FYI.

This story is over 5 years old.

View My Own

Rasanya Diistimewakan Hanya Karena Aku Etnis Cina di Singapura

Mulai muncul masalah akibat kebijakan cina-sentris yang sejak lama diterapkan pemerintah negara mungil, tanah airku ini.

Ada 'kebutaan' unik yang inheren pada penduduk keturunan Cina di Singapura. Jumlah kami di Singapura mencapai 74,6 persen dari seluruh populasi. Tak bisa dipungkiri, etnis Cina punya pengaruh yang kuat pada kehidupan sosial dan politik Singapura. Saat aku beranjak dewasa pengistimewaan semacam ini kuanggap wajar-wajar saja. Aku tak pernah merasa perlu mempertanyakan identitasku sebagai warga Singapura.

Iklan

Di sekolah, tak ada yang berani meledek namaku. Saat tiba saatnya mencari kerja, latar belakang etnisku malah menjadi bonus tersendiri. Wawancara kerja gampang saja kujalani. Apa aku fasih berbahasa Mandarin? Tentu saja. Apa aku bersedia kerja kapan saja, kecuali saat Imlek? Boleh banget.

Aku tak sadar bahwa kesuksesan yang kuraih ada hubungannya dengan latar belakang ras. Keacuhanku ini menyerupai sikap mayoritas warga keturunan Cina di Singapura lainnya. Teman-temanku dari etnis minoritas, sebaliknya, menuding adanya ketidakadilan akibat ras terhadap hidup mereka. Eden, salah satu teman keturunan Eurasia dan India, tak berhenti di-bully semasa kecil. Anak-anak sepantaran mengolok-olok rambutnya yang keriting, kulitnya yang gelap, dan bulu-bulu yang tumbuh di sekujur tubuh Eden.

Kini Eden sudah dewasa. Dia kerap mengenang masa kecilnya dan memikirkan efeknya pada kehidupannya sekarang.

"Apa yang aku alami selama hidup di Singapura sangat berbeda dengan yang dialami anak keturunan Tionghoa," ujar Eden.

"Aku kerap diperlakukan seakan-akan aku tak bisa memenuhi standar. Ini sangat mempengaruhiku. Sampai-sampai, untuk waktu yang sangat lama, aku berpikir memang aku ini inferior."

Yang dulu tak pernah kusadari adalah satu kenyataan ini: aku termasuk golongan yang diistimewakan. Sementara Eden, sayangnya, tidak. Rasku tak diistimewakan dalam pengertian kolot. Kaumku diistimewakan, meminjam istiilah Peggy McIntosh—feminis dan aktivis antirasisme Amerika Serikat—sebagai "Invisible Knapsack". Singapura, sebagai sebuah negara, menempatkan ras Tionghoa sebagai ras panutan. Alhasil, aku memperoleh keistimewaan yang tak mudah dinikmati penduduk Singapura selain dari ras Cina. Mereka harus mengakali sebuah budaya yang terang-terangan memperlakukan mereka sebagai "kaum liyan."

Iklan

Belakangan, pandangan yang sama mulai tumbuh subur di Asia Tenggara. Di Malaysia, setelah beberapa dekade di bawah kekuasaan bumiputera, muncul pengistimewaan dan kepercayaan terhadap supremasi ras melayu. Di Indonesia, sekumpulan kebijakan yang Jawasentris, ditopang sejarah pelaksaan program transmigrasi telah menyebarkan cara pikir, tindak-tanduk, dan standar hidup jawa ke seluruh Indonesia. Fenomena sosial serupa juga ditemui di Myanmar, Vietnam, dan Filipina.

Sangeetha Thanapal, seorang aktivis Singapura keturunan India, menyebut apa yang terjadi di Negeri Singa ini sebagai "privilese etnis cina."

"Saya mendefinisikan "privilese etnis Cina" layaknya "privilese kaum kulit putih," kata Thanapal. "Kendati saya tahu konsep privilese kaum kulit putih punya konteks dan sejarahnya sendiri, konsepnya sangat membantu saya dalam memahami apa yang terjadi di Singapura. Jika anda terlahir sebagai warga keturuan Cina, hidup anda dimulai dalam strata yang lebih tinggi dibandingkan komunitas etnis minoritas lainnya."

Bagaimana pengistimewaan ini bisa terjadi? Jawabannya ada dalam sejarah Negeri Kota ini. Singapura dulu sebetulnya negara multietnis tapi kemudian muncul pengkotak-kotakan. Segregasi terjadi sejak kami masih menjadi koloni Inggris. Penjajah Inggris membagi penduduk non-Eropa menjadi empat golongan: Cina, Melayu, India, dan etnis lainnya. Bahkan, kota Singapura ditata berlandaskan pembagian etnis ini. Warga Eropa dan Asia yang kaya tinggal di pusat kota. Etnis Cina dikumpulkan di daerah pecinan. Etnis India diperintahkan menghuni Little India, sementara etnis Melayu dan Arab tinggal di Kampung Glam. Sekarang, wilayah-wilayah ini merupakan pondasi multikultural Singapura. Sayangnya skema diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Inggris tak berhenti sampai di situ, merujuk penjelasan akademisi bernama Hydar Saharudin.

Iklan

"'Dulu yang diizinkan menjadi pegawai negeri hanya kaum kulit putih Eropa," ungkap Saharudin. "Akhir abad ke 19, pemerintah kolonial Inggris telah menegaskan kategori rasial dan mempopulerkan berbagai stereotipe rasial—warga India punya mentalitas budak dan miskin, orang Melayu pemalas dan terbelakang, sementara etnis Cina licik dan culas."

Lantas dari mana datangnya privilese etnis Cina? Jawabannya adalah politik pascakemerdekaan. Singapura memiliki satu partai yang sangat berkuasa sejak berpisah dari Inggris maupun Federasi Malaya. People's Action Party (PAP) menjadi partai etnis Cina segera setelah Singapura merdeka. Sebagai sebuah partai, PAP sangat ketar-ketir Singapura menjadi negara yang "kebarat-baratan," dan berusaha keras mengembalikan "Nilai-Nilai Khas Asia" ke Singapura, lewat serangkaian kebijakan yang memberi beberapa pengistimewaan pada "etnis Cina" di banding etnis lainnya.

PAP lantas mengumumkan berbagai rencana untuk menumbuhkan dan menjunjung tinggi karakter Cina di Singapura lewat program seperti Special Assistance Plan. Berkat program pemerintah ini, sekolah Cina berubah menjadi sebuah institusi berbudaya homogen, dengan pendanaan kuat. Pemerintah Singapura meneruskan usahanya memperkuat 'asianisasi' negaranya, ketika meluncurkan kampanye "Speak Mandarin" dan "Asian Value" di era 80-an dan 90-an. Dalam kampanye itu, ditekankan nilai-nilai konfusianisme dan bahasa Mandarin sebagai standar hidup.

Iklan

"Jika kamu melamar kerja, 90 persen HRD akan bertanya apakah kamu bisa bicara Mandarin," kata Azura McIlwrait. "Kemampuan berbicara Mandarin sangat diprioritaskan, sampai-sampai banyak penduduk Singapura enggan menggunakan bahasa Inggris (bahasa yang paling umum dari empat bahasa nasional Singapura]. Seiring dewasa, aku juga ikut-ikutan belajar Mandarin karena orang tuaku percaya masa depanku bakal lebih cerah."

Pengistimewaan etnis Cina ini pada akhirnya jadi alasan munculnya kultur berserah diri di kalangan etnis non-Cina yang hidup di Singapura. Mereka memilih untuk diam dan tak protes guna menghindari konflik.

"Sebagai seorang muslim melayu, hidupku lumayan berat di negara ini," ungkap Nur, seorang arsitek. "Di tempat kerja, aku berusaha tak menonjolkan diri dan bekerja lebih keras agar biasa dianggap serius. Kadang, rekan-rekan kerjaku meeting memakai bahasa Mandarin. Akibatnya, aku harus mencatat hasil rapat dari orang lain. Kadang, mereka mengajukan pertanyaan yang kurang sensitif, seperti kenapa masih berjilbab padahal cuaca sedang panas-panasya."

Setidaknya, ada perkembangan positif, meski lamban, di Singapura. Konsep "privilese etnis Cina" perlahan mulai masuk diskursus nasional Singapura.  Beberapa artikel telah menyoroti persoalan rasisme dalam kehidupan sehari-hari. Baru-baru ini, Channel News Asia menyiarkan sebuah tayangan khusus membahas relasi antar ras dalam hubungannya dengan pengalaman hidup kaum etnis  minoritas Singapura.

"Kaum minoritas mulai berani bicara," kata Thanapal. "Solidaritas dan kesadaran bahwa mereka tak sendirian mengalami rasisme di Singapura telah membuat mereka berhasil mengungkap banyak hal. Etnis minoritas kini lebih bersatu daripada dulu ketika istilah privilese Cina belum banyak dikenal."

"Dua tahun lalu, saya dianggap orang aneh di jagat internet karena mengangkat masalah ini. Sekarang, media milik pemerintah malah membuat tayangan TV menggunakan istilah yang saya buat," imbuh Thanapal. "Ini sebuah kemajuan dalam usaha membawa rasisme dalam diskusi publik yang lebih sehat."

Cher Tan adalah penulis Singapura yang tinggal di Adelaide, Australia. Dia banyak menulis tentang identitas, politik, dan budaya. Follow twitternya di @mxcreant.