Cerita Hantu VICE

Mitos Kolor Ijo Adalah Gambaran Massifnya Pemerkosaan di Negara Kita

Kolor Ijo tidak seram, sebab kenyataan perempuan kapanpun bisa dilecehkan dan diperkosa di jalanan ibu kota jauh lebih mengerikan.
GD
ilustrasi oleh Gumilang DB
31 Oktober 2018, 11:08am
Penampakan Kolor Ijo
Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng

Kami percaya cerita-cerita hantu yang khas Indonesia tidak begitu saja muncul dari ruang hampa. Sebagai folklore, cerita-cerita itu adalah ekspresi kultural suatu masyarakat tertentu, yang diteruskan dari mulut ke mulut, dari generasi satu ke generasi berikutnya. Dalam banyak kasus, cerita hantu bahkan punya peran sosiologis, peran yang jauh lebih besar daripada menakut-nakuti bocah semata. Analisis, cerita, dan telaah kami mengenai hantu-hantu Indonesia itu kami rangkum dalam seri Cerita Hantu VICE yang dirilis untuk meramaikan Halloween 2018. Selamat membaca!


Monster seram pertama yang saya kenal seumur-umur konon hidup di luar garasi rumah orang tua. Tapi selama saya mengikuti aturan, niscaya semua akan aman-aman saja. Orang tua dulu sering bilang kalau saya bebas keluyuran ke mana saja di ketika matahari masih terik, asalkan saya pulang sebelum Magrib. Konon, hantu, setan, dan monster akan keluar saat matahari terbenam. Sewaktu masih kecil, saya sering diperingati soal hantu-hantu ini. Tapi, ada satu monster yang paling nempel di ingatan: Kolor Ijo.

"Sasa masuk rumah, nanti diculik Kolor Ijo!" begitu teriakan ART di rumah dulu. Saya selalu menurut. Mendengar teriakan tadi saya pasti buru-buru masuk rumah lewat garasi dan mengintip ke luar sembari menutup pintu. Apa mungkin si Kolor Ijo ada di luar sana? Dia enggak pernah muncul sih, tapi saya yakin dia bisa muncul kapan saja.

Dalam bayangan saya, Kolor Ijo bentuknya monster hijau besar dan jelek yang cuma pakai celana pendek. Bayangan ini saja sudah cukup bikin saya yang masih 7 tahun ketakutan. Saya percaya si Kolor Ijo akan menculik dan menyembunyikan saya di bawah lengannya yang berkeringat, dan warna hijaunya akan nempel ke muka saya.

Sampai sekarang, saya enggak pernah suka sama monster-monster hijau berkepribadian "baik"— mau itu Shrek, Hulk, sampai Mike Wazowski. Memang, sudah 10 tahun lebih saya berhenti nurutin aturan "pulang sebelum Magrib," tapi gambaran Kolor Ijo terus saja nempel di otak. Baru-baru ini saya menyadari sesuatu, bahwa Kolor Ijo itu sebenarnya pemerkosa.

Kolor Ijo akan menghipnotis perempuan yang menjadi korbannya sampai mereka terlelap. Setelah itu, makhluk gaib ini akan merampok rumah dan memerkosa mereka. Dan ternyata, Kolor Ijo memang didasarkan atas sosok pemerkosa yang benar-benar ada di dunia nyata. Pemerkosa yang bernama Buasir Nur Khotib tersebut pernah meneror penduduk di Probolinggo, Jawa Tengah, selama 10 tahun. Buasir baru berhasil ditangkap pada 2014, setelah dia memerkosa 31 perempuaan, baik itu ibu-ibu maupun gadis remaja. Dia lalu dijatuhi hukuman 16 tahun penjara. Sosok monster hijau menyeramkan ini pun tercipta karena ulahnya.

Setelah Buasir, ada banyak Kolor Ijo lainnya. Bala, contohnya, memerkosa 30 perempuan, dan dia juga dijuluki sebagai Kolor Ijo oleh media. Saya geram waktu mengetahui fakta-fakta ini. Hantu-hantu di Asia Tenggara terkenal akan kematiannya yang tragis. Sebagian besar hantu perempuan di Indonesia adalah korban pelecehan seksual atau kekerasan berbasis gender lainnya. Kita ambil contoh kuntilanak.

Arwah gentayangan ini akan menyamar sebagai perempuan cantik untuk memangsa laki-laki yang menatapnya. Dia bebas berkeliaran di malam hari karena semua orang takut padanya. Sayangnya, perempuan di seluruh dunia tidak punya kebebasan yang sama sepertinya.

Wewe Gombel, makhluk halus dari mitos Jawa, akan menculik anak kecil dan membesarkannya karena dia tidak bisa punya anak semasa hidupnya. Para orang tua dibuat takut oleh Wewe Gombel. Padahal, menurut legenda, hantu ini bisa merawat anak-anak yang diculik dengan baik. Bahkan jauh lebih baik daripada orang tua asli mereka. Hantu-hantu perempuan di Indonesia pasti pernah mengalami masa hidup yang tragis, dan patriarki adalah akar masalahnya.

Sedangkan Kolor Ijo melakukan tindak kejahatan yang sering dilakukan oleh banyak laki-laki di dunia nyata. Bedanya, warna kulit mereka tidak hijau. Hal ini juga menunjukkan betapa buruk imajinasi kita ketika menggambarkan hantu laki-laki. Mengapa hantu perempuan di Indonesia selalu digambarkan mati tragis, sedangkan hantu laki-lakinya merupakan predator seksual? Kenapa enggak ada monster yang menyelamatkan anak laki-laki dari orang tuanya yang kejam?

Kekerasan yang dilakukan laki-laki dan aktivitas seks tanpa persetujuan kadung dianggap lumrah di Indonesia. Imbasnya, kejahatan seksual Buasir tak hanya langgeng sebagai legenda urban, tapi juga diangkat sebagai menjadi sinetron sepanjang 26 episode.

Tentu saja, menurut gue sih, 26 episode itu sudah kelewat panjang untuk mengisahkan kejahatan manusia brengsek yang memerkosa perempuan di TV. Belum lagi, terdapat film-film horor berbudget cekak yang mengangkat tema-tema serupa dirilis nyaris tiap Minggu di Indonesia. Sejauh ini sih, saya paling males nonton film-film seperti ini. Lagian, buat apa nonton film horor murahan tentang pemerkosa berantai sementara di saat yang sama pemerkosa beneran berkeliaran di jalanan.

Bagi saya sebagai perempuan, jalan kaki sendirian di Jakarta merupakan kemewahan sekaligus pertaruhan besar, apalagi jika dilakukan di malam hari. Sewaktu masih kecil, saya tinggal di perumahan di kawasan pinggir kota yang relatif aman. Sekarang, saya menyewa kamar kosan di kawasan Jakarta yang padat dan akhirnya harus pulang jalan kaki habis kerja atau nongkrong.

Kadang saya berharap bisa santai dan berkata “Bodo amat lah,” sambil menyumpal kuping pakai earbud, mendengar podcast, sambil berjalan pulang ke rumah malam-malam dengan bahagia. Sayangnya, kenyataan mengajarkan saya agar selalu waspada, mata terbuka lebar, tinju dikepalkan dan siap menghajar "kolor ijo" betulan yang berkeliaran di jalanan ibu kota.