Nuklir Korut

Trump Berjanji 'Lakukan Balasan' Usai Korut Nekat Kembali Uji Coba Rudal

Tensi antara AS-Korut terus meningkat sebulan terakhir, karena kedua negara saling balas provokasi terkait ambisi nuklir Kim Jong-un.
7.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan pemerintahan Korea Utara agar tidak terus-terusan melakukan uji coba rudal pengangkut hulu ledak nuklir. Trump bilang negaranya bakal memberi balasan yang "sangat serius" setelah rezim Kim Jong-un kembali menggelar uji coba peluru kendali lintas benua. Dalam konferensi pers di Warsawa, Polandia, Trump menyinggung keberhasilan pertama Pyongyang dalam ujicoba peluru kendali balistik antar benua Rabu pekan ini. Dia mengatakan pemerintah AS mempersiapkan "balasan yang sangat serius." Trump tak menguraikan lebih jauh apa yang dia maksud. Meski demikian, para pakar menduga opsi yang tersedia bagi Trump relatif tidak mengenakkan karena melibatkan operasi militer menyerbu Ibu Kota Pyongyang. Meski uji coba peluru kendali pekan ini hanya berlangsung singkat, percobaan itu dinggap sebagai loncatan teknologi militer Korut. Berdasarkan laporan intelijen, peluru kendali Korut kali ini benar-benar punya kemampuan mencapai Alaska. Diktator rezim Korut, Kim Jong-un segera meledek musuk bebuyutannya tak lama setelah uji coba—yang sengaja digelar pada libur ulang tahun kemerdekaan AS—berakhir. Dia menyebut tes peluru kendali ini sebagai hadiah bagi "si bangsat Amerika Serikat."

Menanggapi hal ini, Trump mengatakan Korut telah bertindak "kelewat gegabah" dan mengajak semua negara "untuk mengkonfrontasi ancaman global ini dan menunjukkan secara blak-blakan bahwa Korut bakal menerima konsekuensi atas sikapnya yang teramat buruk." Para pengamat menilai provokasi Trump tak akan membawa perubahan berarti. Pendekatan Gedung Putih terhadap Korut diperkirakan tetap sama dalam jangka pendek. Artinya, penduduk dunia boleh berharap, AS bakal menahan diri dan tidak menyerang wilayah Korut.

Trump menegaskan bahwa dirinya akan memanta apa yang terjadi dalam beberapa minggu atau bulan ke depan, sebelum mengambil keputusan taktis selanjutnya.