Cerita Tragis Mido, Pesepakbola yang Pernah Bikin Ibrahimovich Nampak Cupu

FYI.

This story is over 5 years old.

Sepakbola

Cerita Tragis Mido, Pesepakbola yang Pernah Bikin Ibrahimovich Nampak Cupu

Lima belas tahun lalu, Ajax punya dua pemain muda berbakat. Salah satunya Zlatan Ibrahimovic, striker dengan skill mumpuni. Sehebat apapun Zlatan, saat itu dia selalu kalah tajam dibanding Mido. Kenapa nama yang terakhir malah tenggelam?

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports

Banyak yang bisa terjadi di kancah persepakbolaan internasional sepanjang kurun 15 tahun. Pada 2001, Leeds United yang ditukangi Peter Ridsdale mengecap manisnya papan atas Liga Inggris. Newcastle United berjuang mencapai zona Liga Champions, dan Kevin Philips, striker Sunderland, meraih sepatu emas Eropa tahun itu. Sementara itu, di Belanda, striker belia Ajax bernama Zlatan Ibrahimovic sedang sibuk mencuri perhatian di marwah teratas kompetisi antar klub Eropa. Namun, Zlatan bukan talenta ujung tombak Ajax paling menjanjikan. Kemilau Zlatan kalah dari rekan satu timnya, yang usianya dua tahun lebih muda dari Zlatan. Bahkan, si yunior ini sukses menggelontorkan dua kali lebih banyak gol darinya. Pada diri Zlatan yang kala itu baru berusia 20 tahun, Ajax menaruh harapan besar. Sedangkan pada diri Ahmed Hossam Hussein Abdelhamid, atau Mido untuk lebih gampangnya, harapan lebih besar dititipkan oleh petinggi manajemen Ajax. Mido, yang semasa kecil dianggap bocah ajaib, meninggalkan kampung halamannya menuju Belgia saat baru 16 tahun. Tiga tahun berselang, Mido atlet keturunann Mesir paling ternama di muka Bumi. Laiknya seorang superstar, Mido tak pernah canggung mengeksploitasi ketenarannya. Semasa masih bermain di bawah bendera klub Gent, Mido sempat memacari Miss Belgia. Keduanya diperlakukan bak Beckham dan Posh Spice oleh tabloid gosip. Usia Mido baru genap 20 tahun saat pernikahannya yang megah disiarkan langsung di stasiun-stasiun televisi Mesir. Itulah acara yang paling menyedot penonton TV Negeri Piramida tahun itu. "Di Mesir, dirinya diperlakukan bak dewa," kata Ronald Koeman, mantan pelatih Ajax tentang Mido yang baru berusia 19 tahun saat membela tim berseragam merah putih itu dalam laga persahabatan di Kairo. Mido, sang striker muda andalan Ajax itu selalu dikerubuti penggemar, ke manapun dia melangkah. Itulah masa ketika ketenaran Mido setimpal dengan talenta yang dia janjikan. "Semua orang dibuat terperangah. Para pencari bakat, staf teknis, pokoknya semua yang pernah lihat Mido beraksi berpikir dia punya bakat yang luar biasa," kata Leo Beenhakker, direktur teknis Ajax waktu itu. Mido dan Ibrahimovic sama-sama melakoni debut profesional musim kompetisi 2001/2002. Keduanya memenangkan trofi pertama mereka langsung di musim yang sama. Akan tetapi, ada perbedaan besar dalam sumbangsih keduanya terhadap klab. Ibrahimovic lebih terbiasa menonton aksi rekan setim dari pinggir lapangan. Tahun itu, performa Ibra anjlok. Selepas Desember 2001, pemain asal Swedia ini hanya mampu menelurkan satu gol. Mido, sebaliknya, sedang berada di atas angin. Di sembilan laga terakhir musim itu, Mido menyarangkan 10 gol. Capaian ini sudah cukup memaku Ibrahimovic di bangku cadangan, sementara Mido digelari "Raja Kairo" di antara pendukung Ajax. Di Mesir, tanah air Mido, kekaguman pecinta sepakbola pada sosok Mido mencapai puncak. "Mido adalah nama yang dipikirkan semua orang. Mido adalah nama yang keluar dari bibir-bibir laki-laki dan perempuan Arab. Di Mesir, dia bak Maradona bagi orang Argentina, atau bahkan lebih dari itu," demikian tertulis dalam profil Mido yang dimuat surat kabar the Guardian dalam artikel yang terbit 2013 lalu.

Iklan

Mido mengganjal gelandang Arsenal, Patrick Viera, dalam laga di Liga Champions. Foto oleh PA Images.

Ditopang pemain sayap yang menjulang Andy van der Meyde, Mido bersama Ibrahimovic memulai kolaborasi hebat: trio pemain bengal siap menaklukan dunia. Sampai saat ini, orang Belanda masih kerap menceritakan kisah tatkala ketiganya ikut balap jalanan di pinggiran Amsterdam ("Zlatan punya Mercedes, Mido gonta-ganti mulu antara Ferrari dan BMW Z"). kala itu, dua center-forward ini kelihatan bersemangat menikmati hasil jerih payah mereka di lapangan.

Seringkali, permainan keduanya nyetel di lapangan. Semuanya baik-baik saja kalau situasi sedang adem. Bencana akhirnya meletus ketika pertikaian di antara keduanya pecah. Pernah, suatu kali di ruang ganti, Mido melempar gunting ke arah Ibra, perbuatan tercela yang bikin dia dibangkucadangkan pelatih Ajax. "Aku menghampirinya untuk memberi sedikit pelajaran. Sepuluh menit kemudian kami sudah hampir adu jotos," kenang Zlatan dalam otobiografinya. "Beberapa waktu kemudian, kami tahu gunting yang dilempar Mido disimpan manajer tim kami untuk ditunjukkan pada anaknya." Selain gampang emosi, keduanya punya ketekunan mengagumkan menjaga mitos tentang diri mereka sendiri. Baik Mido maupun Ibra rajin memberikan pernyataan-pertanyataan songong saat diwawancarai media. Tatkala ditanya awak pers tentang proses adaptasi istrinya di Belanda, Mido menjawab, "tentu saja dia baik-baik saja. Dia bareng saya. Masa enggak bahagia?". Kata-kata macam itu adalah gaya menjawab yang Zlatanesque. Memang kalau sudah urusan ego, Mido dan Zlatan bagaikan pinang dibelah dua. Meski watak kedunya nyaris mirip, songong, sekaligus besar mulut, latar belakang keduanya bak langit dan bumi. Mido lahir dalam keluarga kaya di Kairo. Ayahnya pebisnis sukses, membiayai Mido kuliah di jurusan olahraga di universitas swasta terkemuka. Sebaliknya, jalan yang ditempuh Zlatan sampai ke posisinya sekarang dimulai dari ghetto Kota Malmo di Provinsi Rosengard. "Kaleng bir, musik Yugo, kulkas kosong, dan perang balkan, kira-kira itulah yang tersaji di rumah kami," tulis Zlatan, anak dari pasangan imigran asal Bosnia. Satu anak tajir dan satunya anak kere. Dua-duanya adalah pesepakbola yang begitu berbakat dan sangat antiotoritarian. Dengan modal tersebut, 15 tahun lalu terbit dugaan jika keduanya bakal jadi raksasa kancah persepakbolaan Eropa. Dugaan itu agak meleset. Tak bisa dipungkiri, hanya satu dari keduanya yang mampu mewujudkan nubuat itu: Zlatan. Karir Mido sebaliknya, menukik drastis. Karir Zlatan sesudah lepas dari Ajax gilang gemilang. Zlatan sukses mencetak 330 gol selama karirnya. Dia mampir ke enam klub besar Eropa, serta sukses mengoleksi 16 trofi juara dari berbagai ajang. Mido hanya mencatatkan 49 gol selepas pergi dari Ajax, sempat dipinjamkan ke Barnsley, dan kurang nyetel saat dipasangkan di depan bareng Carlton Cole. Ketika Zlatan masih nangkring di skuad utama Manchester United musim lalu, Mido sudah tiga tahun pensiun. Mido hanya bertahan dua musim di tim senior Ajax. Dia punya sifat ngambekan. Perangainya itu tidak bisa lagi ditolerir oleh Ronald Koeman yang kadung jengkel. Lepas dari Ajax, Mido sempat bermain sebentar buat Celta Vigo, lalu ke Marseille (di sana dia membangun kolaborasi bareng pemain modern lain yang tengah naik saat itu, Didier Drogba), ke AS Roma, sebelum menghabiskan dua setengah musim di Spurs, klub di mana dia hampir bisa bersikap tenang di bawah sosok Martin Jol yang sangat kebapakan. Dari Spurs, Mido sempat menghabiskan setengah dekade berkutat di liga-liga kelas kasta rendah Inggris, termasuk dua musim dipinjamkan ke liga Mesir, sebelum akhirnya pensiun, perutnya menggembul, dan lebih sering cedera di umur 30 tahun. Pertandingan klub-klub yang dia bela di akhir karirnya—Middlesbrough, West Ham, Wigan, Barnsley—tidak pernah penuh dihadiri penggemar di stadion. Setelah meninggalkan Spurs, dia tidak pernah mencetak lebih dari empat gol dalam satu musim. Masalah kebugaran fisik dan perilaku buruk membuntuti Mido, ke manapun dia pergi. Karir internasionalnya penuh pertengkaran, sedikit aksi memukai, namun lebih banyak lagi perselisihan. Zlatan tentunya kita kenal sering ngomel ke pelatih, manajemen, serta pemain lawan. Namun sikap suka berulah itu diikuti dengan pembuktian di lapangan, dari koleksi medali yang terus menumpuk sejak debutnya dimulai di Ajax. Koleksi gelar Mido hanya pernah bertambah dua kali semenjak itu—dan keduanya datang dalam situasi kurang ideal.

Berat badan Mido jadi masalah besar di penghujung karirnya. Foto oleh PA Images.

Pada 2006, Mesir mencapai final Kejuaraan Sepak Bola Afrika, sebelum akhirnya meraih piala pertama mereka dalam satu dekade sebagai tuan rumah, setelah mengalahkan Pantai Gading lewat adu penalti yang menegangkan. Momen ini seharusnya menjadi titik puncak dari karir Mido—tapi dia justru harus menonton rekan-rekannya dari bangku penonton. Dia menerima hukuman karena marah-marah ke pelatihnya, Hassan Shehata, setelah ditarik keluar lapangan di laga semifinal. "Kalau saya tidak diganti, saya pasti sudah mencetak gol. Saya meminta maaf ke para penggemar, tapi tidak sudi meminta maaf ke Shehata," kata Mido. Sehari sebelum pertandingan final, permintaan maaf yang lebih ikhlas membuatnya diundang ke stadion untuk pertandingan final. Semua itu tidak cukup untuk membuat pelatih luluh dan memasukannya ke lapangan. Di 2010, cerita kemenangan yang pahit kembali terjadi. Ketika karir sepakbolanya meredup di Middlesbrough, dan tidak ada pelatih yang bersedia meminjamnya secara permanen, mantan pelatihnya, Martin Jol, memberinya kepercayaan. Jol meyakinkan Ajax untuk meminjam Mido selama setahun. Setelah menghabiskan berminggu-minggu berkutat dengan cedera, dua gol yang dia cetak dalam lima penampilan sebagai pemain cadangan, akhirnya mendaratkan kesempatan untuk bermain dari menit pertama—dan dia langsung mencetak gol. Sayangnya, hasil imbang 1-1 melawan Nijmegen dari pertandingan tersebut memaksa Jol mengundurkan diri. Satu-satunya sekutu Mido dalam ruang ganti lenyap, dan setelah klub diambil alih oleh Frank De Boer hingga akhir musim, striker tersebut langsung didepak dari klub hanya kurang dari 2 minggu.

De Boer berhasil memutarbalikkan nasib Ajax secara spektakuler dan memenangkan liga dengan selisih dua poin: margin yang dimungkinkan akibat dua gol sumbangan Mido. Sayangnya ketika arak-arakan bus kemenangan tiba, dia sudah lama didepak, dan harus kembali mengalami masa pinjaman tidak menyenangkan di Mesir. Tiga tahun kemudian, seiring Mido memutuskan untuk pensiun, teman lamanya Zlatan justru sedang panas-panasnya di Prancis dan menyumbang 30 gol, membantu mendatangkan gelar juara Ligue 1 yang pertama bagi PSG dalam dua dekade. Lalu bagaimana dengan nasib Mido? Dia justru harus mencukur kepalanya di TV nasional Mesir setelah kalah taruhan akibat keberhasilan Leicester City memenangkan Premier League. Sepintas, kita akan terdorong melihat dua pemain ini sebagai dua sisi yang berbeda dari koin yang sama: dua atlet jenius, tapi nasib mereka berbeda, secara tidak langsung mengingatkan kita akan pentingnya ambisi, dedikasi, dan keinginan memperbaiki diri. Namun untuk melihat dua pemain ini sebagai ujung spektrum satu sama lain sebenarnya merupakan simplifikasi yang berlebihan. Nasib mereka mungkin berakhir sangat berbeda, tapi persahabatan mereka tidak pernah pudar. "Zlatan itu hebat," ujar Mido ketika ditanya soal teman lamanya itu dalam wawancara TV pada 2014. "Dia tidak pernah moody sama sekali, dia adalah orang teramah yang akan pernah kamu temui. Saya ngobrol dengan dia pekan lalu." Bagi Ibra, popularitasnya merupakan hasil dari kerja keras yang terbayar oleh kesuksesan—dan sebetulnya datang lumayan terlambat. Dia sudah lama menjadi pemain sepakbola terbaik di Swedia, namun baru mulai diakui setelah memenangkan Jerring Prize, bentuk penghargaan bagi figur olahraga paling populer di Swedia. "Saya mengerti itu adalah tanda bahwa saya sudah diterima, bukan hanya sebagai pesepakbola, tapi sebagai manusia," tulisnya. Bagi Mido, ketenaran sudah berdatangan semenjak dia remaja—berdasarkan potensi dan bukan pencapaian—dan dia sudah dianggap sebagai pahlawan nasional bahkan sebelum beranjak dewasa. Penerimaan dan identitas justru tidak pernah menjadi masalah bagi Mido.