Kehidupan rumah tangga

Soal Investasi, Apa yang Membuat Perempuan Lebih Banyak Mikir Dibanding Laki-laki?

Gender seseorang dapat memengaruhi cara kita menyimpan uang. Termasuk mempersiapkan dana pensiun.
27.10.17
Gettyimages

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic

Pada awal semester, pada sebuah mata kuliah yang membahas asuransi, Vickie Batjelsmit memberikan mahasiswanya sebuah pilihan. Anggaplah mereka memiliki $6,000 dan ada kemungkinan mereka kehilangan sebagian darinya akibat risiko yang dapat diasuransikan. Nah, apakah mereka mau mengasuransikannya? "Perempuan memiliki kecenderungan memberi asuransi lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Laki-laki cenderung mengambil risiko," ujar Batjelsmit, profesor di Colorado State University yang belajar banyak soal ini selama 26 tahun terakhir. "Selama saya mengajar kelas ini, para laki-laki lebih sering mengambil risiko." Terang saja, sebagian besar penelitian soal perbedaan gender menyiratkan bahwa perempuan cenderung menghindari risiko dibandingkan laki-laki dalam hal percobaan perjudian dan pasar saham, pada umur berapapun. Perempuan berinvestasi uang lebih sedikit dan dengan cara yang lebih konservatif dibandingkan laki-laki. Dalam sebuah penelitian, laki-laki menyimpan hanya sebagian kecil dana pensiunnya untuk investasi pendapatan tetap berisiko rendah dan sebagian besarnya untuk membeli saham pegawai, dibandingkan perempuan. Pengambilan risiko finansial tidak selalu diminati (misalnya resesi 2008). Namun investasi berisiko tinggi seperti saham masuk akal untuk dijadikan cadangan dana pensiun, apalagi kalau kamu tidak membutuhkan uangnya dalam waktu dekat. Terutama karena perempuan hidup lebih lama dibandingkan laki-laki, "mereka bisa berinvestasi dengan risiko lebih besar karena mereka bisa memperkirakan kenaikan dan kejatuhan pasar saham," ujar Bajtelsmit. Faktanya, karena mereka hidup lebih lama dan akan pensiun lebih lama, perempuan sebaiknya berinvestasi lebih dan menginvestasikan uang mereka untuk aset dengan risiko lebih tinggi dan waktu lebih lama dibandingkan laki-laki. Alih-alih, mereka malah melakukan hal sebaliknya. Perempuan kurang berinvestasi untuk dana pensiun, dan lebih rentan terhadap kemiskinan di masa tua dibandingkan laki-laki. Banyak perempuan, sebagaimana diingatkan sebuah penelitian, "menghadapi risiko kekurangan dana pensiun." Pertanyaannya, apa yang membuat perempuan enggan berinvestasi? Alasan paling jelas adalah mereka terus-menerus dirugikan secara ekonomi, dibandingkan laki-laki: Mereka mendapatkan upah lebih rendah dan paket pensiun yang lebih kecil. Dengan kata lain, mereka menabung lebih sedikit karena diupah lebih sedikit. Ini juga menjelaskan mengapa perempuan cenderung khawatir soal kondisi finansial mereka dibandingkan laki-laki dan cenderung merasa kurang puas dengan kemampuan mereka memenuhi target finansial jangka panjang. Di samping itu, karena mereka tidak memiliki bantalan finansial, perempuan cenderung tidak ingin berinvestasi dalam bentuk saham, yang bisa membawa kerugian dalam keadaan darurat. "Mungkin itulah sebabnya kita mendengar perempuan berinvestasi dengan cara lebih konservatif," ujar Bajtelsmit. "Mungkin seseorang menyarankan mereka demikian!" Pilihan-pilihan berinvestasi, sebagaimana disarankan sebuah penelitian, mungkin tidak dibuat menyesuaikan pada preferensi risiko perempuan. Alih-alih, "untuk menyesuaikan pada preferensi risiko yang stereotipikal dan kemungkinan menyesatkan."


Baca artikel Vice lain yang juga membahas soal perempuan

Perempuan mungkin juga berisiko menjadi mangsa prasangka kultural soal cara menabung dan berinvestasi. Banyak perempuan berpikir mereka tidak sebaiknya bermain saham karena mereka "enggak cocok buat yang kayak gituan." Sebagaimana dijelaskan sebuah penelitian, "Alasan-alasan untuk gagal menyiapkan dana pensiun adalah, sebagiannya, terkait peran tradisional perempuan dalam masyarakat, peran yang penuh inferioritas, ketergantungan, dan pasifitas."

Penelitian menyiratkan bahwa orang-orang cenderung tidak memiliki kepercayaan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu, gagal merencanakan situasi-situasi yang tampak menantang. Jika perempuan tidak memiliki kepercayaan tersebut dalam hal perencanaan dana pensiun, mereka mungkin tidak akan mencobanya. Insekuritas perempuan mungkin membawa mereka pada iliterasi finansial, dan orang-orang yang tidak melek soal finansial cenderung tidak merencanakan dana pensiun. Sebaliknya, laki-laki cenderung kepedean soal kemampuan mereka berinvestasi, jadi mereka tidak rentan terhadap insekuritas yang dimiliki perempuan. Namun Bajtelsmit tidak percaya bahwa budaya merupakan satu-satunya alasan perempuan cenderung enggan menabung lebih banyak untuk pensiun. Perbedaan kepribadian biologis dapat menjelaskan mengapa, bahkan di saat masyarakat kita semakin adil, perbedaan cara berinvestasi antara perempuan dan laki-laki masih terus berlanjut. Contohnya, predisposisi perempuan terhadap proses pengambilan keputusan yang lengkap mungkin mensabotase dana pensiun mereka, dan ini ironis. "Perempuan kan mahir membuat rencana," ujar Bajtelsmit. Saat perempuan harus membuat sebuah keputusan dengan implikasi untuk masa depan, mereka cenderung memikirkannya terlalu serius. "Laki-laki cenderung membuat keputusan yang cepat," ujarnya, sementara perempuan memiliki banyak pertanyaan sebelum membuat keputusan. Laki-laki hanya membutuhkan satu atau dua kunjungan ke penasehat finansial untuk memutuskan sebuah produk finansial, smeentara perempuan membutuhkan rata-rata tujuh pertemuan. "Itu karena perempuan ingin memahami dengan amat baik," ujar Bajtelsmit. Konsekuensinya, beberapa perempuan gugup dan melupakan perencanaan pensiun sepenuhnya.
Intinya, perempuan mencermati pilihan-pilihan mereka dan menimbang-nimbang risiko mereka. Ini adalah ciri khas investor yang hebat—kalau saja mereka mau mengambil risiko.