seri Foto Ini Merekam Transformasi Turki Jadi Makin Nasionalis di Era Erdogan

Selama berkuasa, Presiden Erdogan berambisi membuat Turki jadi negara Muslim berpengaruh layaknya Ottoman. Seorang fotografer merekam dampak ambisi itu pada keseharian warga.
Pierre Longeray
Paris, FR
25.1.21

Selat Bosporus membelah Istambul menjadi dua bagian. Satu berada di Eropa, satunya lagi di sisi Asia. Sebelum menjadi bagian dari Turki modern, wilayah ini dulunya merupakan pusat Kekaisaran Ottoman yang membentang dari Yaman hingga Austria dan dari Azerbaijan hingga Tunisia di puncak kejayaannya pada 1683.

“Saya tertarik membangkitkan Neo-Ottomanisme [dalam karya foto],” tutur fotografer Mathias Depardon yang menerbitkan buku Transanatolia. “Ada sentimen tersebut dalam strategi pemerintah saat ini, yang membantu Presiden Erdogan mendapatkan dukungan dari pemilih sayap kanan.”

Iklan

Sampul buku foto Depardon menggambarkan noda darah besar yang menyerupai daerah kekuasaan Ottoman.

Ideologi politik neo-Ottomanisme mempromosikan keterlibatan politik Turki di wilayah bekas Kekaisaran Ottoman. Posisi Turki di bawah kepemimpinan Erdogan telah bergeser dari sekutu Barat, anggota NATO, kandidat Uni Eropa, hingga negara Islam terkuat di dunia.

Selama 10 tahun terakhir, Turki campur tangan dalam konflik di negara-negara Islam, seperti Irak, Suriah, dan Libya. Negara ini juga terlibat dalam sengketa Nagorno-Karabakh yang terjadi antara Azerbaijan dan Armenia. Eksplorasi migas agresif Turki di perairan Mediterania Timur bahkan memicu konflik dengan Yunani. Menurut fotografer, Erdogan menganggap dirinya sebagai “penguasa dunia Turki-Muslim”.

Pemanah dalam kejuaraan internasional Conquest Cup yang diadakan di Okmeydani, Istambul.

Pemanah dalam kejuaraan internasional Conquest Cup yang diadakan di Okmeydani, Istambul.

Pada 2017, Depardon sedang menjalani proyek majalah National Geographic ketika pihak berwajib menangkapnya atas tuduhan tidak punya kartu pers. Fotografer asal Prancis ini dideportasi setelah menjalani masa tahanan 32 hari. Saat itu, Depardon melaporkan rencana pembangunan bendungan di sungai Tigris dan Efrat yang menghasilkan listrik dan menjadi sumber irigasi.

Total 22 bendungan ini dikhawatirkan menciptakan ketegangan antar negara sebab aliran air ke Suriah dan Irak akan sangat terdampak. Tahun lalu, bendungan Ilısu di sungai Tigris memicu banjir di kota tua Hasankeyf. Ribuan warga mengungsi karenanya.

Tepi sungai Tigris yang tak jauh dari kota tua Hasankeyf.

Tepi sungai Tigris yang tak jauh dari kota tua Hasankeyf.

Dalam bukunya, Depardon menyoroti pengaruh Turki di perbatasan negara dan sekitarnya, dari Laut Hitam dan Azerbaijan hingga Turkistan Timur — asal-usul orang Uighur di Xinjiang.

“Burger King menawarkan ‘menu Sultan’ saat saya masih tinggal di Turki,” ujarnya. “Acara TV populer sering mempertontonkan periode Ottoman.”

Depardon membeberkan nostalgia semacam ini bisa dilihat di mana saja, seperti restoran kecil yang menghadap ke Laut Hitam. Ada monumen jet tempur di sebelah restoran. Presiden Erdogan dibesarkan di kawasan pesisir Laut Hitam, yang merupakan basis terbesar Partai Keadilan dan Pembangunan (PKP). Erdogan memimpin partai itu.

Transanatolia memperlihatkan betapa besar perubahan yang dialami Turki berkat semangat nasionalisme Erdogan. Buktinya terpampang nyata di Başakşehir, sebuah kawasan elit yang dipenuhi gedung dan masjid megah di Istambul. Klub Sepakbola Başakşehir bahkan menjunjung tinggi nilai-nilai konservatif PKP yang bertentangan dengan prinsip sekularisme negara.

Başakşehir di Istambul.

Başakşehir di Istambul.

Selain dipenjara, Depardon tak jarang kena razia polisi. “Anggap saja ada ketegangan di daerah ini,” katanya.

Penangkapan jurnalis kerap terjadi selama masa pemerintahan Erdogan. Sepanjang Januari 2021, sudah ada 67 wartawan yang ditangkap karena menjalani tugasnya. Itulah mengapa Transanatolia pertama kali diterbitkan di Prancis, meski akhirnya diterbitkan juga oleh penerbit kecil MAS Matbaa di Istambul.

Depardon belum diizinkan memasuki Turki lagi, sehingga dia hanya dapat mengunjungi sepanjang tepi negara. Dia terus menyelidiki “perang air Mesopotamia”, atau kendali Turki atas sumber air di wilayah tersebut. Meski masih berharap bisa pergi ke sana suatu saat nanti, dia mengatakan proyek ini “mengakhiri petualangannya” di Turki.

Iklan

Berikut foto-foto Depardon selama di Turki.

Petinju yang mengikuti pertandingan oil wrestling di Edirne, barat Turki.

Petinju yang mengikuti pertandingan oil wrestling di Edirne, barat Turki.

Tiga perempuan duduk di dalam rumah yang berada di kota Hasankeyf.

Tiga perempuan duduk di dalam rumah yang berada di kota Hasankeyf.

Dua laki-laki berpose di depan bagasi mobil.

Dua laki-laki berpose di depan bagasi mobil.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE France.