Break the Stereo

Dapur Menjadi Rumah Nomaden Bagi Rahung

Rahung Nasution, sosok multitalenta yang mendalami tato, video, sekaligus kuliner nusantara, berbagi kisah hidupnya sebagai petualang nomaden dalam episode baru VICE x AXE.
1.5.17

Rahung Nasution adalah petualang sejati.

Dia sosok multitalenta yang langka di Indonesia, terobsesi merantau sejak remaja. Keinginan itu sudah dia pendam ketika masih tinggal di Sayurmatinggi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Keinginan pergi dari kampung halaman muncul mulanya karena siaran televisi. Dia masih ingat, saat itu dekade 80-an, satu-satunya saluran televisi yang tersedia bagi orang Indonesia cuma TVRI. Rano Karno, pemain film yang kini menjabat Plt Gubernur Banten, adalah sosok idola masa remajanya. Mimpi terbesar yang dihasilkan TVRI bagi anak muda Indonesia saat itu adalah menyaksikan gemerlap Jakarta. Rahung tak luput dari efek serupa akibat film televisi yang tayang di layar kaca.

Iklan

"Dulu mimpi saya melihat Rano Karno di Cerita Akhir Pekan," kata Rahung, yang menemui kami setelah sibuk memasak ikan memakai baluran bumbu rempah khas Lombok dan Batak. Dia diundang memasak oleh salah satu kawannya yang tinggal di Cipete, Jakarta Selatan.

"Saya dulu ingin ke Jakarta, lihat Monas, naik pesawat terbang, sama ke luar negeri. Itu mimpi masa kecil saya. Cuma itu keinginan saya, sederhana," imbuhnya.

Usia 14, dia nekat meninggalkan orang tuanya tanpa pamit, mengejar semua cita-cita tersebut. Lelaki yang kini berusia 41 tahun itu merantau ke berbagai tempat. Mulai dari Muarabungo, sampai dengan ke Jakarta. Sempat merasakan SMA di Yogyakarta, sampai ke Surabaya. Setelah SMA Rahung mengalama masalah finansial, gagal di UMPTN. Dia akhirnya menjalani profesi sebagai Petualang. Rahung adalah seorang nomaden yang menjadikan bumi ini rumahnya. Dia merobohkan stereotipe khas lelaki di negara ini yang seharusnya menjalani hidup penuh kemapanan.

Orang tua Rahung sehari-hari bertani. Kegagalan masuk kuliah itu memantabkan hatinya merantau lebih jauh. Dia tak rela orang tua menjual tanah agar dia bersekolah. Sejak gagal UMPTN, dia memutuskan belajar otodidak tentang beragam topik, belajar dari alam, serta menimba ilmu dari teman-teman baru. Dia bertualang ke Timor Leste, pedalaman Kalimantan, dan akhirnya 'menetap' agak lama di Jakarta.

Dia menjalani bermacam profesi; sebagai blogger, seniman tato, sampai kemudian satu dekade belakangan dia mendalami masak-memasak. Dia membuat dokumenter perjalanan di situs Youtube, lalu sempat menjadi host acara Foodieography yang tayang di salah satu TV kabel nasional.

Iklan

Berikut cuplikan obrolan VICE Indonesia bersama Rahung. Kami membahas motivasinya terus menjadi petualang nomaden, serta mendengar alasannya mendalami dunia masak walau ogah disebut chef.

Dirimu bisa disebut sebagai nomad traveller. Selalu berkeliling, tanpa mematok target kembali ke rumah. Apa motivasi yang melatarinya?
Semakin saya sering berjalan saya melihat banyak tempat. Itu seperti menemukan buku yang kita baca satu, terus merasa engga puas. Ingin mencari hal-hal lain di buku yang lain. Kalau seorang perantau tidak pulang, misalnya, ke kampung halamannya lebih dari 3 tahun, saya yakin dia akan mencari kampung-kampung halaman yang baru. Dia akan mengobarkan rasa rindunya dengan cara yang macam-macam. Saya melampiaskan kerinduan terhadap kampung halaman dengan cara memasak. Saya suka memasak, itu kebiasaan yang Ibu ajarkan selagi masih kecil.

Apa sih daya tarik menjadi petualang nomaden? Apa bedanya dengan travelling biasa?
Ini semacam keinginan pergi ke tempat-tempat lain dan tidak pernah puas akan satu hal. Selalu ingin tahu akan lebih dari satu hal. Karena tadi saya juga tidak punya kesempatan mendapatkan pengetahuan formal di universitas. Kemudian saya mencari kebutuhan akan ilmu pengetahuan itu lewat jalan-jalan dan berpergian ke banyak tempat, bertemu banyak orang, berinteraksi dengan banyak kebudayaan.

Bagaimana cara menentukan destinasi yang hendak disambangi bila kita seorang nomad traveller?
Dulu saya memutuskan sekolah di Yogyakarta, karena seperti pemuda-pemuda yang lain yang ada di Indonesia, Yogya itu seperti kiblat untuk pendidikan. Jadi orang datang ke sana punya harapan-harapan besar, mereka yakin itu kota pelajar. Di sana tempat untuk menimba ilmu, memperoleh pendidikan yang lebih baik. Kemudian ketika saya di Yogya cukup lama, ada semacam kejenuhan di satu tempat itu. Kejenuhan itu membuat saya memutuskan pergi ke tempat lain. Saya cari tempat yang baru, yang menantang. Saya memutuskan pindah ke Bali, kemudian ke Timor Leste. Awalnya tidak terduga-duga. Kadang perjalanan direncanakan, tapi kita tidak punya bayangan sampai kapan akan di sana. Misalnya, ketika saya pindah ke Timor Leste itu hanya kunjungan. Rencananya hanya tiga bulan. Tapi tiga bulan berakhir dengan 6 tahun kan. Yah, cukup mengejutkan juga.

Iklan

Berarti dari semua lokasi, ada banyak tempat yang bisa dibilang "rumah" untuk Rahung. Definisi rumah bagimu sekarang seperti apa?
Ooh… bagi saya jelas rumah itu adalah Akar. Ya. Akar Kita. Saya tidak bisa mengingkari akar saya yang ada di Tanah Batak sana. Tapi rumah kan bagi orang juga kenyamanan. Di mana dia merasa nyaman dan di mana dia merasa diterima, itulah rumah. Seperti berada di kampung halamannya sendiri. Tempat-tempat seperti itu ada dalam perjalanan saya yang saya temukan. Saya selalu merasa merindukan tempat yang selalu saya ingin pulang ke sana. Yogya misalnya, Timor Leste, atau di pedalaman Kapuas Hulu Kalimantan. Di sana saya betah dan merasa seperti di kampung halaman sendiri. Perlakuan mereka, cara mereka menerima kita. Kampung halaman saya yang asli memang ada opung kita, Ayah, ada Ibu. Tapi di "kampung baru" sana ada ikatan yang melewati batasan-batasan itu.

Kamu dikenal sebagai pemerhati kuliner nusantara, tapi kenapa tidak suka dipanggil sebagai koki?
Memasak itu bagi saya karena kebiasaan ya. Saya memasak sejak masih SD bahkan sampai SMP ketika saya di kampung. Ibu selalu mengajari saya untuk memasak. Itu karena kebiasaan yang awalnya menurut saya terpaksa. Ibu pergi ke sawah jam 6 pagi atau jam 7 pagi. Pulang jam 5 atau jam 6 sore. Karena saya anak yang paling besar di keluarga, dikasih tanggung jawablah. Diajari memasak. Kalau nanti ibu pulangnya kesorean, jam 6-an, setidaknya adik-adik sudah bisa makan. Tidak perlu menunggu ibu memasak lagi. Jadi sebenarnya itu keterpaksaan yang menjadi kebiasaan. Saya tidak pernah menganggap memasak suatu pekerjaan yang luar biasa. Memang kebiasaan saja, gak pernah punya mimpi juga untuk dianggap orang bisa memasak dan dianggap sebagai chef. Karena pengetahuan saya untuk bisa memasak itu kebiasaan yang diajarkan oleh ibu.

Menurut perspepsi Rahung, ekspektasi menjadi laki-laki yang seutuhnya di Indonesia tuh seperti apa sih?
Kebudayaan di Indonesia ini menuntut laki-laki "bertanggung jawab". Kita lahir dari kultur yang sangat patriarkikal. Dari garis ayah gitu. Tapi dalam kebudayaan yang lain, misalnya Minangkabau, kan tidak seperti itu. Matriarkikal dia, namanya Bundo Kanduang. Kebudayaan terpusat pada sosok Mamak. Nah, hal-hal seperti itu tidak banyak. Jadinya ada unsur budaya dominan yang membentuk laki-laki di negara ini. Ada standarisasi.

Maskulintas lebih pada tanggung jawab sebenarnya, yang kemudian bisa bergeser kepada hal-hal seperti lebih jago, lebih berani, yang lebih berotot. Itu padaha artian yang lebih sempit. Maskulinitas itu menurut saya awalnya adalah tanggung jawab seorang ayah yang berharap kepada anak agar menjadi seperti dirinya atau lebih dari dirinya. Kemudian berkembang ke mana-mana. Misalnya ayahnya gagal bermain sepak bola, karena mimpinya main sepak bola, lantas ingin anaknya jadi jagoan main sepak bola. Semua citra-citra soal lelaki itu, sebenarnya beban-beban yang kita wariskan kepada generasi di bawah kita. Kita punya mimpi-mimpi terhadap anak kita, orang-orang yang kita anggap harus menjadi laki-laki ideal. Artinya konsep maskulintas di negara kita sudah berbeda jauh dari tanggung jawab dasarnya. Padahal dalam kehidupan sosial, mestinya tanggung jawab itu kan tidak hanya urusan laki-laki.