Sports

Ahli Menerobos Lapangan Olahraga Tanpa Busana Berbagi Tips Agar Kita Sesukses Dirinya

Mark Roberts adalah penerobos lapangan profesional. Dia sukses menaklukan Final Liga Champions, pertandingan tenis di Wimbledon, Super Bowl di AS, serta menembus lebih dari 500 acara olahraga lain, semua tanpa busana. Dia tak pelit berbagi ilmu!
23.11.16
Foto oleh PA Images

Artikel ini pertama kali muncul di VICE Sports UK

Ayo kita tebak-tebakan: Siapa warga Inggris yang pernah muncul di Olimpiade, Super Bowl, Grand National, final Liga Champion, Commonwealth Games, final Wimbledon, French Open, Ryder Cup, hingga di beberapa pertandingan penting Premier League? Tidak tahu?

Jawabannya adalah Mark Roberts. Bukan cuma Roberts yang penting dibahas. "Anunya" pria eksentrik itu punya andil tak kalah besar dalam cerita kali ini.

Iklan

Roberts—pelukis berusia 52 tahun asal Liverpool—merupakan pemegang rekor dunia menerobos lapangan olahraga tanpa busana. Sejauh ini dia sukses 556 kali menerobos bermacam arena olahraga, 70 di antaranya terjadi di acara olahraga besar yang disorot media internasional. Sempat beredar kabar jika dia memutuskan pensiun dari urusan menerobos lapangan. Ternyata rumor belaka.

"Gue butuh energinya," kata Roberts pada VICE Sports. "Kalo cuma kerja rutin harian, gue bakal gila. Semua orang kan butuh pelampiasan. Nah ini pelampiasan gue. Tegang abis, penuh adrenalin. Seru pokoknya."

Pertanyaan pentingnya, kita perlu memahami cara Roberts selalu sukses menerobos event-event olahraga tanpa busana. Apa ada tips dan trik tertentu?

Roberts—seperti diduga tak pernah menggunakan bahasa Inggris baku yang baik dan benar—berbaik hati memberikan saran bagi kalian semua, para pemula yang tertarik membangun karir di bidang menerobos lapangan. Begini rinciannya:

Roberts berpose ketika diwawancarai VICE Sports. Untungnya saat itu dia sedang berbusana. Foto oleh Mike Henson.

Persiapan itu penting

"Orang sering ngira gue tinggal dateng, buka baju terus ngibrit ke lapangan—engga segampang itu bung," kata Roberts.

Aksi debut telanjang Roberts terjadi pada 1993 di pertandingan rugby Hong Kong Sevens. Kala itu dia memang tidak melakukan terlalu banyak persiapan. Modalnya cuma berliter-liter alkohol dan keinginan memenangkan taruhan dengan beberapa orang yang dia temui di bar. Sekembalinya ke Inggris, dia tersadar bila sistem keamanan di acara-acara olahraga negaranya lebih ketat dan cuacanya lebih dingin. Tantangan ini membuat dia harus lebih mempersiapkan diri. Aksi telanjang pertama Roberts di tanah kelahirannya Inggris, terjadi Januari 1995, saat klub sepakbola Liverpool bertanding melawan Arsenal di Stadion Anfield pada turnamen League Cup.

Iklan

"Gue lagi nonton pertandingan itu di bar. Sampah abis pertandingannya. Ya udah gue bilang aja ke teman-teman, 'Taik lah, gue terobos juga nih lapangannya.'"

"Gue naik taksi 10 menit menuju Anfield, cuman pas sampai sana ada satpam di pintu masuk. Kebetulan ada anak-anak kecil lagi main bola di luar stadion, terus mereka gue suruh nendang bola ke arah petugas keamanannya. Dia kesel, ngejar anak-anak itu. Gue tinggal lari nerobos pintu masuk deh."

"Gak lama kemudian gue push-up telanjang di titik penalti gawangnya David Seaman [kiper Arsenal]."

Lambat laun Roberts semakin ahli menyusup di stadion dalam maupun luar negeri. Sebelum Roberts menerobos Final Super Bowl 2004, dia merencanakan aksinya penuh perhitungan ala-ala Jason Bourne. Dia mengutus seorang teman menghadiri pertandingan di Stadion Reliant, Kota Houston, Amerika Serikat, khusus buat memotret sistem keamanan di sana. Kawan Roberts itu, yang bernama Mick, selanjutnya menjadi 'umpan' berpura-pura menjatuhkan ponsel ke lapangan. Dia jadi punya alasan masuk lapangan mengambil kembali ponselnya, sekaligus mengalihkan perhatian petugas keamanan.

"Gue sadar engga bisa main loncat turun aja soalnya lapangan Super Bowl kan terbuka gitu. Semua orang bakal liat gue lari dari jauh. Makanya selain ada Mick, gue pake baju wasit, gue jadi bisa nyampur soalnya kan banyak tuh petugas resmi yang seragamnya kayak gitu."

"Gue beli dua seragam wasit NFL resmi. Satunya gue kirim ke tukang jahit di Liverpool. Lipatannya diganti pake velcro semua. Pas sampe rumah gue pake, tapi dimodif dikit, jadi satu tarikan doang bajunya bisa langsung lepas semua."

Iklan

"Rasanya seru banget. Dari situ gue tau rencana gue bakal sukses."

Invasi Roberts di Super Bowl merupakan pencapaiannya yang tertinggi.

Para penerobos lapangan, menurut Roberts, juga harus selalu siap siaga dan berpikir layaknya penonton pertandingan olahraga.

"Pas hari H pertandingan, begitu bangun tidur perut gue mules, terus gue deg-degan. Gue engga mau ngomong sama siapa-siapa. Otak gue terus muter mikirin semua kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi," ungkap Roberts.

Kadang-kadang—biarpun sudah membuat rencana A sampai Z—pada akhirnya nekat tetap modal utama. Rencana Roberts pernah hampir gagal gara-gara seorang petugas menemukan lapisan velcro miliknya saat dia nyelonong masuk ke arena Super Bowl 2004.

"Gue improvisasi aja. Gue bilang sama si satpam, lagi ada penyakit kulit dan mesti sering-sering ngolesin krim di kaki," jelasnya. "Pas dia ngebuka pakaian atas gue dan ngeliat seragam bergaris-garis, gue bilang aja itu jimat keberuntungan yang selalu gue pake tiap kali datang ke pertandingan."

Di sebuah pertandingan La Liga antara Real Madrid dan Mallorca, Roberts memanfaatkan sisi sentimental seorang pelayan. Dia meminta pelayan tadi membuka gerbang, membiarkannya turun ke bagian depan penonton, memakai alasan hendak melamar wanita pujaannya.

Dalam kasus berbeda, Roberts punya tips lain. Jika kalian calon penerobos lapangan sudah dapat posisi duduk yang enak, wajib hukumnya langsung berbaur dengan penonton lain. "Elo harus terlihat seperti penonton lainnya. Gue berteriak dan bersorak seperti penonton, cuma emang sambil terus memantau petugas keamanan. Gue nunggu peluang yang bagus buat beraksi."

Iklan

"Duduk di samping petugas keamanan aja gue pernah, cuman selama elo keliatan normal, elo gak akan menarik perhatian. Ini bikin gue jadi pede. Berarti strategi gue sukses."

Foto PA

Perhatikan Waktu dan tempat

Kapan kita tahu timing-nya pas buat nekat lari ke tengah lapangan? Ini agak susah, tapi bisa dipelajari.

"Aksi elo mesti jadi semacam hiburan terpisah dari pertandingannya," kata Roberts. "Timing elo mesti pas banget—kalo elo ngerusak jalannya pertandingan pas lagi seru-serunya elo bisa dihujat sama suporter."

"Gue maunya satu stadion bersorak buat gue—termasuk polisi dan atlet yang lagi main."

Di pertandingan sepak bola, momen paling pas adalah tepat sebelum babak kedua dimulai—ketika tim mulai berbaris dan penonton masih segar sesudah turun minum.

Bagi kebanyakan orang, lari telanjang di sebuah pertandingan olahraga sudah dianggap lumayan gila, namun Roberts tak gampang puas.

"Gue selalu berusaha ke tengah lapangan. Gue sebut itu titik G-spot soalnya ketika elo nyampe sana, semua orang bersorak."

"Elo mesti selalu ada tujuan yang jelas. Pas di final Liga Champion 2002, gue pengen nyetak gol."

"Gue sok-sok mau salaman sama wasit soalnya gue tahu dia pasti kabur. Begitu dia kabur, gue ambil bolanya dan lari ngelewatin bek-bek Bayer Leverkusen. Gue tendang bolanya ke pojok gawang terus gue ngerayain gol gue sambil ngesot pake lutut ala-ala Arjen Robben."

"Pas gue berdiri, gue baru sadar penontonnya bersorak rame banget. Bahkan Raja Spanyol juga ikut-ikutan berdiri dan ngasih tepuk tangan."

Iklan

"Elo mesti dikejar-kejar," kata Roberts. "Inilah hiburannya buat penonton. Butuh berapa orang buat nangkep gue."

"Abis gue ngegolin di Liga Champion, gue berusaha ngasih sinyal ke petugas buat ngejar gue. Cuman mereka semua sibuk ketawa sendiri. Ya udah akhirnya gue jalan keluar aja."

Pihak keamanan di stadium Old Trafford, markas Manchester United, seingat Roberts lebih tidak santai saat melihat dia beraksi. Roberts diserbu enam orang petugas keamanan sebelum akhirnya diserahkan ke polisi.

Siap-siap membela diri

Konsekuensi yang diterima Roberts karena menerobos lapangan tanpa pakaian kadang-kadang tak kalah aneh. Setelah Roberts 'merusak' debut David Beckham sebagai pemain Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu—karena mengenakan bola disko di selangkangan—dia ditahan di sebuah ruangan gelap. Roberts diteriaki polisi setelah lampu diskonya terus menyala.

"Mereka memaksa gue matiin lampu diskonya, cuman masalahnya tombolnya ribet jadi gue mesti ngaduk-ngaduk daerah selangkangan sampai ketemu tombol yang bener. "

"Kalo di Inggris, biasanya gue berusaha bikin polisi ketawa aja."

"Tindakan gue emang melanggar hukum. Bos-bos polisi biasanya benci sama gue, cuman petugas-petugas level bawah biasanya malah suka dan santai-santai aja."

Ini tips lain. Jika beraksi di luar Inggris, yang polah atlet ataupun polisinya belum dia hafal, Roberts memilih berhati-hati.

Pada final American Football 2004, Roberts ditubruk seorang linebacker, lalu akhirnya polisi mudah meringkusnya. Dia baru sebentar berjoget di lapangan sambil mengenakan bola American Football kempes yang diikat di kemaluannya.

Iklan

"Ketika ditanya polisi alasan gue invasi lapangan, gue bilang aja berusaha menghibur penonton Amerika."

"Di kantor polisi, para petugas akhirnya minta gue tanda tangan foto catatan kriminal gue buat teman dan keluarga mereka."

Nah, kalau kasusnya sudah masuk persidangan, strateginya harus sedikit lebih canggih.

Dalam penerobosan event besar sekelas Super Bowl, Roberts menyembunyikan nomor telepon pengacaranya di dalam sepatu, supaya dia bisa langsung mengusahakan agar hukumannya dikurangi.

Saat hampir lama dipenjara di Texas, Roberts berhasil memilih pengacara jempolan, mengurangi ancaman hukuman bui menjadi denda $1.000 (setara Rp13,4 juta saja).

Aksi Roberts di tengah pertandingan Real Madrid yang direkam oleh penonton.

Cari sponsor

Kalau atlet Premier League bau kencur saja bisa dapat sponsor, apalagi pria yang menjadi pusat perhatian 120 juta penonton seluruh dunia? Berhubung banyaknya denda yang diterima Roberts (biasanya di kisaran £4.000 atau Rp67 juta) saban beraksi, Roberts memang sangat butuh sponsor.

"Tahun 2002 itu paling berkesan. Gue menaklukan final Liga Champion, final tenis pria Wimbledon, dan Commonwealth Games."

"Setelah itu gue mulai dapat banyak perhatian. Banyak orang menghubungi dan bilang, 'Elo pilih aja event olahraga yang elo mau, kita akan bayarin pesawat dan semua biaya lainnya."

Roberts mengenakan stensilan bertuliskan Golden Palace—sebuah situs kasino online Amerika—ketika menginvasi Super Bowl. Golden Palace membayar semua akomodasi Roberts, termasuk melunasi dendanya. Hasilnya? Pengunjung website mereka meningkat 400 persen.

Iklan

Aksi invasi Roberts dalam pertandingan Mallorca melawan Real Madrid juga disponsori sebuah bar lokal. Selepas aksinya malam itu, dia dihadiahi satu botol champagne Ace of Spades seharga £500, setara Rp8.400.000.

Sebelum konsep viral marketing ditemukan, Roberts sudah melakukannya secara gila-gilaan.

Yang terpenting: bikin orang tertawa

"Gue pernah naik bus bareng anak, terus ketemu wanita tua. Dia bilang ke anak perempuan gue, dia mesti bangga karena ayahnya menghibur banyak orang."

"Gue selalu berusaha engga menyinggung siapapun. Ujung-ujungnya invasi gue ke lapangan cuman sebatas humor visual yang engga penting."

"Banyak orang dari seluruh penjuru dunia pengen ngobrol sama gue. Selama 20 tahun ini mungkin cuma ada tiga orang yang pernah marah ngeliat gue nerobos lapangan. Itupun habis 20 menit ngobrol mereka biasanya langsung ngerti alesan gue."

Susah membantah teori Roberts. Seorang penulis kolom di the Guardian pernah mengkritik aksi invasi telanjang Roberts sebagai "agresivitas purba seorang laki-laki." Nyatanya begitu banyak wajah penonton yang tertawa dan terhibur melihat aksinya.

Berkat kombinasi olah raga dan humor, Roberts berhasil menghibur penduduk Inggris dan warga dunia. Biarpun kontroversial, sulit menyangkal satu hal ini: aksi Roberts berhasil mengundang gelak tawa semua orang.