Netflix · Filme și seriale

11 Film Dokumenter Paling Cerdas di Netflix

Perkaya pengetahuanmu dengan film dokumenter tentang kisah hidup sepasang kembar siam, kerusuhan di LA tahun 1992, hingga tahun terakhir Rocco Sifredi di kancah film porno.
Dari kiri The Rachel Divide dan Five Came Back. Foto: Netflix

Mungkin satu-satunya cara mengisi otak paling cepat—bahkan secepat Neo belajar segala macam hal di film The Matrix—adalah dengan nonton film dokumenter. Toh, yang kamu lakukan hanyalah duduk di depan layar—atau selonjoran di depan laptop dan menekan tombol play. Netflix, raksasa streaming film masa kini, ternyata juga punya pasokan film dokumenter penuh gizi bagi otak kita. Temanya pun bermacam-macam mulai dari perbudakan dalam sebuah rombongan sirkus hingga kisah tentang masa awal industri porno hardcore.

Iklan

Berikut adalah list film dokumenter yang tersedia di Netflix yang berpotensi menjadikan kalian pintar dalam sekejap setelah menontonnya.

Selamat menonton.

Bound by Flesh

Dokumenter besutan Leslie Harter Zemeckis menyorot dua bersaudara kembar siam Daisy dan Violet Hilton untuk mengungkap kegemaran penduduk Amerika Serikat mengungkit-ungkit keanehan orang lain. Seturut cerita dalam dokumenter ini, Daisy dan Violet lahir pada 1908 dan langsung dijual pada sebuah rombongan sirkus yang memperlakukan mereka bak budak. Film ini tak membahas serba-serbi budaya Amerika yang level keanehannya nyaris sama dengan episode-episode dalam serial American Horror Story, tapi juga memberikan penjelasan yang begitu relevan tentang kenapa kita tak bisa mengenyahkan ketertarikan kita akan freak show.

The Confession Tapes

Maaf ya para penggemar cerita-cerita true crime, tapi apa yang kamu tonton dalam serial-serial semacam Mindhunters itu sudah disesuaikan dengan narasi seseorang. Kendati cerita-cerita true crime umumnya menyulut emosi penontonnya, sejatinya banyak—jika tidak sebagian besar—fakta di dalamnya sudah dimanipulasi. Agar kita tak terlalu delusional saat menonton serial bertema true crime, sila dapatkan penawarnya dengan menonton The Confession Tapes, sebuah “dakwaan dalam tujuh bagian terhadap sistem hukum kriminal di Amerika Serikat” yang membedah betapa jamaknya dan pelik kasus-kasus pengakuan palsu, yang umumnya terjadi jika kebenaran dikesampingkan dari sistem keadilan yang berlaku di AS. intinya sih, jangan berhenti nonton SVU atau Mindhunter (karena memang bagus banget), tapi ada baiknya tonton dokumenter ini sebagai bandingan.

The Eighties

Tak berada di level yang sama dengan I Love the ‘80s keluaran VH1—ini jelas mengecawakan. Akan tetapi, dokumenter CNN yang menyigi dekade terbaik yang pernah dilalui Amerika Serikat memberikan potret penuh warna tentang tingkah laku dan angan-angan yang ada saat itu serta kelak membentuk segala sesuatu yang kita lihat hari ini. Segala sesuatu yang dibahas dalam The Eighties memang memancing kita untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Dan memang itulah fungsi film dokumenter macam ini: menunjukkan ke mana kita harus memusatkan pikiran kita.

Iklan

Five Came Back

Five Came Back mengisahkan lima sutradara Hollywood, Frank Capra, George Stevens, John Ford, John Huston, dan William Wyler, pyang mengepak kamera mereka dan ikut serta dalam Perang Dunia II. Dokumenter disajikan dalam bentuk seri yang terdiri dari tiga bagian. Merryl Streep diganjar Piala Emmy atas perannya sebagai narator dalam dokumenter ini. Cerita-cerita macam inilah yang membantu kita—cinephile atau bukan—memetakan penggunaan film sebagai mesin propaganda.

Flint Town

Tiga orang sutradara, Zackary Canepari, Drea Cooper, dan Jessica Dimmock, yang menghabiskan satu tahun bersama kantor kepolisian di Flint, Michigan. Hasilnya sebuah dokumenter kompleks lagi indah (sekaligus bikin kecut) yang terdiri dari delapan episode. Aspek sinematografi Flint Town pantas diacungi jempol, pendekatan realisme dan naturalisme dalam film inilah yang membawamu ke jantung kantor kepolisian kota paling miskin dan berbahaya di Amerika Serikat.

Gates of Heaven

Dokumenter panjang pertama Errol Morris yang konon telah ditonton oleh Roger Ebert sebanyak 30 kali. “Aku menaruhnya dalam daftar 10 film terhebat sepanjang masa. Aku serius. Film dokumenter berdurasi 85 menit tentang kuburan hewan peliharaan ini memberikan saya lebih banyak bahan yang bisa aku pikirkan selama 20 tahun ke belakang daripada film-film lainnya,” ujar mendiang Ebert pada 1997.

LA 92

Apakah 1992 adalah akhir dari dekade ‘80an? Sineas Daniel Lindsay dan T.J. Martin membawamu kembali ke tahun itu dengan paparan tajam mereka akan kasus pemukul Rodney King dan apa yang terjadi setelahnya. Dokumenter sepanjang 114 menit ini adalah tontonan wajib bagi siapapun yang tertarik mendalami masalah ras dan kelas di Negeri Paman Sam

PBS’ American Experience

Kalau kalian hendak belajar apapun, tempat pertama yang harus kalian sambangi adalah perpustakan. Setelah itu, kamu mesti nonton PBS. pertama kali tayang pada 1988, seri dokumenter American Experience—yang kini sudah mencapai episode 330—dimulai dengan kegemparan—ehm masksudnya dengan episode berjudul "The Great San Francisco Earthquake.” Tiga musim kemudian, seri ini menjadi sarang pembuat dokumenter bagus tapi jarang dikenal orang semacam Steven Ascher, Stanley Nelson Jr., dan Rory Kennedy. Alhasil, klaim PBS sebagai “TV's most-watched history series” bukanlah tanpa bukti. Untungnya, kamu sekarang bisa nonton lewat Netflix beberapa episode penting dari seri dokumenter ini seperti, you g “Rachel Carson,” “Oklahoma City,” dan “Ruby Ridge.”

Iklan

Tab Hunter Confidential

Kadang, satu buah cerita bisa mengubah intepretasi kita akan masa lalu. Masa lalu dalam dokumenter ini adalah masa kejayaan Hollywood dan kisah yang mengubah pandangan kita akan itu adalah cerita hidup Tab Hunter, seorang aktor, penyanyi pop dan penulis gay pada dekade ‘50 dan ‘60. Guna mengungkap aspek kehidupan Hunter yang sebelumnya tertutup rapat, sineas pembuat dokumenter ini mewancarai siapapun dari John Waters hingga Clint Eastwood. Dan wawancara-wawancara ini membuka diskusi tentang para pesohor, kepribadian mereka dan politik—jauh melampui diskusi tentang menjadi seorang aktor gay di masa itu.

Rocco

Kisah tentang tahun terakhir Rocco Siffredi di dunia industri tak sekadar jadi perayaan karir pemilik penis paling mashur di kancah perbokepan dunia. Rocco adalah cerita tentang sebuah keluarga, pemaparan tentang cara kerja mesin media dan potret hawa nafsu manusia. Dokumenter yang baik punya ketajaman untuk memperhatikan subyeknya. Rocco adalah dokumenter berkelas salah satunya karena sineas pembuatnya tak memandang rendah subyek film ini. Tonton segera!

The Rachel Divide

Kendati sineas Laura Brownson terkesan membiarkan mantan aktivis Rachel Dolezal off mengeluarkan klaim-klaim yang meragukan (dan seharusnya bisa dikupas lebih jauh), film ini menawarkan sudut pandang unik tentang garis depan perjuangan politik identitas di Amerika Serikat.