Berbuka Puasa Bersama Penganut Syiah di Jakarta
Salat Maghrib komunitas Syiah di ICC Pejaten. Semua foto oleh Bambang Noer Ramadan.
Komunitas Syiah

Berbuka Puasa Bersama Penganut Syiah di Jakarta

Stigma negatif hingga persekusi menghantui 2,5 juta pemeluk Mazhab Syiah di Indonesia. VICE mendatangi para pengikut Ali, menyaksikan langsung bagaimana mereka mempraktikkan Islam dan ibadah Ramadan.

Dari jalan raya, Gedung Islamic Cultural Center (ICC) yang terletak di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan, tak terlalu menonjol karena terhimpit antara gedung-gedung perkantoran dan ruko. Satu-satunya yang mencolok hanyalah dinding luar bangunan berwarna biru muda dan krem.

Sejak Maret 2003, ICC yang berafiliasi dengan Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia menjadi pusat kegiatan komunitas muslim mazhab Syiah. ICC tak hanya menjadi tempat ibadah. Bangunan itu memiliki beragam fungsi mulai dari penerbitan, perpustakaan, hingga pusat kebudayaan dan studi Islam. Bagi saya yang dibesarkan dalam lingkungan muslim moderat, citra mazhab Syiah yang melekat di benak adalah sentimen negatif menghiasi tajuk media massa beberapa tahun terakhir. Pemicunya tentu saja tragedi pembunuhan, penyerangan, dan pengusiran jamaah Syiah dari Kabupaten Sampang, Madura, oleh warga mayoritas Sunni. Penyerangan dan intimidasi beberapa kali terjadi pada kurun 2012-2013, menimpa ratusan keluarga dari Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben. Lembaga pemantau HAM KontraS menyebut pemerintah kabupaten aktif mendukung adanya persekusi penganut Syiah. Sampai sekarang, 400 keluarga Syiah bertahan di barak pengungsian Sidoarjo, karena belum bisa kembali ke kampung halamannya.

Iklan

Selanjutnya pada 2015, Wali Kota Bogor Bima Arya menerbitkan edaran melarang perayaan kelompok Syiah di wilayahnya. Di kota tersebut—yang dinobatkan sebagai kota paling intoleran terhadap minoritas oleh Setara Institute—bercokol kelompok Aliansi Nasional Anti-Syiah (ANNAS) yang secara gamblang memburu dan mempersekusi pengikut mazhab Ahlul Bait.

Belum lagi saat googling, kalian mudah memperoleh tautan ke situs yang menuding Syiah bukan Islam, sesat, dan merusak akidah bangsa Indonesia. Serba seram pokoknya. Pendek kata, pengetahuan saya mengenai Syiah nol besar kecuali semua yang buruk-buruk, seperti diembuskan media dan situs-situs agama.

Bagian depan gedung ICC.

Beberapa jam sebelum berbuka puasa pekan lalu, saya sengaja datang ke ICC untuk melihat langsung kegiatan komunitas Syiah di sana. Saya menghabiskan beberapa menit memandangi gerbang yang kental nuansa arsitektur khas Persia, lengkap dengan ornamen Islami di sekujur fasatnya. Tak berapa lama, pengurus ICC menyambut saya, mempersilakan masuk.

"Kami selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar soal Islam," kata Ahmad Hafidz Alkaff, juru bicara ICC, saat ditemui di kantornya. Kantor tersebut tak terlalu besar, pintu utamanya dihiasi ukiran Jawa.

Di dekat Alkaff, ada meja yang dipenuhi buku-buku terbitan ICC. Kantor tersebut agak lengang sore itu. Hanya beberapa staf terlihat lalu lalang.

Alkaff, berusia 40-an, mengenakan baju koko warna coklat dipadu celana kain hitam. Tutur katanya tenang dan terkesan berhati-hati. Alkaff, telah 10 tahun mengelola ICC, menjawab semua pertanyaan-pertanyaan culun saya yang awam soal Syiah sore itu. Beberapa kali dia harus berhenti sejenak saat mengutip hadis atau ayat-ayat Al Quran. Dia tak mau pernyataannya disalahtafsirkan.

Iklan

Sampai sekarang Badan Pusat Statistik tidak mengetahui jumlah pasti penganut Syiah di Indonesia. Tokoh Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat, memperkirakan angkanya di kisaran 2,5 juta orang. Kesulitan menaksir jumlah populasi kemungkinan karena penganut mazhab minoritas Islam ini menyembunyikan keyakinan mereka di depan publik. Menurut Alkaff, dalam Syiah terdapat bermacam aliran. Yang paling umum di Indonesia adalah aliran Syiah 12 Imam atau Jafariyah. Pada prinsipnya, Syiah adalah mazhab ideologis mengarahkan umat muslim untuk lebih meneladani ibadah sekaligus tindak-tanduk Rasulullah dan menantunya Ali bin Abi Thalib R.A. Perbedaan tajam Syiah dari mazhab lain terletak pada pandangan atas keabsahan para pemimpin muslim sepeninggal Rasulullah, yang seharusnya jatuh pada Ali, bukan Abu Bakar R.A yang sampai sekarang diteladani oleh penganut Mazhab Sunni—mayoritas di seluruh dunia. Selain itu, ketika menengok artikel-artikel yang beredar, muncul kesan penganut Syiah punya tata cara ibadah yang berbeda sekali dari penganut muslim Sunni, yang saya kenal selama ini.

Sayang, Alkaff tak bisa berlama-lama menemani saya. Dia pamit meneruskan pekerjaannya. Saya pun meminta izin untuk sekalian ikut berbuka puasa bersama. Saya ingin tahu, seperti apa cara penganut Syiah menjalani ibadah Ramadan. Dengan senang hati Ahmad mengiyakan.

"Pukul lima sore ada tadarus (membaca) Al Quran. Kemudian salat Maghrib dan Isya berjamaah. Baru berbuka puasa, dilanjutkan ceramah," ujarnya.

Iklan

"Tidak ada salat tarawih, Pak?" tanya saya.

"Tidak, tapi nanti ada ceramah," balas Alkaff sambil tersenyum simpul.

Sambil menanti jarum jam sampai ke angka lima, saya menghabiskan waktu melihat-lihat koleksi perpustakaan yang terbuka untuk umum. Koleksinya sangat banyak, perkiraan saya puluhan ribu buku terpajang dengan rapi sepanjang dinding gedung. Tentu saja rata-rata buku tersebut adalah karya ulama-ulama Syiah.

Meski ICC juga berfungsi sebagai tempat ibadah, tidak ada masjid di komplek bangunan tersebut, hanya sebuah musholla berukuran kira-kira 7x8 meter. Sebagai ganti masjid, ICC dan juga semua yayasan Syiah di Indonesia, memiliki aula yang disebut husainiyah. Di husainiyah itulah semua kegiatan keagamaan dilakukan, mulai dari ceramah, tadarus, pengajian, hingga salat berjamaah.

Aula ICC berukuran cukup besar. Karpetnya tebal dan empuk. Di tembok terpacak spanduk acara mengenang wafatnya Ayatullah Khomeini, pemimpin spiritual Syiah paling berpengaruh asal Iran.

Saat saya memasuki aula, ada delapan orang jemaah saat itu yang terlihat khusyuk membaca Al Quran. Sebuah mimbar ceramah tampak di ujung kiri ruangan. Lambat laun, jumlah yang datang mendaras kitab suci bertambah banyak hingga belasan orang.

Jamaah mushala ICC menggelar tadarus Quran sebelum tiba waktu berbuka.

Mendekati waktu berbuka, jamaah bersama keluarga mulai berdatangan. Beberapa terlihat masih mengenakan kemeja khas karyawan kantoran.

"Saya sengaja datang dari kantor ke sini untuk berbuka dan salat berjamaah," ujar Fatir, karyawan yang bekerja di Jakarta Pusat dan tinggal di Bintaro.

Iklan

Fatir berasal dari Bitung, Sulawesi Utara dan berkuliah di Makassar. Dia dan keluarganya sejak dulu menganut Mazhab Syiah. Berkat ICC, dia mengaku bisa beribadah dengan tenang tanpa ada intimidasi dalam bentuk apapun.

"Di Makassar para muslim garis keras kerap mengintimidasi. Selama bulan puasa saya bakal ke ICC," tutur Fatir yang memutuskan tinggal di Jakarta tahun lalu. Dirinya mendengar soal ICC sejak berkuliah di Makassar.

Percakapan saya dan Fatir terhenti. Muazin menyerukan azan Maghrib tanda berbuka puasa. Para jamaah malam itu sekira 50 orang, berduyun-duyun membentuk shaf.

Agak berbeda dengan pengalaman saya yang dididik dalam tradisi Sunni, penganut Syiah tak langsung minum dan makan setelah azan berkumandang, walaupun tata cara dan durasi berpuasa sama saja seperti muslim lainnya. Aktivitas berbuka dilakukan sesudah ibadah salat Magrib dilakukan. Salat Maghrib dan Isya digabung dalam satu waktu, sesuai tafsir fiqih Imam aliran Jafariyah. Selain penggabungan rakaat, perbedaan lain yang kasat mata adalah pemanfaatan lempengan batu disebut turbah. Batu itu dipakai sebagai alas sujud kepala setiap jamaah. Mazhab Syiah menyatakan salat seseorang baru sah apabila kepala bersujud di bahan alami, bukan buatan manusia seperti karpet atau sajadah. Karena itu, turbah sangat penting bagi ibadah salat penganut Syiah.

Batu untuk alas sujud penganut Syiah.

Setelah tujuh rakaat salat, kami baru benar-benar berbuka. Para jamaah disuguhi kurma dan es buah sebelum lanjut ke makanan berat. Menunya sederhana; nasi, telur balado, perkedel, dan orek tempe. Para jamaah saya perhatikan rata-rata sudah mengenal satu sama lain, tampak larut dalam pelbagai topik obrolan. Kehangatan menyeruak di ruangan tersebut.

Iklan

Saya memutuskan tinggal lebih lama mendengarkan ceramah. Rasanya tak sopan pamit setelah disuguhi makan malam dan minuman segar. Selain itu, kalau saya pergi pasti akan menyita perhatian. Semua jamaah, laki-perempuan, tua-muda, tak ada yang meninggalkan aula sesudah santap malam selesai.

Ceramah malam itu diisi oleh Ustaz Miftah Rahmat. Temanya tafsir Al Quran mengenai tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi. Para jamaah takzim mengikuti ceramah yang berlangsung satu setengah jam tersebut.

Menurut Sekretaris Direktur ICC Ali Husain Alatas yang saya temui setelah ceramah, kegiatan ICC tak cuma ramai di bulan puasa saja. Pada hari-hari biasa ICC sering mengadakan seminar, diskusi, ceramah, hingga pemutaran film. Semuanya terbuka untuk umum. Ali mengatakan dalam salah satu pemutaran film, banyak penganut Katolik yang turut menonton di ICC.

"Kami tak pernah mempermasalahkan perbedaan [mazhab]," ujar Ali. "Semua tuduhan bahwa Syiah itu menyimpang dilontarkan sebagai bentuk propaganda musuh-musuh Islam."

Warga asing, dari Arab dan Persia, turut beribadah di ICC.

Ali menampik bila pendirian ICC hanya bertujuan menyebarkan ajaran Syiah di Tanah Air. Lembaga tersebut mengklaim hendak mengayomi para jamaah dari mazhab apapun dan memberikan pandangan bagi siapapun yang berniat memahami kebenaran Islam. Selain itu, Ali berpendapat mazhab Syiah sudah berkembang di Indonesia sejak awal penyebarannya pada era kerajaan masa lampau. Sehingga pendirian lembaga seperti ICC wajar belaka mengingat penganut Syiah jumlahnya di Tanah Air tak bisa dibilang sedikit.

Iklan

"Ajaran Syiah sudah masuk ke Indonesia bersama para pedagang dari Persia, Gujarat, dan Arab. Budaya-budaya di berbagai daerah juga menunjukkan hal itu. Makanan bubur merah putih contohnya, itu adalah tradisi Syiah," ujar Ali.

Di luar gedung, saya bertemu salah satu petugas keamanan, panggilannya Zainal. Dia pemeluk mazhab Sunni. Zainal bekerja di ICC selama lima tahun terakhir dan mengaku tak pernah bermasalah menjaga komplek peribadatan penganut Syiah. Zainal sempat merahasiakan tempatnya bekerja pada keluarga dan kenalan. Namun seiring waktu dia mulai terbuka dan tidak menaruh rasa khawatir.

"Awalnya saya memang tidak tahu [kalau ini tempat ibadah Syiah], tapi ketika sudah mulai bekerja, saya tidak merasakan perbedaan yang berarti," kata Zainal. "Saya di sini untuk bekerja dan mereka tidak pernah mengganggu kepercayaan saya."

Dalam perjalanan pulang, saya teringat kata-kata Alkaff saat menjawab tudingan bila ajaran Syiah menyimpang dari Islam. Dia mengibaratkan agama sebagai batang pohon. Batang adalah struktur paling kokoh dari suatu tanaman. Untuk mengetahui perbedaan suatu pohon, orang harus melihat batangnya terlebih dulu.

"Sunni maupun Syiah, batangnya sama. Semua adalah Islam," kata Alkaff. "Tuhan kami sama-sama Allah, Nabi kami sama. Kami percaya Rukun Islam. Kami juga membaca Al Quran. Lantas di mana letak perbedaannya?"