Perlukah Daging Olahan Diberi Label Pemicu Penyakit Kanker?
Foto oleh Christopher Najewicz via Flickr
Food

Perlukah Daging Olahan Diberi Label Pemicu Penyakit Kanker?

Sebuah lembaga swadaya mengeluarkan petisi, menuntut daging yang diawetkan, diberi bahan kimia, atau diasinkan, wajib dipasangi stiker memicu kanker. Sumber perdebatan ini adalah kajian WHO pada 2015
7.12.16

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Sambil membaca ini, coba kalian berhenti sebentar makan dendeng dan sosisnya.

Tahun lalu Agensi Peneliti Kanker di bawah naungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasi daging olahan sebagai karsinogen—zat pemicu penyakit kanker. Penelitian itu mengatakan konsumsi 50 gram daging olahan setiap hari, dapat meningkatkan risiko terkena kanker usus sebesar 20 persen.

Iklan

Ini tentunya kabar buruk bagi penggemar berat dendeng, sosis, dan kornet. Para produser daging olahan di seluruh dunia menyangkal tuduhan lembaga di bawah WHO itu. Protes keras juga dilancarkan restoran-restoran yang menyajikan prosciutto—ham kering diiris tipis khas Italia.

Satu tahun berlalu. Muncul organisasi ilmiah lainnya yang mengkritik daging olahan. Mengutip penemuan WHO, Center for Science in the Public Interest memulai sebuah petisi menuntut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menaruh stiker peringatan kanker usus besar di setiap bungkus produk daging olahan.

"Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penelitian ilmiah yang menyimpulkan daging sapi dan unggas olahan meningkatkan risiko kanker usus besar—kanker penyebab kematian terbanyak kedua di Amerika Serikat—dan diduga bertanggung jawab atas meninggalnya 49.190 orang sepanjang 2016," tulis petisi tersebut.

Informasi di petisi tersebut juga menganjurkan agar daging yang "diawetkan dengan cara diasapkan, diasinkan, dan menggunakan bahan-bahan pengawet kimia" wajib ditempeli stiker bertuliskan, "PERINGATAN DARI DEPARTEMEN PERTANIAN AMERIKA SERIKAT: konsumsi daging olahan yang berlebihan dapat meningkatkan resiko terkena kanker usus besar dan kanker anus. Demi menjaga kesehatan anda, batasi konsumsi produk-produk ini."

Para produsen daging olahan sudah pasti sewot melihat petisi tersebut.

"Petisi bersifat sensasional dari Center for Science in the Public Interest (CSPI) yang meminta label peringatan ditempel di produk daging—yang jelas-jelas aman, bergizi dan sudah lolos inspeksi USDA—adalah contoh taktik menakut-menakuti konsumen. Tidak heran mereka disebut 'polisi makanan,'" seperti dikutip dari keterangan tertulis Barry Carpenter. Dia adalah CEO North American Meat Institute—asosiasi para pengusaha yang bertanggung jawab atas pasokan 95 persen daging merah dan 75 persen dari produk kalkun di AS dan Kanada. "Banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa kanker adalah penyakit yang rumit dan tidak disebabkan oleh satu jenis makanan. Diet yang berimbang serta gaya hidup yang sehat adalah cara menjaga kesehatan. "

Iklan

Janet Riley, Wakil Presiden dari Public Affairs di North American Meat Institute mengatakan pada MUNCHIES bahwa "label peringatan yang diminta oleh CSPI akan menyesatkan banyak orang."

"Label peringatan akan seolah-olah menegaskan ada bukti-buktil ilmiah yang kuat dan konsensus yang mendukung posisi CSPI, padahal ini tidak benar. Faktanya, keputusan yang diambil oleh Agensi Internasional Peneliti Kanker tidak disepakati semua anggotanya, dan terus diwarnai kontroversi."

Riley dan Carpenter merujuk pada penelitian-penelitian lain yang membantah adanya hubungan langsung mengkonsumsi daging dengan timbulnya penyakit kanker. Penelitian-penelitian tandingan WHO itu menggarisbahwahi pentingnya memakan daging bagi kesehatan manusia. Para pengusaha daging olahan mengingatkan bahwa WHO mengaku ada kesalahpahaman soal pernyataan tentang klasifikasi daging sebagai karsinogen. WHO, menurut pengusaha daging, semata-mata menganjurkan pengurangan konsumsi daging. Bukan mengupayakan penghapusan daging dari konsumsi masyarakat umum.

Warga Amerika Serikat dikenal gemar mengkonsumsi daging dalam jumlah yang luar biasa besar. Petisi CSPI mengutip data USDA yang menunjukkan penduduk AS setiap tahunnya mengkonsumsi rata-rata 32 kilogram daging merah dan 25 kilogram daging unggas. Itu data 2013. Sekitar 20 persen dari daging-daging tersebut merupakan daging olahan. WHO menganjurkan setiap harinya kita tidak boleh mengkonsumsi lebih dari 50 gram daging olahan.

Mungkin bagi para maniak pemakan daging olahan seperti Joey Chestnut—pemegang gelar pemakan hot dog terbanyak di Amerika Serikat—ini adalah kabar buruk. Tapi buat kita-kita yang santai makannya, sebetulnya tidak ada pengaruhnya. Ada stiker peringatan atau enggak, kita sepertinya akan terus makan daging.