FYI.

This story is over 5 years old.

Mogok Makan

Pengalamanku Mogok Makan Selama 46 Hari

Lateef Johar Baloch menolak makan satu setengah bulan memprotes penculikan dan pembunuhan aktivis oleh pemerintah Pakistan. Dia menceritakan rasanya melawan rezim brutal sambil menyisakan tulang berbalut kulit.
Audy Bernadus
Diterjemahkan oleh Audy Bernadus
Lateef during his hunger strike. Photo courtesy of Lateef Johar Baloch

Aksi mogok makan telah rutin dilakukan sepanjang sejarah. Bahkan, selama 2017, berulang kali muncul berita tahanan atau aktivis mogok makan dari berbagai negara. Insiden belakangan yang paling banyak diliput media misalnya aksi yang sampai sekarang dilakukan oleh tahanan Penjara Guantanamo, Khalid Qasim dan Ahmed Rabbini. Mereka menolak makan apapun sejak 20 September. Keduanya dipenjara oleh pemerintah Amerika Serikat selama 15 tahun tanpa tuduhan yang jelas, hanya dengan asumsi terlibat jaringan teroris.

Iklan

Mogok makan sebagai bentuk protes telah tercatat jauh sebelum Kristenisasi di Irlandia. Di masa pra-Kristen, Santo Patrick melakukan mogok makan untuk menolak pemimpin lalim yang sewenang-wenang. Begitu pula aksi serupa dari India Kuno, yang tercatat dalam prasasti bertarikh 400 sampai 750 Sebelum Masehi. Mogok makan terus dijalankan di masa modern, menjadi strategi pembangkangan sipil tokoh besar seperti Mahatma Gandhi, hingga aksi kolektif di Kuba dan Republik Irlandia semasa ditekan oleh Inggris. Mogok makan sering digambarkan heroik. Pihak yang dilawan akan kalah, apapun dalih yang mereka pakai untuk mendiskreditkan peserta mogok makan. Namun seperti apa sebetulnya perasaan mereka yang melakoninya? Apakah ada rasa tersiksa karena ajal mengetuk pintu kamar? Apakah kematian terasa dekat?

Lateef Johar Baloch adalah sosok yang pantas membagikan pengalaman mogok makan itu kepada pembaca sekalian. Pegiat hak asasi manusia, sekaligus mahasiswa radikal asal Pakistan ini pernah terlibat mogok makan 46 hari. Kala itu, dia memprotes penculikan dan pembunuhan aktivis yang dilakukan pemerintah Pakistan. Berikut penuturannya kepada VICE.

VICE : Halo Lateef. Bisa ceritakan alasanmu dulu melakukan mogok makan?
Lateef Johan Baloch: Saya memulai aksi mogok makan, dengan target sampai mati, sejak 22 April 2014. Saya terpaksa melakukannya demi memprotes penculikan teman saya sesama aktivis mahasiswa, Zahid Baloch, yang dilakukan militer Pakistan di Quetta, Balochistan. Zahid, seorang pemimpin organisasi mahasiswa, diculik 18 Maret 2014 di depan banyak saksi. Dia masih ‘menghilang’ sampai sekarang.

Iklan

Jadi harapanmu setelah aksi adalah menyadarkan masyarakat?
Tujuan mogok makan sampai mati selalu untuk menarik perhatian media di seluruh dunia mengenai situasi yang gawat akibat penculikan dan pembunuhan yang dilakukan pasukan kemananan Pakistan terhadap aktivis HAM, mahasiswa, serta aktivis politik Balochistan. Situasi kemanusiaan di Balochistan benar-benar memprihatinkan, dengan daftar korban telah dikonfirmasi oleh lembaga kredibel seperti Human Rights Watch, Amnesty International, dan beberapa organisasi HAM lainnya.

Kenapa kamu memilih mogok makan sebagai bentuk protes?
Saya orang asli Awaran, salah satu daerah paling terpencil dan paling miskin di Balochistan. Tingkat buta huruf dan kasus malnutrisi masih tinggi. Awaran menjadi wilayah yang terkena operasi militer paling parah yang dilakukan oleh pasukan paramiliter Pakistan, di mana targetnya selalu warga sipil. Pemerintah berusaha memblokir akses liputan media di Balochistan. Jurnalis New York Times, Declan Walsh, pernah diusir dari negara kami karena meliput situasi krisis kemanusiaan di Balochistan.

Makanya kamu perlu jenis aksi yang bisa menarik perhatian dunia ya?
Kami sebenarnya melakukan semua bentuk protes, mulai dari mogok makan masal, mogok kerja, demonstrasi, sampai aksi jalan bersama meminta kejahatan kemanusiaan ini diakhiri oleh rezim pemerintah. Semua aksi tadi diabaikan. Militer Pakistan nyatanya tetap memburu guru, profesor, akademisi, dan pengacara di Baloch. Jadi saya dan teman yang lain yakin bahwa mogok makan sampai mati adalah cara paling pas melawan.

Iklan

"Satu-satunya yang tidak saya takutkan selama mogok makan adalah kematian."

Waktu kamu mulai aksi mogok makan, apa yang kamu rasakan?
Waktu awal saya merasa sangat lapar dan sakit perut. Lalu di minggu kedua saya mulai tidak lagi merasa lapar tapi malah sakit di seluruh badan. Sakit yang paling tidak tertahan adalah sakit di tulang-tulang. Saya tidak bisa duduk tegak, juga tidak bisa konsentrasi dan merasa gugup ketika ada yang berusaha berbicara dengan saya. Tiga minggu kemudian saya akan pingsan setiap tida sampai empat jam, dan selalu bersikap agresif terhadap orang di sekitar. Lalu saya merasa kesulitan bernapas, dan suka ada darah di kotoran saya. Saya kehilangan energi dari tubuh, dan saya tidak bisa mendengar dengan baik. Saya selalu merasa pusing dan tidak bisa tidur. Satu-satunya yang tidak saya takuti adalah kematian.

Astaga!
Saya turun berat badan nyaris 26 kilogram. Otot-otot saya hilang, tinggal tulang yang tersisa.

Syukurlah kamu bisa berhenti sebelum risiko terburuk menghampiri
Saya berhenti mogok makan setelah 46 hari, tepatnya tanggal 6 Juni 2014 setelah banyak permintaan agar saya menuntaskan aksi dari keluarga korban kejahatan HAM, anggota organisasi HAM, dan teman-teman serta politisi di Balochistan. Mereka tidak mau saya meninggal sia-sia karena pemerintah Pakistan bersikap brutal dan keras kepala.

Apa ada dampak sampingan setelah kamu melakukan mogok makan?
Ya, efeknya tidak hanya untuk tubuh tapi juga untuk mental. Saya merasakan banyak sekali kesulitan semenjak menjalani aksi mogok makan, yang mempengaruhi pencernaan, ingatan, serta rasa toleransi saya. Saya tidak bisa makan apa-apa selain makanan ringan selama dua bulan setelah berhenti mogok makan. Kalau saya makan sepotong kecil roti, pasti saya akan kesakitan selama hari-hari berikutnya. Saya tidak bisa konsentrasi, sehingga saya tidak bisa belajar. Saya juga jadi memiliki ingatan yang buruk.

Bagaimana respons media massa dulu terhadap aksimu mogok makan?
Respon media ternyata fenomenal. Aksi mogok makan saya diliput oleh banyak media termasuk AFP, BBC World, Aljazeera, Dawn News dari Pakistan dan masih banyak lagi. Tapi media sosial memiliki andil paling besar. Saya melihat kabar mengenai aksi saya disebar di Twitter, Facebook dan sosial media lainnya. Selama mogok makan, saya menerima banyak dukungan dari sosial media. Itu sangat berarti buat perjuangan saya.

Seberapa sukses menurutmu aksi mogok makan pada 2014 lalu?
Aksi protes dengan mogok makan ini berhasil menarik perhatian dunia, dan isu kejahatan kemanusiaan di Balochistan juga mendapat perhatian tersebut. Banyak organisasi internasional yang menyampaikan kekhawatirannya terhadap apa yang terjadi di Balochistan. Tapi ternyata penculikan dan pembunuhan yang dilakukan oleh militer Pakistan masih juga berlangsung dan organisasi internasional ternyata tidak melakukan tindakan nyata. Kasus yang paling baru adalah penculikan terhadap perempuan dan anak-anak di Quetta dan Karachi. Pasukan Pakistan membobol sebuah rumah dan menculik tiga perempuan termasuk anak-anak mereka juga. Yang paling baru terjadi di Karachi. Angkatan Darat Pakistan menerobos tiga apartemen dan menculik aktivis HAM terkenal, Nawaz Atta, bersama dengan delapan muridnya yang masih remaja. Mereka sampai sekarang menghilang. Perjuangan kami melawan kejahatan kemanusiaan dan impunitas belum berakhir. Saya akan berjuang sepanjang hidup saya.

Follow Lateef di akun @LateefJohar