Bagaimana Musik Elektronik Dibuat di Kuba dengan Internet Kembang-Kempis?

Di Kuba, yang gaji rata-rata warganya hanya Rp 350 ribu, profesi DJ dapat memberi uang tambahan lumayan. Berikut perjuangan seorang DJ menghidupkan blantika musik elektronik dari Kota Santiago.
27.7.16
Jude Goergen

Para DJ punya segepok alasan untuk jadi mahluk nokturnal—slot primetime yang menyerempet subuh, sesi studio tengah malam, jetlag sehabis tur keliling dunia, insomnia gara-gara soundcloud. Tapi, Isnay Rodriguez punya alasan yang kurang umum untuk melek sampai malam buta: sambungan internet yang stabil. Rodriguez, yang beraksi di panggung dengan nama DJ Jigüe, tinggal di Kuba, sebuah negara dengan penetrasi internet sebesar 30 persen. Beberapa tahun yang lalu, rakyat biasa malah tak bisa online sama sekali.

Layaknya kita, Rodriguez butuh candunya sendiri. Dia menjalankan label hip-hop independen pertama di Kuba, Guampara Music. Rodriguez berniat tur keliling dunia sebagai DJ dan bekerja sebagai produser audiovisual untuk para filmmaker yang mampir ke Kuba. Situs Guampara sangat penting baginya, setidaknya sebagai kanal komunikasi dengan dunia luar. Ini alasan kenapa di pukul 4 pagi, dia masih nongkrong di taman sendirian, menikmati malam yang gelap ketika tak banyak pengguna internet yang bikin koneksi lelet. Sebenarnya, koneksi internet di taman ini dari awal sudah lelet, tak jauh beda dengan koneksi dial-up 2 dekade lalu.

Di Kuba, tidak ada koneksi internet untuk perorangan. Namun, kabel fiber-optic yang mengalirkan koneksi broadband sudah mencapai Kuba, tinggal pemerintahnya mau atau tidak membuka sambungan internet untuk rakyat. Rencana untuk membuka koneksi ke rumah-rumah di masa depan telah ada. Sampai itu terwujud, beberapa kota besar memasang fasilitas WIFI di berbagai ruang publik. Meski penduduk Kuba tak berjalan sembari menunduk dengan mata terpaku di Smartphone, mereka juga mengerubuti hotspot dengan laptop dan tablet.

Di Santiago, yang saya kunjungi Mei lalu, taman yang sudah ada dari abad ke 19 lengkap dengan air mancur dan patung para jenderal di atas punggung kuda kini jadi akrab dengan adegan khas abad 21: penduduk lokal skype-an dengan kerabatnya, streaming youtube atau memposting sesuatu di facebook.

Namun, ada harga yang harus dibayar untuk bisa online. Pengguna harus memperoleh Wifi Card dengan PIN gosok dari perusahaan telekom nasional, ETECSA. Dan seperti segala kebutuhan utama di Kuba, kelangkaan adalah aturan, bukan pengecualian. Penjual berlisensi seperti hotel dan retailer milik pemerintah kerap kehabisan Nauta, nama untuk kartu wifi itu. Akibatnya, para preman menjual Nauta secara ilegal di Central Plaza Santiago, salah satu hotspot utama di Santiago.

Will "Quantic" Holland tengah dalam sesi rekaman di sebuah studio mungil di Santiago dengan penyanyi lokal, Diógenes y su Changüí (Foto oleh Reeve Rixon)

Untuk mendapatkan sambungan internet, pengguna menghabiskan Rp25.000 per jam. Di negara dengan gaji rata-rata warganya Rp350,000 per bulan, sambungan internet adalah kemewahan tersendiri. Meski demikian, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penduduk Kuba punya pendapatan sampingan, salah satunya menjadi DJ. Gig atau acara musik masuk dalam kategori alegal atau ekstra legal — tidak melanggar hukum namun juga tidak secara gamblang diperbolehkan dalam sebuah sistem ekonomi sosialis, di mana perusahaan perorangan diatur dengan ketat.

Seluruh dunia tahu apa yang dimiliki dan tidak dimiliki Kuba.— Paula Fernandez dari Pauza

"Internet adalah platform yang sangat dibutuhkan," jelas Rodriguez pada saya di kampung halamannya, Santiago. Kami bertemu sebelum Manana Festival. "Dan kami tak pernah benar-benar terkoneksi ke Internet."

Persebaran PC, software, dan Internet telah mendemokrasikan proses produksi musik—ada ribuan anak yang asik membuat beat di kamarnya—namun ini belum tentu benar di Kuba. Di sana, bahan-bahan yang memantik demokrasi ini tak bisa ditemui. Kalau pun ada, harganya selangit—mengingat rata-rata pendapatan per bulan di Kuba di 2015 adalah Rp. 350,000, menurut data kantor statistik nasional Kuba. Mereka yang nekat nyemplung di dunia musik elektronik butuh dua modal: kesabaran dan kegigihan. Seperti yang dikatakan oleh Paula Fernandez, setengah bagian dari duo Pauza, dengan geram, "Seluruh dunia tahu apa yang dimiliki dan tidak dimiliki Kuba." Ia bosan merasa dikasihani ketika pertanyaan tentang kehidupan ia di Kuba muncul, namun segera sadar jawabannya adalah realita yang ia tinggali.

Foto oleh Jude Goergen

Mengakali Nauta

Wichy de Vedado, yang tinggal di Havana dan telah 16 tahun manggung, menggunakan waktu ngenetnya untuk membuka soulseek, network file sharing peer-to-peer. Sementara, Fernandez mengaku sering nge-troll Beatport. Namun pada akhirnya, ongkos yang mahal dan sambungan yang kurang nyaman membonsai kesempatan DJ dan produser untuk menggunakan internet, elemen yang esensial di pelbagai scene dance music di seluruh penjuru dunia.

Akibatnya, jika anda seorang musisi elektronik di Kuba, lupakan saja kesempatan untuk mengiklankan party di internet. Di scene dance music Havana yang mungil namun sangat hidup, pamflet jaman dulu dan poster masih umum digunakan. Kemudian kalau anda beruntung, informasi tentang party ini akan menyebar lewat SMS massal. Namun kebanyakan orang masih mengandalkan boca a boca — dari mulut ke mulut. Selama festival Manana, manager Rodriguez menyebarkan pamflet seukuran kantong baju dan mengirim sms masal berisi anjuran untuk menyebarkan info tentang gig dadakan, Guampara showcase pre-party.

Kami masih perawan kalau menyangkut urusan informasi.— Armando Qintana dari Rezak

Keterbatasan akses internet juga mengganggu proses kreatif. Koleksi musik dunia tidak bisa dengan mudah diakses dari Kuba. Seperti yang digambarkan oleh Oliver Ortiz, salah satu anggota Duo Techno Rezak. "Kami masih perawan kalau dalam perihal informasi." Partnernya, Armand Qintana, menjelaskan "Terbatasnya informasi, itu tantangannya." Mereka misalnya secara samar paham bahwa Berlin adalah Mekahnya techno, namun menjaga untuk tetap update tentang apa yang terjadi di scene musik di luar Kuba hampir mustahil bagi mereka.

Iván Grajalo dan Julio Cesar Jimenez bekerja sama membuat beat di bawah nama Electro Palestina. Grajalo, bekerja sebagai profesor di siang hari, sangat beruntung punya koneksi internet di kampusnya — meski koneksi di kantornya juga sama kacrutnya. "Saya mendownload video di Youtube karena saya tak bisa streaming, " keluhnya. "Jadi musisi di Kuba setali tiga uang dengan menjadi pelaut di Paraguay [sebuah negara tanpa pantai].

Artist Warp, Plaid di studio bersama Obbatuké asal Santiago selama Manana, Fesival musik elektronik Kuba guna mendorong kolaborasi musisi lokal dan internasional (Photo by Reeve Rixon)

Meski musik yang dihasilkan duo ini mengarah pada UK Dubstep ala Burial, Benga, dan Skream, Grajalo yang berusia 39 mengaku menggunakan akses internetnya untuk mendownload video Milli Vanilli dan Ace of Base, yang tak sempat ia tonton di masa remajanya di tahun 90an. Bagi musisi elektronik di Kuba, buku lebih gampang diakses, baru-baru ini mereka melahap versi bajakan dari e-book Pink Noises: Women on Electronic Music and Sound.

"Satu hal tentang internet di Kuba, adalah kami benar-benar terlepas darinya," jelas Grajalo. "Masalahnya bukan apakah kami punya atau tidak punya akses internet, ini lebih pada kami tak tahu apa yang kami cari di internet."

Harta karun yang mereka temukan di internet, sekecil apapun itu, pada gilirannya akan disebarkan di dalam kumpulan penggemar musik elektronik di Kuba, yang dengan sedikit berkelakar di sebut dengan nama Departmento Oriental de Emulación Electrónica (Eastern Department of Electronic Emulation). Nama ini jelas sebuah parodi akan obsesi pemerintah akan sistem penamaan yang bersifat birokratis. Lebih jauh, mereka memilih kata "emulasi" alih-alih "kompetisi" (sebuah kata haram di negara sosialis).

Biasanya, satu orang akan mengunduh mp3, video atau software yang sudah dicrack. Hasil downloadan ini akan disirkulasikan via USB flash drive ke semua anggota kru. Sistem yang sama digunakan oleh El Paquete Semanal (The Weekly Packet), sistem distribusi person-to-person yang mencakup satu pulau penuh dan bersumber di Havana. El Paquete Semanal menyebarkan hasil kurasi sebesar 1 terabyte berisi film blockbuster Hollywood, opera sabun amerika latin, dan video mudik penuh bling-bling ke audience yang siap membayar untuk mendapatkannya. Pemerintah Kuba menutup mata atas kegiatan ini. Beberapa orang membandingkan sistem ini dengan internet alternatif.

El Paquete adalah cara yang paling ampuh untuk memviralkan musik di Kuba. Kendati demikian, setiap produser elektronik di Kuba yang saya temui—bahkan veteran seperti DJ Jigüe dan Wichy de Vedado— belum bisa menembus mafia media underground ini. Akibatnya, reggaetón masih meraja di Kuba, disebarkan lewat flash drive alih-alih online stream. Ini artinya, penduduk Kuba hanya bisa mendengarkan musik elektronik lokal di sebuah gig, mereka tak bisa menikmatinya di rumah mereka. Situasi yang pelik untuk membangun sebuah fanbase.

DJ Jigüe in Santiago de Cuba (Photo by Jude Goergen)

Hambatan Hardware

Hardware adalah hambatan berikutnya. Pembelian komputer baru dilegalkan 2008 silam, tentunya dengan harga yang jauh di atas kemampuan penduduk Kuba. Meski demikian, laptop perlahan masuk Kuba lewat pasar gelap mulai awal 2000an. Para dokter, komoditi ekpor terbesar Kuba, diperkenankan membawa 1 komputer selepas tugas di luar negeri. Komputer inilah yang kemudian masuk pasar gelap. Melunaknya larangan bepergian ke Amerika Serikat mempercepat tumbuhnya tren impor komputer.

Rodriguez masih ingat komputer pertamanya. Ia mendapatkannya di 2008 silam setelah pindah ke Havana. "Cuma menaranya (CPU)," ingatnya. "Tak ada monitor, keyboard, atau mouse." Sebagai seorang touring dj bersama hip-hop duo paling keren di Kuba, Obsesión, ia punya kesempatan pergi keluar Kuba dan membawa pulang gear-nya sendiri. Sampai saat ini, ia terus memilih dibayar dengan audio gear daripada dengan uang. Ia masih berjuang membangun studionya sendiri, sedikit demi sedikit.

Tak ada Guitar Center di Cuba, jadi semua audio gear berasal dari luar Kuba. Produser musik house Roberto Puig sangat mendambakan sound card, interface, dan Midi controller. Ia adalah salah satu pemilik 1 dari 5 turntable Technics MK1200 di seluruh Kuba. Puig bernasib baik. "ami belum belajar cara bermain dengan controller karena kami tak punya controller," Ungkap Cesar Jimenez, salah satu anggota Electro Palestina. "Yang kami miliki hanya Virtual DJ atau Traktor; Kami tak pernah melampaui laptop."

Kami belum belajar cara bermain dengan controller karena kami tak punya controller. Yang kami miliki hanya virtual DJ atau Traktor; Kami tak pernah melampaui laptop.— Cesar Jimenez, anggota Electro Palestina

Dalam urusan pendidikan musik, sebenarnya Kuba punya sejarah konservatori musik yang serius dan dukungan institusional untuk perkembangan ensambel musik tradisional. Kuba bahkan punya institusi pencari talenta hip-hop yang dijalankan pemerintah. Namanya Agencia Cubana de Rap.

Fernandez dan Zahira Sanchez dari Fauza sangat beruntung memanfaatkan satu-satunya sumber daya publik untuk mendukung perkembangan musik elektronik : National Electroacoustic Laboratory (LNME dalam bahasa spanyol). Meski didirikan pada tahun 1979 oleh komposer avantgarde, Juan Blanco, untuk menumbuhkan komposisi electroacoustic di antara musisi klasik Kuba, beberapa tahun terakhir ini, LNME telah membuka diri terhadap musik elektronik yang akrab dengan lantai dansa;

LNME malah menawarkan kursus DJ khusus perempuan pertama kali di Kuba. Di sinilah, anggota Fauza mengasah kemampuan mereka. Kedua anggota Fauza memanfaatkan kesempatan ini untuk mempertajam set mereka sebagai salah satu kolektif elektronik yang pertama kali tampil live di Kuba dan merekam debut album mereka di satu-satunya studio rekaman di laboratorium itu. Tanpa akses ke beragam video panduan YouTube di rumah mereka, belajar menggunakan perkakas audio yang kompleks—atau setidaknya mendapatkan akses ke perkakas tersebut—amat vital untuk memulai karir di ranah musik elektronik.

Sayangnya, booth rekaman mungil LNME tidak menawarkan satu hal: galaknya crowd. Pada akhirnya, efek keterbatasan infastruktur di Kuba merembet sampai ke satu-satunya tempat di mana penduduk Kuba bisa menikmati musik elektronik: klub. Sound system yang tersedia kondisinya tidak konsisten—Festival Manana mengimpor beragam gear dengan total nilai sebesar hampir 400 juta rupiah untuk menambah apa yang sudah tersedia di Santiago. Para DJ kerap mengeluh bahwa mereka sering harus membawa gear mereka sendiri bahkan ketika mereka main di klub besar, karena klub di Kuba tak diset untuk dance music. Klub di Kuba memang diperuntukkan untuk live band, sesuatu yang umum di Kuba.

Casa Micaela, restoran-cum-nightclub yang populer di Distrik Santiago yang bersejarah, adalah salah satunya. Setelah dapurnya ditutup, ruangan basement akhirnya dibuka, seperti yang terjadi di Showcase Guampara sehari sebelum Festival Manana. Basement ini punya semua yang dibutuhkan sebuah klub—AC, Bar terisi penuh, security dan penjaga pintu. Permasalahannya, sejam sebelum acara dimulai, manager DJ Jigüe memberitahu saya bahwa mereka masih mengobrak-abrik Santiago untuk mencari CDJ. Jelas, kalau ada kemampuan yang bisa dibanggakan dari scene musik elektronik di Kuba, maka itu adalah kegigihan pelakunya. Setelah berhasil mendapatkan CDJ dari rekan seorang teman. Sayangnya, CDJ ini hanya bisa membaca flash drive bukan CD. Hatta, Jigüe terpaksa mengganti gearnya dan bermain langsung dari laptopnya. Segera setelah acara di mulai, Mojito mulai dialirkan, lantai dansa langsung pejal dengan pengunjung, dan DJ Jigüe pun memainkan track-track rilisan Guampara untuk salah satu audiens asing pertama di Santiago, sembari tersenyum puas.