Thailand

Sukses Jadi Model, Trans Asal Thailand Panutan Baru Anak Muda

Sejak 2014, Sarina Thai sukses menembus New York Fashion Week. Sejak itu, dia memakai pamornya memerangi stereotipe soal komunitas transgender dalam dan luar negeri.
3.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Model trans Thailand Nijshanaaj Sudlarphaar, lebih umum dipanggil Sarina Thai, sudah jengah disebut "ladyboy." Thai, yang memulai karir model kira-kira lima tahun lalu dan model trans pertama dari Thailand yang berpartisipasi di New York Fashion Week pada 2014, telah berupaya keras menghapuskan stereotipe berbahaya tentang transpuan di dalam dan luar negeri. Pada STATES OF UNDRESS di VICELAND, Hailey Gates terbang ke Thailand untuk mengeksplor pengaruh model-model trans di industri fesyen, dan mendapati banyak warga Thailand yang masih mengasosiasikan transpuan dengan pekerjaan seks komersil. "Stereotipe ini adalah sebuah masalah," ujar Thai pada Broadly. "Ketika orang melihat transpuan di jalanan atau klab malam, mereka mikir, 'Oh, mungkin dia ini PSK.'" Terlepas dari keterbukaan terhadap ragam identitas gender di Thailand, transpuan masih berjuang menemukan tempat-tempat kerja yang mengizinkan mereka menjadi diri sendiri. Oleh sebab itu, banyak transpuan yang beralih ke pekerjaan seks komersil. Thai percaya bahwa cara terbaik merobohkan stereotipe yang disematkan pada transpuan, adalah dengan menyorot transpuan yang sukses di bidang-bidang selain seks komersil. "Penting sekali untuk memiliki banyak panutan baru bagi warga trans di berbagai pekerjaan, tak hanya di bidang fesyen tapi yang lainnya juga," ujarnya. Saat remaja, Thai tidak punya panutan seperti itu. Bahkan, dia tidak tahu bahwa menjadi trans adalah pilihan hingga dia menginjak usia 20-an. Ketika belajar di sekolah asrama khusus laki-laki, di mana sebagian besar kawan sepantarannya bercita-cita menjadi pengacara atau polisi, bayangan menjadi model penuh waktu terasa tidak mungkin. Hingga akhirnya Thai menghadiri fashion show oleh universitas lokal, dia kemudian menyadari bahwa karir sebagai model tidaklah mustahil baginya.

Meski demikian, Thai tidak mengejar karir tersebut hingga dia berusia 25 tahun. "Saya harus menyelesaikan transisi dan menyelesaikan situasi dalam keluarga saya," ujarnya, "memastikan keluarga saya oke-oke saya dengan diri saya." Untungnya, tidak membutuhkan waktu lama hingga karirnya melejit. Pada usia 27 tahun dia melenggang di panggung New York Fashion Week dan menjadi sorotan media karena protes bertelanjang dada di Grand Central Station—atas tanggapan terhadap komentar transfobik Tim Gunn yang menyamakan model trans dengan "laki-laki kurus tinggi tanpa pinggul."

Sangat penting agar komunitas trans memiliki banyak panutan dari berbagai pekerjaan.

Kini dia meneruskan karir sebagai model dan menuntut respek untuk komunitasnya. Setelah dilarang masuk ke sebuah klab di kampung halamannya pada 2015 karena identitas gendernya, Thai mendaftarkan petisi pada National Human Rights Commission (NHRC). Sejak itu, dia bermitra dengan organisasi tersebut untuk merobohkan stereotipe-stereotipe berbahaya soal warga trans di Thailand. Dalam budaya Thailand, ada 18 identitas seksual berbeda, masing-masing berwujud berbeda dalam hal gender dan interpretasi. Meski begitu, hukum di Thailand, tidak seprogresif itu. Thai mengekspresikan frustasinya bahwa warga trans di Thailand masih tidak diperbolehkan mengubah kata ganti gender mereka secara resmi. Namun dia tetap optimis soal masa depan. "Saya rasa mungkin ini butuh waktu, tapi saya yakin hal ini akan berubah," ujarnya. Pada 2014, Apple Model Management di Thailand menambahkan divisi modeling trans pertama di dunia dalam agensi mereka. Thai amat bangga karena industri fesyen di kampung halamannya yang pertama mengambil langkah ini, meski dia sebetulnya tak ingin menjadi bagian dari sebuah divisi modeling trans. "Sejujurnya, saya pribadi ingin masuk ke divisi perempuan, tapi ya bagaimanapun ini sebuah kemajuan," ujarnya. "Ini adalah langkah lebih lanjut, orang-orang bisa [melihat] kami, dan mengenal kami—mereka tidak akan mengabaikan kami." Cita-cita besar Sarina Thai dalam karirnya adalah masuk majalah Vogue. Dengan semakin banyaknya model trans yang masuk majalah-majalah fesyen papan atas, dan keterlihatannya semakin meningkat, dia berharap kemungkinan dia meraih cita-cita ini akan semakin tinggi pula.