Olahraga

Pesepakbola Brasil yang Memutilasi Istri Jadi Makanan Anjing Kembali Diizinkan Bermain

Keputusan klub merekrut Bruno Fernandes memicu kemarahan publik. Sponsor mundur dan hak siar terancam dicabut.
15 Maret 2017, 5:41am
Foto oleh Alexandre Brum via Getty Images

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Kiper asal Brazil, Bruno Fernandes de Souza, pada 2010 membayar seseorang untuk menculik, menyiksa dan membunuh istrinya sendiri. Potongan jasad istrinya kemudian dijadikan makanan gerombolan anjing oleh pelaku. Setelah tujuh tahun dipenjara, kini dia akan segera kembali beraksi di atas rumput hijau. Klub sepakbola divisi dua Liga Brasil, Boa Esporte, merekrut Bruno sebagai kiper cadangan. Keputusan manajemen segera mengundang kemarahan publik. Pegiat perempuan menyatakan tindakan Boa Esporte sangat tidak patut, tiga sponsor utama klub mundur, suporter khawatir hak siar televisi dicabut, dan sekelompok hacker meretas situs resmi klub sebagai protes keras atas sikap manajemen.

Kisah ini dimulai ketika tujuh tahun lalu Eliza Samudio, 25 tahun, mengklaim kiper yang dikenal sebagai "Bruno" itu merupakan ayah dari anaknya yang saat itu berusia empat bulan. Tes DNA mengkonfirmasi bahwa Fernandes memang ayah biologis anak Samudio. Selama hamil, Samudio sempat melapor ke polisi melaporkan tindakan kawan Fernandes yang menculik dan memaksanya melakukan aborsi. Ketika pembunuhan terjadi, Samudio tengah dalam proses hukum untuk membuktikan bahwa sang anak memang darah daging Fernandes dan menuntut kiper itu memberi tunjangan bulanan.

Pada 2013, pengadilan Brazil memutuskan bahwa Fernandes bertanggung jawab atas penculikan, pembunuhan, dan bersekongkol menghilangkan mayat Samudio. Dia dijatuhi hukuman 22 tahun penjara, tapi kemudian dibebaskan setelah enam tahun bui karena aturan hukum di Brasil yang mengizinkan narapidana keluar penjara menunggu hasil banding di tingkat Mahkamah Agung. Walau sadar bahwa si kiper ini masih tersandung masalah hukum dan masih harus menjalani proses sidang banding, Boa Esporte berkukuh merekrut Bruno sebagai kiper cadangan.

Melalui pernyataan tertulis, pemilik Boa Esporte, Rafel Gois Silva Xavier, mengatakan Fernandes memang terbukti bersalah membunuh ibu dari anak kandungnya dan menjalani hukumannya. Tapi dia dilepas oleh pengadilan. "Dia layak mendapat kesempatan kedua," kata Rafel. Biarpun menyebabkan banyak kemarahan di masyarakat Brazil, kontrak terhadap Bruno masih tetap berlaku hingga artikel ini tertulis. Kemarin Bruno menjalani tes medis dan persiapan latihan perdana.

Eliza Samudio saat melaporkan Bruno ke polisi pada 2009 sebelum akhirnya dibunuh dan dimutilasi. Foto oleh Marcelo Theobald via Getty Images.

"Memang benar tidak ada hukum yang dilanggar terkait pembebasan sementara Bruno dari penjara," kata Debora Dine tokoh feminis Brasil sekaligus guru besar hukum pidana. Dia menjelaskan bahwa Fernandes menghabiskan tiga tahun menunggu hukuman akhirnya sebagai hasil banding. "Hanya saja, keputusan yang diambil sistem peradilan Brazil terhadap kasus Bruno—mengikuti undang-undang perihal hukuman penjara—sebenarnya jarang sekali dilakukan. Brasil adalah negara dengan populasi penghuni penjara terbesar di dunia."

Sama seperti banyak kasus kriminal atlet lelaki lainnya (ingat kasus OJ Simpson di AS?), kasus Fernandes menunjukkan kecacatan sistem hukum Brasil dan bias terhadap pelaku kejahatan misoginis.

Cerita mengenai Fernandes yang bisa kembali bermasyarat dengan mudah menegaskan masalah adanya kekerasan laten terhadap perempuan di Brasil. Biarpun hukum seputar pelecehan seksual dan kekerasan rumah tangga di Brasil melindungi perempuan, serta ada banyak pegiat feminis di negara tersebut, nyatanya budaya Negeri Samba masih menormalkan dan melegitimasi kekerasan terhadap perempuan. Menurut data PBB, perempuan dilecehkan di São Paulo setiap 15 detik.

"Bagaimana Bruno dengan mudah kembali mendapat pekerjaan dan diterima oleh penggemarnya dalam waktu singkat seteah keluar dari penjara merupakan merupakan bentuk keadilan yang tebang pilih. Situasi ini diperburuk oleh konteks perilaku masyarakat Brasil yang toleran menyangkut isu kekerasan terhadap perempuan," ungkap Dinez.

Di tengah semua itu, perilaku seksis dan tidak adil merajalela di Brazil. "Beberapa perempuan yang mencari perawatan medis selepas aborsi langsung dimasukkan ke penjara," ungkap Dinez. Dia menyatakan pemerintah Brasil abai terhadap pemenuhan hak-hak perempuan. Presiden yang kini berkuasa juga tak kalah seksisnya.

Ketika berpidato di Hari Perempuan Internasional pekan lalu, Presiden Brasil Michel Temer memuji perempuan atas kemampuan mereka menjaga kebersihan rumah dan keawasan mereka dalam memperhatikan fluktuasi harga produk di supermarket. Tidak lama setelah menjabat, Temer membubarkan Kementerian Urusan Perempuan Brasil.

Intinya, Bruno mengundang kemarahan karena dia bisa mendapat banyak keleluasaan selepas keluar dari penjara hanya karena dulunya seorang pesepakbola laki-laki terkenal.

"Kasus Bruno adalah produk dari sistem keadilan yang menghasilkan ketidaksetaraan gender," kata Dinez menyimpulkan.