Robot perempuan memiliki payudara di film legendaris 'Metropolis' karya Fritz Lang
Cuplikan adegan film legendaris "Metropolis" karya Fritz Lang (screengrab via YouTube) 
robot

Kenapa Sih Robot Perempuan Selalu Digambarkan Punya Tetek?

Dari film legendaris garapan Fritz Lang 'Metropolis' hingga lukisan Hajime Sorayama, payudara robot selalu menarik dibicarakan. Rupanya ada andil kultur patriarki yang melahirkannya.
16.10.18

Jika ada satu pelajaran yang bisa kita ambil dari film tentang penggambaran robot perempuan, maka film mengajarkan untuk menampilkan robot perempuan sebagai sosok berdada besar. Metropolis, film garapan Fritz Lang yang dirilis pada 1927, adalah film yang pertama kali menampilkan robot perempuan (selanjutnya ditulis sebagai fembot atau gynoid) humanoid berkulit emas dengan sepasang payudara bundar yang besar—dua kubah kecil berwarna chrome.

Tentu saja, siapapun yang mengerjakan desain robot perempuan tahu betapa konyolnya payudara robot. Soalnya, bagian satu ini tak punya fungsi selain sebagai pemanis belaka. Para desainer robot itu bahkan sampai melingkari payudara robot dengan dua lingkaran bergaya art-deco. Maksudnya, agar kita, penonton film, mafhum jika payudara palsu hanya bagian dekoratif robot—yang sama sekali tak memiliki fungsi penting. Lebih jauh, filsuf posmodern Jacques Derrida, dalam analisisnya terhadap estetika Immanuel Kant di esainya The Parergon, mengatakan bahwa ornamen dekoratif secara teori bukan bagian sebuah obyek; kehadirannya hanya diperlukan untuk memuaskan hasrat kita. Di saat yang sama, bagian dekoratif membingkai obyeknya secara keseluruhan. Pendeknya, sisi dekoratif sebuah obyek mendefinisikan esensinya.

Contohnya bisa kita lihat dalam berbagai peralatan sehari-hari. Mulai dari headphone hingga pengering rambut punya bagian aerodinamis yang tak bergerak sama sekali. Bagian ini disertakan guna memberi kesan bahwa kedua alat tersebut punya 'kedekatan' baik dengan angin dan udara. Prinsip yang sama berlaku pada payudara robot perempuan. Buah dada metalik mendefinisikan sebuah robot sebagai fembot, meski fungsinya nihil.

1539127142327-monrobot

Tentu saja, dalam kasus fembot, proses feminisasi dimulai pada payudara tapi tak harus berakhir di sana. Penyertaan elemen dekoratif adalah metode ampuh mewujudkan konsep robot bergender. Ini menjelaskan kenapa fembot kerap dihiasi dengan alis palsu panjang dan lekuk tubuh yang aduhai. Kadang kala, fembot juga mengenakan pakaian.

Uniknya, pilihan fesyen fembot cenderung retro dengan rok, sepatu hak tinggi dan baju yang seakan dicuplik dari kaidah berbusana tahun ‘50an (perhatikan cara berpakaian android perempuan dalam film The Stepford Wives, Ex Machina, Rachel dari film Blade Runner, sampai rok khrom yang dipakai Dot Matrix di Spaceballs).


Tonton dokumenter VICE mengenai kebangkitan robot dengan kecerdasan buatan yang berpotensi dipakai untuk perang:


Bahkan saat sesosok fembot tak memiliki fungsi seksual yang eksplisit sama sekali, seperti terlihat dalam patung robot pelayan kopi 'Sweetheart' karya pematung Amerika Serikat Clayton Bailey, robot itu dipastikan akan dilengkapi dengan sepasang payudara. Dalam hal ini, payudara (palsu) ini akan kehilangan fungsi alaminya sebagai bagian tubuh perempuan yang menyediakan nutrisi, organ penghubung antara seorang ibu dan anak serta kelembutannya. Di sini, payudara cuma berfungsi sebagai obyek pemenuhan hasrat seksual orang lain—catat, bahkan bukan robot lain dan terlepas dari segala fungsi biologisnya seperti yang dijumpai pada payudara manusia. Tak heran, ketika kontroversi di seputar patung buatannya muncul ke permukaan, Clayton dengan enteng membela diri, "patung ini kan perwujudan konsep robot perempuan cantik menurut saya."

Dalam sebuah robot, gender terpisah sepenuhnya dari fungsi reproduktif, dan direduksi menjadi pemuas hasrat semata. Mirip seperti metafora untuk aktivitas seksual kaum gay, robot cuma bisa meniru dan menunjukkan sifat-sifat seksual yang hanya akan memberikan kepuasan pada orang lain atau dalam dirinya sendiri. Seperti orang yang sering berdandan bak karakter kartun yang berbentuk binatang, robot meniru sifat-sifat seksual yang tak berasal dari kaum sejenisnya.

1539127192683-Screen-Shot-2018-10-09-at-71944-PM

Layaknya kaum queer dan transeksual, robot dalam budaya populer sama-sama memiliki beban untuk tampil sebagai laki-laki atau perempuan. Dalam Ghost In The Shell, Makoto Kusanagi, tokoh utama film tersebut yang memiliki otak manusia namun sepenuhnya hidup dalam cybernetic shell, memutuskan untuk mengambil bentuk tubuh perempuan lengkap dengan payudara yang mencolok. Opsi ini dipilih karena Kusanagi tahu payudaranya tak punya fungsi apapun kecuali sebagai ornamen semata.

Di saat yang sama, bentuk robot perempuan sangat menguntungkan bagi Kusanagi lantaran dirinya nyambi sebagai PSK khusus bagi kaum lesbian—sembari tetap menjalani pekerjaan utamanya sebagai personel militer.

Makanya tak aneh bila adegan anime Ghost in the Shell (1997) menampilkan montase tubuh robot telanjang selagi tubuh Kusanagi dibentuk dalam sebuah laboratorium. Dalam adegan tersebut, payudara robot ditunjukan berbahan logam dan dilapisi oleh kulit buatan.

1539127328124-Screen-Shot-2018-10-09-at-72153-PM

Dalam film-film di atas, makin feminin sebuah karakter robot, makin urakan juga tingkah lakunya. Seperti karakter-karakter femme fatale, seksualitas gynoid kerap digambarkan berbahaya, serampangan dan selalu jadi obyek pengaturan para pemegang kuasa. Robot, seperti buruh "yang baik," semestinya mendedikasikan eksistensi untuk mengerjakan fungsinya. Namun, seperti layaknya buruh juga, saat robot menjadi sangat cerdas, mereka tak lagi bisa dipercaya karena kita lebih dulu takut mereka akan merongrong majikannya (baca: manusia penciptanya).

Makanya, kaum puritan kerap menganggap daya tarik seksual sebuah robot menyembunyikan sebuah ancaman. Pada konteks ini, payudara robot kini hanya berfungsi sebagai obyek yang menyedot perhatian dan mengganggu konsentrasi kita. Lantas dari payudara juga, fembot dalam film Austin Powers mengeluarkan senapan mesin yang bisa dengan mudah membunuh kita.

1539127343421-Screen-Shot-2018-10-09-at-72053-PM

Dalam anime dan manga karya Go Nagai, Great Mazinger, kita bisa menemukan karakter robot alien perempuan besar bernama Venus A. Lagi-lagi, robot ini punya payudara berukuran besar. Malah, sejatinya, payudara ini adalah roket yang bisa ditembakkan karakter utama film itu ke arah musuhnya.

Dalam bukunya In a Queer Time and Place, Jack Halberstam menjelaskan bagaimana robot-robot perempuan ini menunjukkan bahwa femininitas bukan suatu yang sifatnya alamiah namun seringkali artifisial. Ekstensi rambut, ekstensi bulu mata, breast implant, kuku palsu, make up semua menunjukkan bahwa femininitas adalah produk sebuah industri.

1539127366980-Screen-Shot-2018-10-09-at-72236-PM

Namun sebaliknya, dalam lukisan-lukisan pinup chrome Hajime Sorayama, keterpisahan antara femininitas dan segala yang berbau alamiah adalah sesuatu yang positif. Payudara chrome dalam lukisannya tampak lebih rata ketika obyek lukisannya berbaring dan menggantung saat obyeknya merundukkan tubuh.

Sorayama mengakui bahwa ketertarikan terhadap perempuan dalam pinup adalah karena perempuan-perempuan ini bukan sosok-sosok yang tiap hari dia temui, melainkan sosok-sosok asing ideal yang membuatnya menjadi bak "dewi."

1539127396848-Screen-Shot-2018-10-09-at-72304-PM

Payudara robot tak harus mengeluarkan air susu karena robot tak beranak pinak. Pun, robot tak perlu bereproduksi karena mereka tak bisa mati. Seperti dewa-dewi di kayangan, eksistensi sejati robot tak berupa bentuk fisik mereka tapi blueprint yang dijadikan acuan produksi tiap tiruan robot tersebut.

Dalam Metropolis, gynoid diciptakan sebagai cara mengatasi trauma kehilangan seorang perempuan yang dicintai; dewi-dewi chrome ini adalah perwujudan ideal femininitas yang tak pernah berakhir serta tubuh perempuan yang tahan lama dan mengkilap bak logam sekaligus lembut untuk disentuhnya.

Pendeknya, robot perempuan adalah manifestasi kenikmatan dan kepuasaan tanpa akhir yang, jika tak gratis, bisa diperoleh dengan harga yang bersahabat.

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE