Health

Letak Pemicu Depresi Di Otak Telah Ditemukan

Penelitian menemukan area di otak yang terpengaruh oleh depresi dan temuan ini membuka jalan menuju perawatan depresi yang lebih efekti.
23.10.16
Gambar: Ryan Melaugh/Flickr

Artikel ini pertama kali muncul di Motherboard.

Tahun lalu, diperkirakan 16 juta penduduk dewasa di Amerika Serikat menderita gangguan depresi yang berlangsung selama sedikitnya 2 minggu dan mencakup setidaknya 4 gejala lainnya seperti susah tidur, makan atau berkonsentrasi. Karena luasnya penyebaran gangguan mental di Amerika Serikat, ditambah efeknya mengganggu siklus hidup alamiah seseorang, menemukan cara menanggulangi depresi adalah salah satu masalah yang mendesak dalam disiplin ilmu neuropsychiatry.

Iklan

Penelitian terbaru dari sebuah proyek kolaborasi antara University of Warwick di Inggris bersama Fudan University di Cina telah membuka jalan menuju penanganan depresi yang efektif dengan mengidentifikasi bagian otak yang terpengaruh depresi.

"Lebih dari 1 dari 10 orang selama hidupnya menderita depresi, sebuah penyakit yang sangat lazim di kehidupan modern, sampai-sampai kita bisa menemukan remah Prozac (sebuah obat depresi) di kran air minum di London," kata Jiangfeng Feng, seorang profesor computational biology. "Temuan kami, dilengkapi dengan data komprehensif yang kami kumpulkan dari seluruh penjuru dunia dan metode baru yang kami gunakan, memungkinkan kami menemukan akar masalah depresi yang mungkin bisa membuka jalan menuju terapi depresi yang lebih manjur di masa depan."

Data komprehensif dirujuk oleh Feng diambil dari 909 subjek penelitian di Cina (sekitar setengah dari subjek mengidap gangguan depresi hebat dan sisanya sehat-sehat saja) yang telah melewati pemindaian otak penuh presisi menggunakan MRI. Para periset ini menemukan data biasanya depresi menyerang bagian otak yang dikenal dengan nama lateral orbitofrontal cortex (OFC). Bagian otak ini diperkirakan memiliki hubungan dengan semua fungsi otak, meski salah satu fungsi OFC yang paling sering ditelisik memiliki peranan penting dalam proses pengambilan keputusan dan kemampuan beradaptasi.

OFC telah dibagi menjadi dua daerah utama: lateral OFC dan medial OFC. bagian Lateral OFC aktif ketika kita mengalami kejadian yang tidak mengenakan, seperti saat tak dihargai orang lain, saat mengalami kejadian yang tak mengenakkan seperti kehilangan uang atau bau busuk yang menyengat. Bagian ini jugalah yang terpengaruh oleh depresi, menurut tim peneliti.

Kisaran lokasi orbitofrontal cortex. Image: Wikimedia Commons

Ternyata, temuan ini sekaligus mengungkap fakta baru. Lateral OFC ternyata mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan pandangan seseorang akan dirinya sendiri. Ini barangkali yang menyebabkan rasa rendah diri, hilangnya jati diri, dan kekecewaan yang dialami para penderita depresi. Di sisi lain, medial OFC merupakan reward circuit yang diduga juga memiliki peran dalam terjadinya depresi. Para peneliti menilai bahwa penurunan konektivitas OFC dengan sistem memori menyebabkan berkurangnya memori indah nan menyenangkan yang bisa diingat seseorang. Hal ini mendorong terjadinya depresi.

"Sebelum penelitian ini kami kerjakan, kami tak pernah tahu bagian otak mana yang paling terhubung dengan lateral OFC dalam penderita depresi," ujar Rolls kepada Motherboard. "Sekarang kita tahu bahwa sistem rewarddi medial OFC ternyata benar-benar terputus dari sistem memori dalam otak."

Hasil penelitian ini mendukung teori non-reward attractor theory of depression milik psikolog dan computational neuroscientist dari University of Warwick bernama Edmund Rolls Postulat teori ini menyatakan bahwa dalam kondisi depresi, sistem non-reward OFC akan lebih mudah terpicu dibandingkan kondisi normal. Karena sistem non-reward OFC menembakkan "error neuron" jika kita tak beroleh apa yang kita inginkan dan menjaga pengeluaran neuron lebih lama dari biasanya, ini akan mengakibatkan sebuah feedback loop dalam sistem bahasa yang mengatur kondisi kognitif negatif (ini menjelaskan kenapa mereka yang tengah depresi tak bisa move on dari pikiran-pikiran mereka yang depresif). Nah idenya adalah jika anda ingin menanggulangi depresi, yang perlu kita lakukan adalah mengacaukan feedback loop ini dengan membatasi pengeluaran error neuron ODC.

Kini, setelah Rolls dan koleganya memiliki sejumlah data kuat yang tak hanya konsisten, namun mendukung teorinya perihal depresi, Rolls berharap bisa segera melakukan percobaan melihat apakah gen diekspresikan berbeda di lateral OFC.

"Beragam gen bisa diekspresikan berbeda di lateral OFC (dan) ini bisa memberi kita petunjuk mengembangkan obat-obatan baru yang bisa mempengaruhi kerja lateral OFC," tulis Rolls dalam sebuah email. "Selain obat-obatan baru yang secara lebih spesifik mengincar fungsi OFC, teori terbaru akan menyumbangkan dasar pengembangan metode penanganan psikologis, membuat pasien terbebas dari pikiran, kondisi dan mood yang negatif."