FYI.

This story is over 5 years old.

Jalan-Jalan

Jenis-Jenis Orang Indonesia Perlu Kalian Ajak Ngobrol/Hindari Pas Ketemu di Luar Negeri

Kalian pilih ngobrol sama om-om diaspora atau rombongan sosialita paruh baya doyan foto sama belanja barang branded? Ketika jauh dari tanah air, yakinlah, kalian tidak butuh ketemu jenis manusia ngeselin.
Jenis-jenis orang Indonesia yang bakal kalian temui di luar negeri.
Kolase foto oleh Ilyas Rivani.

Bayangkan kalian menyusuri trotoar kawasan Ginza, Brooklyn, atau Central London, sedang tanpa tujuan konkret. Tidak ada famili atau teman lama di sana yang bisa menemani. Kalian berada di kota itu lebih dari 24 jam dan sejak awal merasa sendirian. Mendadak ada suara yang familiar, kalian mencuri dengar percakapan pakai 'aku-kamu' atau 'elo-gue' di sebelah. Bahagia? Pasti. Ada semacam rasa hangat dalam hati yang sulit digambarkan ketika kalian bertemu orang mampu berbicara bahasa yang sama seperti kalian di tanah asing. Tapi perlukah kalian terkejut? Tentu tidak.

Iklan

Kita harus mulai sadar satu fakta ini: orang Indonesia itu banyak dan tersebar di seluruh dunia. Mereka biasa disebut diaspora. Mereka tinggal permanen, berkeluarga, bekerja, atau menetap dalam jangka waktu tertentu buat melanjutkan sekolah di berbagai negara. Jumlah diaspora asal Indonesia merujuk data terbaru mencapai 9 juta orang, dan tentu saja akan terus bertambah.

Itu baru diaspora. Belum termasuk turis musiman yang satu dekade terakhir jumlahnya melonjak terus. Data 2016 ke 2017 saja mencatat ada kenaikan satu juta turis asal Indonesia di mancanegara. Meningkatnya daya beli dan pemasukan kelas menengah Indonesia mendorong mereka lebih banyak jalan-jalan untuk belanja ataupun liburan. Pakar melihat kecenderungan wisatawan Indonesia impulsif dalam liburan, terutama di generasi millenial. Ketika penduduk negara lain harus merancang jauh-jauh hari sebelum hari H liburan, orang Indonesia cukup memburu tiket promo aja. Persoalan cuti diakali pakai prinsip "gimana nanti lah yang penting beli tiket dulu."

"Wisatawan Indonesia sangat impulsif, jangankan nunggu musim liburan, hari kejepit saja sangat berarti bagi milenial Indonesia buat wisata," kata Rhenald Kasali, guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Tampaknya banyak orang Indonesia menafsirkan positif kesimpulan penelitian State University of New York yang menunjukkan angka harapan hidup manusia yang liburan setahun sekali lebih tinggi 20 persen dari yang tidak liburan. Makanya sekarang gampang banget menemukan orang Indonesia ketika kalian sedang jalan kaki, belanja oleh-oleh, atau makan di restoran di seluruh pelosok dunia.

Iklan

Bertemu orang-orang sebangsa dapat menjadi penawar rindu kampung halaman. Apalagi kalau ketemunya tidak sengaja di jalan. Tapi nih, setelah VICE melacak lagi jenis manusia Indonesia yang bisa kalian temui secara acak di jalan, tidak semuanya berdampak positif bagi kesehatan mentalmu. Lho kok bisa? Katanya kita bakal hepi ketika bertemu sesama manusia dari Tanah Air di negeri seberang? Gini, kita wajib jeli memilah dulu sejak awal tanda-tanda mereka adalah orang kayak gimana. Soalnya, jujur aja nih, ada yang ngeselin banget perilakunya. Bisa-bisa mood kalian selama mendatangi negara lain bisa hancur justru ketika bertemu sesama orang Indonesia.

Kami menyusun daftar sosok macam apa yang sebaiknya diajak ngobrol atau sebaiknya cepat-cepat dihindari ketika kalian tidak sengaja ketemu sesama orang Indonesia di mancanegara. Berikut penjelasannya:

Kategori 1: Mereka yang Sebisa Mungkin Diajak Ngobrol

Pelajar Asal Indonesia

Ini jenis orang Indonesia yang mudah kalian temukan secara random. Mulai dari anak keluarga tajir mampus sampai yang hidup seadanya mengandalkan beasiswa. Penampilan mereka rata-rata biasa aja, enggak heboh kayak turis mau OOTD. Jika mereka merespons usai disapa, dan memperkenalkan diri sebagai mahasiswa/pelajar atau malah anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), tak perlu ragu ajak mereka ngobrol. Mereka kemungkinan besar paham betul bahasa setempat, bisa ngasih info soal tempat tinggal dan restoran murah, atau bahkan kalau beruntung sempat mengajak kita ke tempat obskur yang enggak touristy.

Tapi, ada tapinya nih, jangan sampai ngerepotin mereka dong. Kawan-kawan pelajar ini merantau jauh ke negeri orang untuk belajar (dengan uang saku terbatas pula), bukan buat jadi pemandu wisata dadakan atau ngurusin itinerary kalian selama di mancanegara. Jadi yang wajar saja. Begitu pula kawan SMA penerima LPDP/award lainnya yang kalian kontak sebelum mampir ke Inggris, Jerman, Jepang, Korsel, atau Prancis. Ajak aja ketemuan seperlunya, jangan sampai kalian tanpa sadar memanfaatkan mereka sebagai Airbnb cuma-cuma.

Iklan

Buruh Migran

Gue pribadi pernah ditraktir buruh migran asal Bandung yang mau pulang kampung di Bandara Kuala Lumpur. Gue padahal cuma ngebantuin doi check-in pesawat karena barangnya banyak banget. Gue yang awalnya mau nahan makan sampai flight tiba di Jakarta (makanan airport mahal coy) ditraktir sama ibu ini. Kami ngobrol selama makan dan gue memperoleh cerita menarik dari perempuan yang sudah tinggal delapan tahun di Negeri Jiran itu. Logatnya saja sudah bukan sunda, tapi melayu banget.

Jujur saja, buruh migran asal Indonesia bisa memberimu insights yang jauh lebih komprehensif tentang kehidupan sehari-hari di negara yang kalian datangi. Mereka bisa memberi pengetahuan akurat di luar sisi-sisi turisme. Sayangnya, ada minoritas pelancong Indonesia gengsi menyapa buruh migran domestik.

Contoh kasusnya, sok cuek padahal mendengar dan melihat teman-teman buruh migran Indonesia sedang nongkrong di Victoria Park, Hong Kong, pas hari Minggu. Enggak jarang nih, turis Indonesia pas disapa buruh migran malah berpura-pura bukan orang Indonesia. Enggak perlu sok kaleee. Buruh migran adalah manusia-manusia luar biasa yang pengalamannya akan memperkaya hidup kalian. Jangan ragu sapa mereka kalau bertemu di jalan.

Tapi prinsip dasar seperti saat ketemu pelajar wajib ditekankan. Mereka di luar negeri buat kerja, bahkan mungkin punya jam-jam tertentu yang membuat mereka sulit keluar dari kos atau tempat kerjanya. Jadi, tahu diri lah ya kalau mau minta bantuan.

Iklan

Tonton dokumenter VICE yang mengikuti perjalanan peselancar Tipi Jabrik melacak motif tato yang nyaris punah di Filipina:


Orang Indonesia Puluhan Tahun Tinggal di Luar Negeri

Mereka inilah yang paling memungkinkan jadi keluarga baru buatmu, kalau kalian tidak sengaja ketemu di jalan atau pas makan di restoran (Indonesia). Mereka biasanya gembira kalau diundang datang ke perayaan tertentu terkait Indonesia. Mereka juga rata-rata senang mengundangmu untuk makan malam di rumahnya dan jadi sosok orang tua atau kakek buatmu. Kalau beruntung, mereka bahkan akan mengajakmu jalan-jalan keliling kota, apalagi kalau mereka tahu itu kali pertama buatmu datang ke negara tersebut.

Tiap diaspora macam ini pasti punya bermacam alasan sehingga harus meninggalkan tanah air. Ada yang bahagia, sebagian tentu karena faktor menyedihkan. Be respectful sama om dan tante diaspora ini. Mereka pasti kangen berbahasa Indonesia. Beri juga kabar terbaru soal tanah air pada mereka. Kalau kebetulan ada pernak-pernik kecil dari Tanah Air yang kalian bawa, jangan ragu berikan pada mereka ya.


Kategori 2: Mereka yang Sebaiknya Dihindari

Turis Sok Asik Pamer Udah Pernah ke Mana Aja

Mereka biasanya cukup peka sama keberadaan sesama orang Indonesia. Insting mereka terlatih karena sering caper dengan pelancong lainnya. Jenis ini enggan disebut turis dan bangga dengan sebutan 'traveler'. Mereka sebetulnya enggak terlalu peduli padamu. Obrolan utama mereka tak jauh-jauh soal "udah pernah ke mana aja?" lantas memonopoli pembicaraan dengan pengalaman bepergian mereka yang segudang, tapi ya sudah gitu aja deh. Tak jarang, pertemuan diisi bagi-bagi tips traveling (tanpa kamu minta) yang menurut versi mereka jitu, padahal belom tentu juga tokcer.

Biasanya percakapan itu tidak pernah soal berbagi pengalaman. Lama-lama biasanya obrolan berubah jadi lebih banyak membahas soal diri mereka aja gitu. Terakhir, demi melancarkan misi jadi seorang travel influencer di instagram, mereka bakal follow instagram kamu, setelah kamu follow balik dengan terpaksa, mereka langsung unfollow kamu biar… followers jauh lebih banyak dari following lah bos!

Iklan

Keluarga 'Ekstra'

Kalau kebetulan lihat rombongan macam ini mengantre di bagian keberangkatan bandara internasional, sebaiknya hindari ikut antre di belakang mereka. Kecuali kalau elo emang lagi killing time atau kamu niat membantu. Mereka biasanya datang satu keluarga, bawa koper ukuran paling besar sama printilannya mulai dari stroller bayi, stroller balita, dan printilan kecil-kecil lainnya.

Geng Ibu-Ibu Gaul Tiap Menit Foto

Nah kalau tipe ini kadang bikin gue enggak mau terang-terangan ngaku kalau gue sama-sama dari Indonesia, kecuali mereka menyapa duluan. Maaf nih, buat kita-kita aja ya diskusinya. Kelompok ini biasanya terdiri dari ibu-ibu kelas menengah yang super EKSTRA kalau lagi di luar negeri sama teman-temannya. Peluang ketemu grup kayak gini bakal meningkat kalau elo lagi di tempat touristy beberapa negara macam daerah Merlion atau Marina Bay Sands-nya Singapura atau sekitar Menara Petronas Malaysia. Biasanya ibu-ibu gaul ini asik berfoto bersama gengnya. Hal yang jadi kewaspadaan utama biasanya mereka akan menggunakanmu sebagai fotografer gratisan, dan minta kamu fotoin mereka tiap jalan 10 meter. Ada pot bunga… foto. Ada air mancur… foto. Ada bule random… foto. Kalau mereka juga minta foto denganmu, anggap aja itu bonus.

Crazy Rich Indonesians

Buat pelancong kere, tak perlu berharap deh kalau ketemu mereka akan bisa sapa-sapaan. Soalnya, mereka pasti sibuk berkeliling Rodeo Drive di Beverly Hills atau keluar masuk Hermes di 24 rue du Faubord Saint-Honore untuk ‘memohon-mohon’ agar bisa membeli produk keluaran terbaru butik ternama. Mereka enggak akan peduli sekalipun kamu berusaha ramah dan menyapa sebagai sesama orang Indonesia.

Selain itu, kalau kamu dicuekin, jangan ngambek lah. Salahkan dirimu sendiri. Coba pikir-pikir lagi, ngapain juga mampir ke tempat-tempat sosialita itu ketika statusmu cuma crazy poor Indonesians?

Iklan

*Honorable Mention (mereka jelas enggak ngeselin, tapi beberapa tahun ini jadi "spesies baru" orang Indonesia yang berada di luar negeri):

'Turis' Jastip

Turis jasa titip asal Indonesia banyak tersebar di beberapa negara tujuan belanja seperti Singapura, Malaysia, Jepang, dan tentu saja Korea Selatan. Banyak di antara orang Indonesia ini mengkhususkan waktunya ke luar negeri hanya untuk belanja titipan orang dan mengambil komisi dari nilai total belanjaan.

Turis jastip yang ke Jepang biasanya mereka bakal ngincar barang-barang streetwear high-end. Sementara mereka yang ke Korsel pastinya buka jasa titip kosmetik dan skin care, lalu sibuk keliling Myeongdong. Turis jastip rata-rata sudah paham harga, tapi ada aja turis jastip impromtu yang datang ke store untuk foto-foto barang dan cek harga dan balik lagi di hari-hari berikutnya membeli barang titipan konsumen di Tanah Air.

Ciri-ciri mereka tentu saja kantong belanjaan segambreng. Apakah mereka ngeselin? Belum tentu. Tapi kalau mereka sedang luang dan ramah, jangan ragu tanya-tanya tempat belanja yang tidak bikin kantong kalian jebol di negara itu.