Bertaruh Nyawa Merekam Lelehan Lahar Memukau di Hawaii
Tom Kualii

Bertaruh Nyawa Merekam Lelehan Lahar Memukau di Hawaii

“Untuk mendapatkan foto bagus, anda harus berani mengambil risiko.”
11 Juli 2017, 8:19am

Tom Kualii, seorang fotografer kelahiran Hawaii punya hobi ekstrem mendekati gunung vulkanik yang aktif memuntahkan lahar. Sebagai salah satu fotografer spesialis memotret aliran lava terkemuka dunia, Tom sadar betul bahaya dari hobinya. Siapa sangka, kenekatannya berhasil menyembuhkan Tom dari trauma bertugas di medan perang bertahun-tahun lalu. "Hobi ini menarik saya jauh dari pengalaman perang," ujarnya. "Jauh dari stres yang saya alami, jauh dari PTSD."

Lebih dari satu dekade setelah kembali dari Perang Irak dan mulai mengadopsi fotografi sebagai hobi, dia masih tetap deg-degan setiap kali mendekati gunung vulkanik. Kami ingin mendengar sendiri pengalaman serunya mendekati lahar, jadi kami menghubungi Tom lewat telepon. Dia berbagi tentang tantangan teknis, keseruan dan betapa indahnya memfoto aliran lava bersuhu ribuan derajat celcius di perairan Hawaii.

VICE: Halo Tom, foto-foto lahar kamu keren banget. Kok bisa mulai hobi begini sih?
Tom Kualii: Perjalanan fotografi saya dimulai ketika saya mengambil beberapa kelas fotografi di zaman kuliah. Barulah ketika saya di Irak di 2004, saya membawa kamera digital pertama dan mulai bereksperimen. Ketika sedang ditugaskan, saya sibuk belajar otodidak setiap ada masa tenang. Hobi ini berhasil membuat pikiran saya keluar dari perang, dan stres yang saya alami, dan juga PTSD.

Saya melakukan ini selama setahun penuh, dan ketika kembali dari perang, saya menggunakan fotografi sebagai cara untuk menyembuhkan jiwa. Ketika sedang bekerja sebagai operator mesin di sebuah provinsi, terjadi letusan gunung vulkanik. Karena saya selalu membawa kamera, saya keluar dan mengambil beberapa foto. Di saat itulah fokus saya mulai beralih ke pendokumentasian aliran lahar, yang akhirnya mengubah karir saya sepenuhnya.

Gimana caranya kamu bisa dapet foto-foto ini? Kelihatannya kamu deket banget dengan laharnya.
Pas baru mulai, saya takut banget. Saya awalnya menggunakan lensa jauh dan mengambil gambar dari jarak jauh. Tapi ternyata ini sangat menyulitkan karena lahar susah sekali untuk difoto. Rentang dinamikanya besar banget dan selalu berubah. Lahar juga sangat terang, kayak matahari, tapi dikelilingi batu-batuan hitam, jadi kontras banget. Terus ketika anda mencoba memfoto lahar yang jatuh ke dalam laut, suhu lava turun dan warnanya berubah menjadi gelap, tapi kemudian terang lagi ketika ombaknya berkurang. Kesempatan untuk memfoto lahar juga sangat sedikit. Satu-satunya waktu untuk memfoto lahar adalah ketika ada cahaya yang cukup, [matahari terbit dan terbenam]. Untuk bisa mendapat hasil, anda harus terus berusaha.

Tentunya, hobi ini bukan hanya sulit tapi juga berbahaya. Skenario terburuk apa sih?
Ada beberapa faktor resiko yang berbeda tergantung lokasi laharnya. Misalnya, berada di sumber lahar itu sangat berbahaya—karena gas yang keluar itu beracun. Aliran permukaan masih ok, tapi yang paling berbahaya adalah ketika lahar jatuh ke laut. Ketika jatuh ke laut, lahar mendingin dan menciptakan semacam jembatan sementara, yang kami sebut "the bench." Terakhir kali bench ini hancur, sekitar 4046 m2 area juga terbawa. Hanya dalam hitungan jam, garis pantai ini sudah tidak ada lagi. Kalau anda terjebak di dalam bench yang sedang roboh, anda tidak akan selamat. Saya kenal 2 fotografer yang meninggal karena berada di atas bench.

Wah pasti banyak pengalaman mendekati ajal ya?
Pengalaman pertama saya hampir mati disebabkan oleh dehidrasi. Saya mulai keluar jam 4 dinihari dan entah bagaimana ceritanya perjalanan manjat 2 jam berubah menjadi perjalanan bolak-balik selama 14 jam. Saya mulai dehidrasi dalam perjalanan pulang, muntah dan sempat pingsan. Saya beruntung situasinya tidak lebih buruk lagi. Sempat ada beberapa kasus kematian akibat dehidrasi di daerah lahar, yang terakhir seorang pria yang terkena serangan jantung. Tapi kalau mau mendapat foto yang bagus, kamu harus mengambil risiko.

Gimana menentukan obyek foto mana yang layak diperjuangkan risikonya?
Ada beberapa indikasi tentang tingkat bahaya suatu lokasi. Kami tidak mau ambil resiko kalau memang berbahaya. Setiap kali saya harus mendekati lahar di dekat laut, jantung saya berdebar-debar. Saya selalu takut karena tahu resikonya. Saya selalu membawa alat respirator kalau-kalau ada apa-apa. Tapi ya memang semua tergantung insting aja sih. Kalau saya ada sedikit keragu-raguan, saya langsung berhenti. Tapi jujur, sering juga saya gak dengerin suara hati sendiri. Anda tidak bisa menciptakan portfolio seperti ini hanya dengan keluar ke lokasi satu kali—anda harus ke sana ratusan kali. Saya selalu berdoa sebelum menuju lokasi.

Mengambil foto lahar kayaknya seru buatmu? Ada semacam sensasi adrenalin?
Banget. Saya selalu kegirangan ketika sedang mendakit menuju lokasi yang belum pernah saya lihat. Tentu juga ada hari-hari ketika anda bersemangat tapi kemudian kecewa setelah tiba di lokasi. Tapi perjalanan keluar di pagi hari itulah yang selalu membuat saya bersemangat. Ketika anda tiba di lokasi, penuh dengan lava, cahaya yang cantik, langit dan awan. Ketika semua elemen ini ada, saya merasa sangat kegirangan.

Setelah berkarir selama 10 tahun memotret aliran lahar, masih ada tantangan gak?
Banyak orang tidak sadar bahwa kami harus menghadapi suhu panas. Ketika saya melihat lewat jendela bidik, ada distorsi termis. Banyak orang tidak sadar akan hal ini. Setelah bertahun-tahun menyambangi lokasi lahar ratusan kali, anda semakin awas. Jadi pengalaman kami dibandingkan dengan seseorang yang pertama kali menyambangi lahar sangat jauh berbeda. Mereka blum sadar akan potensi bahaya yang melirik. Kami juga berteman dengan banyak geologis dan belajar dari mereka. Ini membantu mengurangi resiko dan membantu kami membuat keputusan yang lebih baik.

Selain hasil fotonya, apa sih yang kamu dapat dari hobi berbahaya ini?
Kepuasan terbesar adalah ketika fotografer lain melihat foto saya dan berkata, "Wah coba gue disana untuk moto ini." Beberapa hasil foto saya adalah kesempatan sekali seumur hidup, dan anda tidak bisa memprediksi alam. Kadang ada letusan lahar besar yang tingginya ribuan kaki dan hanya terjadi selama beberapa jam dan ada satu-satunya orang yang menyaksikan.

Foto lahar favoritmu yang mana? Terus bisa dapet itu gimana ceritanya?
Susah untuk milih, tapi saya mungkin punya tiga foto favorit. Salah satunya adalah delta yang sedang terbuka ke laut, dengan lahar berjatuhan. Yang kedua adalah panorama moonset yang hanya terjadi sebulan sekali. Ini favorit karena saya menghabiskan 10 bulan untuk mendapatkan foto ini. Kadang awan menutupi bulan, atau laharnya tidak terlihat jelas, tapi saya kekeuh terus pergi ke sana dan mengambil foto. Saya biasa bekerja ketika bulan hendak terbenam, jadi memang ada faktor pribadi, bukan sekedar foto bagus saja. Yang terakhir adalah ketika saya hampir mati akibat dehidrasi. Fotonya tidak terlalu bagus, tapi ini favorit saya karena semua jerih payah yang saya tuangkan di hari itu, hari dimana saya hampir mati, jadi ada cerita tersendiri.

Apakah kamu punya nasehat buat mereka yang ingin menekuni fotografi lahar?
Kalau anda ingin mengambil foto lahar, pergilah dengan seseorang yang mengerti resikonya. Sebisa mungkin saya masih pergi dengan satu orang lain. Sekarang ini lebih mudah karena ada indikator seperti situs Hawaiian Volcano Observatory, yang memberikan kita indikasi dari aktivitas gunung berapi disana. Saya juga mengikuti teman atau fotografer lain yang bekerja sebagai pemandu, dan kerap berkomunikasi dengan pengemudi helikopter yang memiliki sudut pandang lebih luas dari atas. Saya selalu mengerjakan "PR" saya sebelum menuju lokasi. Anda harus selalu pintar.

Simak foto-foto Tom lainnya lewat Facebook atau Instagram. Jangan lupa buka situs pribadinya jika kalian tertarik memotret lahar.

Follow Desiree di Twitter