Depresi

Fans Musik Emo Galau Lebih Mudah Mengalami Depresi

Kabar buruk bagi kamu yang masih sering mendengarkan The Used dan Dashboard Confessional: penelitian menunjukkan musik favoritmu cenderung memperburuk kondisi depresi.
30.5.17
Foto ilustrasi penggemar emo oleh akun flickr Jason Rogers.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

I know you well enough to know you'll never love me. Potongan lirik dramatis dari Taking Back Sunday tersebut mungkin bisa mewakili genre musik emo secara keseluruhan. Mulai dari Bright Eyes hingga My Chemical Romance, genre ini kerap dikritik dengan tuduhan bahwa musik emo yang cenderung muram bisa membuat pendengarnya semakin emm…galau. Dalam sebuah penelitian baru, "Group Rumination: Social Interactions Around Music in People with Depression," peneliti menginvestigasi dampak dari musik sedih terhadap pendengar yang mengidap depresi ketika didengarkan dalam sebuah grup.

Iklan

Catatan dari tim peneliti menuliskan bahwa banyak penelitian terdahulu meyakini menangis di depan publik memberikan banyak manfaat psikologis (emo banget ya). "Pertanyaannya adalah apakah musik galau memiliki efek yang sama ketika didengarkan bersama-sama dalam sebuah grup," tulisnya. Penelitian tersebut mensurvei 697 peserta dari internet dan menanyakan mereka tentang jenis musik favorit, bagaimana mereka mendengarkan musik dan perasaan yang ditimbulkan ketika mereka menikmati musik tersebut. Mereka juga diminta mengisi survei yang mengukur gejala kecemasan, stres dan depresi.

Menurut hasil penelitian, ada dua pola spesifik dari kebiasaan mendengarkan musik para peserta: "Mereka yang hobi mendengarkan musik sedih kerap membicarakan hal-hal galau," dan "Mereka yang mendengarkan musik riang kerap membahas musik dan kehidupan secara lebih umum." Mereka yang masuk dalam kategori pertama memiliki kecenderungan lebih tinggi merasa depresi setelah mendengarkan musik dalam grup, sementara kelompok kedua justru merasa bersemangat setelah mendengarkan musik.

"Ada asumsi bahwa anak remaja pengidap depresi menerima dukungan sosial ketika berada dalam sebuah grup," jelas peneliti, "namun penelitian kami menemukan bahwa dampak positif interaksi grup sendiri bergantung pada jenis percakapan yang terjadi dalam grup."

Kritik pedas terhadap musik emo biasanya muncul setelah terjadi tragedi mengerikan, misalnya ketika dua remaja perempuan yang sering mendengarkan musik emo melakukan bunuh diri. Namun para peneliti bersikukuh bahwa penelitian mereka tidak dimaksudkan untuk menyalahkan musik emo itu sendiri. "Tidak ada genre musik atau sub-kultur yang seharusnya disalahkan atas fenomena bunuh diri di kalangan orang muda," jelas mereka. "Namun, individu-individu yang gemar menganalisa pemikiran-pemikiran negatif cenderung tidak diuntungkan oleh interaksi grup, karena feedback yang didapat justru memperparah perasaan dan pikiran-pikiran negatif." Amy, seorang anak emo yang aktif mendengarkan jenis musik ini dari umur 11 hingga SMA, mengamini hasil penelitian tersebut. "Ada batas tipis antara menjadi anak remaja penuh hormon seperti umumnya dan menjadi pengidap depresi klinis," ujarnya saat diwawancarai Broadly. "Musik emo kadang bisa membantu seseorang, tapi juga mungkin memperparah perasaan depresi. Kalau anda tidak punya lingkungan yang suportif, kegiatan ini tidak dianjurkan."

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa "Interaksi sosial yang membantu seseorang memproses emosi secara membangun, hasilnya cenderung lebih positif." Russ, seorang anak emo lainnya menyetujuin pernyataan ini. "Menggunakan musik emo sebagai catharsis itu membantu, tapi mengasihani diri sendiri itu tidak," tambahnya. Biarpun tidak lagi depresi, Russ masih menganggap dirinya sebagai anak emo. "Saya masih mendengarkan musik emo. Banyak band favorit saya masih berada dalam ranah emo. Buat saya musik emo adalah bentuk terapi, cara mengekspresikan diri."