Fashion

Kenapa Sih Ada Orang Terobsesi Pakai Baju 'Gaya Kere'?

Obsesi memakai busana kelas pekerja ini disambut oleh label busana ternama dunia.
20.6.17

Artikel ini pertama kali tayang di i-D Magazine.

Label busana elit berbasis di New York, Nordstrom, bulan lalu mengiklankan jeans jenis straight leg bermerek Barracuda dari varian Prps. Merujuk keterangan di situs mereka, Barracuda disebut sebagai jeans "yang melambangkan gaya berpakaian para pekerja Amerika, lengkap dengan corak lumpur, menunjukkan para penggunanya sebagai orang yang sigap dan tak takut kotor."

Iklan

Jeans ini dibanderol US$425 (setara Rp5,6 juta). Harganya yang mahal rupanya tak membuat gentar konsumen. Jeans kotor tersebut segera laris manis lewat penjualan online. Kalau kalian belum tahu, Nordstrom sebelumnya sudah menjual jogger pants untuk perempuan yang penuh noda cat. Harganya? Cukup US$300 saja (setara Rp3,9 juta). Celana ini kotor, menurut label busana itu, "agar mengesankan penggunanya selesai bekerja di sebuah studio seni rupa."

Tren busana kotor yang mengesankan penggunanya kelas pekerja kere bukan pertama kali ini muncul. Namun apa yang dilakukan Nordstrom Prps terhitung ekstrem. Sang pendiri, Donwan Harrell, mengklaim jeans dan celana kotor itu modelnya didasarkan pada pakaian yang dipakai buruh dan pekerja kasar sungguhan. Pertanyaan pun segera muncul di kepala kita semua: buat apa konsumen yang bisa membelanjakan jutaan Rupiah untuk sebuah celana ingin terlihat seperti pekerja kerah biru?

Filsuf sekaligus pakar komunikasi Roland Barthes pada 1967 sudah mewanti-wanti adanya kecenderungan semacam ini. Dia menyatakan busana adalah semacam bahasa: gabungan simbol yang dikombinasikan untuk menampilkan citra yang ingin disampaikan penggunanya. Apa yang kita kenakan membuat orang lain memikirkan citra tertentu yang muncul dari diri kita. Oleh karenanya, busana dapat membuat seseorang bergerak dinamis dari sekapan kelas sosial tertentu. Di Inggris pada Abad 18, anak muda dari kelas bangsawan secara sengaja mengenakan busana 'gaya kere' sebagai pemberontakan terhadap sistem nilai yang berlaku saat itu, walaupun mereka diuntungkan oleh status sosialnya. Di Abad 20, sempat muncul tren "ingin jadi kaya lewat busana". Hal itu dimungkinkan berkat harga jual produk premium seperti tas jinjing Louis Vuitton yang turun, sehingga bisa dibeli oleh kelas menengah. Ketika hal itu terjadi, ditambah adanya krisis global 2008. selera orang-orang dari kelas sosial atas berubah. Mereka ingin citra yang berbeda. Mereka ingin tampil kere.

AdWeek berhasil membedah cara label busana kelas pekerja di AS seperti Carhartt, Dickies', atau Filsonnow menjangkau para pembeli dari kalangan superkaya perkotaan. Ironisnya, untuk menghasilkan busana-busana penuh kesan kere itu, para buruh pabrik garmen harus bekerja lebih keras dibanding membuat jeans atau kemeja standar. Stasiun televisi Al Jazeera pada 2015, berhasil mengungkap praktik tak manusiawi yang dialami buruh pabrik baju di Cina. Untuk membuat jeans terkesan kotor, buruh dipaksa melakukan proses sandblasting, yang dilarang di berbagai negara lantaran dapat memicu penyakit paru-paru. Ambisi orang-orang kaya tampil kere dari dandanan mereka kembali mengorbankan pekerja yang tereksploitasi. Para elit itu boleh saja merasa tampak lebih miskin dari yang terlihat, namun dengan harga yang harus dibayar para buruh.

Di sisi lain, harus diakui fungsionalitas baju kelas pekerja menarik minat kalangan menengah ke atas. Baju-baju khas buruh, seperti celana atau kemeja jeans, dirancang penuh kantong untuk menyimpan perkakas kerja. Bagi orang kaya, aksen ini membantu mereka menyimpan lebih banyak barang tanpa harus membawa tas, misalnya ponsel pintar atau dompet. Tren fungsionalitas bahkan sudah mewabah di pergelaran busana elit. Masalahnya, aspek pragmatis dari sebuah busana ini berulang kali ditambahi narasi memuakkan soal citra menjadi kelas pekerja. Seakan-akan, bankir atau anak orang kaya yang memakainya otomatis terkesan seperti seorang pekerja keras.

Pengamat fashion tak pernah setuju pada model pemasaran semacam itu. Pemasaran yang mengaburkan batas-batas antar kelas dalam sebuah busana. Pilihan sadar untuk memakai busana gaya kere merupakan ciri tindakan hipokrit, sekaligus membuat sang pengguna tidak merasa terbebani pada sisi lain yang muncul dari pilihan bajunya. Termasuk pada fakta buruh berjarak ribuan kilometer, justru harus menggadaikan keselamatan demi kepuasan konsumen memakai celana jeans yang tampak kotor.

Jadi, sampai kapan obsesi memakai baju gaya kere ini akan berlangsung? Jika kita sepakat pada konsep Barthes, orang-orang yang selama ini mengenakan busana kelas pekerja, padahal aslinya berasal dari kelas atas, harus mulai merenung dan jujur tentang status sosial mereka.