ISIS Sangat Melemah, Tapi Mustahil Ditaklukkan Oleh Militer
Foto prajurit Irak di reruntuhan kota Mosul oleh Thaier Al-Sudani/Reuters.
ISIS

ISIS Sangat Melemah, Tapi Mustahil Ditaklukkan Oleh Militer

Militan khilafah kehilangan Mosul, dan semakin terjepit di Suriah. Tapi mereka tampaknya mengubah strategi menjadi pertempuran bayangan lewat aksi teror global.
13.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Mosul, kota terbesar yang dikuasai ISIS telah dibebaskan, dan Raqqa, pusat administrasi ISIS di Suriah juga kabarnya akan segera menyusul. Usaha kaum ekstremis Sunni untuk mendirikan kalifah juga gagal—tapi bukan berarti nasib ISIS sudah berakhir.

Kelompok teroris terkemuka ini sudah kehilangan lebih dari setengah daerah kekuasaan di Irak dan Suriah. Mereka juga telah kehilangan kapasitas untuk membawa masuk pendapatan dan klaim bahwa suara mereka memimpin kaum Muslim di seluruh dunia. Namun jangan salah, ISIS yang terus melakoni perang eksistensial melawan kaum "kafir" sudah siap menghadapi kekalahan ini dan mengadopsi strategi baru: berusaha meyakinkan pengikutnya untuk terus bertarung untuk kalifah di akhirat, jelas seorang analis ke Vice News. Mereka juga terus membangun afiliasi di berbagai penjuru dunia.

Iklan

"Ada kesalahpahaman bahwa ISIS kehilangan daerah-daerah kekuasaan merupakan pertanda mereka akan habis—tapi ini tidak benar," jelas Matthew Henman, kepala Jane's Terrorism and Insurgency Center ke VICE News.

Henman mengatakan biarpun tanpa teritori kekuasaan, ISIS akan terus beroperasi di dalam kegelapan dan terus menjadi ancaman signifikan di Irak, Suriah dan daerah-daerah lainnya. Mereka juga akan terus mendorong pengikutnya untuk melakukan aksi teror di negara Barat—sebagai bentuk "balas dendam" terhadap hilangnya kalifah.

"Mereka menciptakan semacam narasi seolah-olah mereka adalah korban yang berusaha membalas dendam," kata Henman. "Kami menciptakan kalifah tapi aliansi internasional yang jahat menghancurkannya dengan kejam—mari balas dendam bersama kami."

Namun tetap saja lepasnya Mosul dan kemungkinan besar Raqqa, adalah pukulan telak bagi ISIS. Mosul merupakan kota terbesar kedua di Irak, dan menguasai kota tersebut membawa gengsi dan pendapatan bagi sang kelompok teroris karena banyaknya ladang minyak di sekitar kota. Mesjid bersejarah al-Nuri di kota Mosul merupakan tempat dimana pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi memproklamirkan kekalifahannya pada 4 Juli 2014. Jatuhnya Mosul tentunya menjadi semacam pukulan simbolik terhadap legitimasi ISIS.

ISIS Kehabisan Dana

Menurut analisis yang dilakukan oleh IHS Markit's Conflict Monitor, kampanye militer melawan ISIS yang didanai oleh Amerika Serikat berhasil mengambil alih area kekuasaan kelompok teroris tersebut sebanyak 60 persen dari 90.800 kilometer persegi di Irak dan Suriah pada Januari 2015 menjadi sekitar 36.200 km2—tidak lebih besar dari negara Belgia.

Kekalahan ini memukul ISIS di area yang tadinya menjadi keunggulan mereka dibanding pesaing: dana. Pendapatan rata-rata bulanan ISIS—kebanyakan datang dari minyak, pajak dan konfiskasi—jatuh dari $81 juta di kuartal keuangan kedua 2015 menjadi $16 juta di kuartal kedua tahun ini.

Anggota militer Irak memamerkan bendera ISIS yang berhasil disita timnya di atas bangunan Kota Mosul pada 10 Juli lalu. Foto oleh Thaier Al-Sudani/Reuters.

Tetap saja ISIS memiliki teritori signifikan di area Suriah timur dan Irak barat—kota seperti Tal Afar di Irak dan Al Bukamal di Suriah, dan juga menguasai banyak medan gurun. Mereka juga memiliki kekuasaan di area sekitar kota Suriah, Deir Ezzor yang kini menjadi tempat bernaung banyak pemimpin ISIS. Dikabarkan dalam beberapa bulan terakhir, daerah ini menjadi semacam markas baru mereka.

Pasukan anti-ISIS akan mengejar mereka di area-area ini—namun membebaskan sebuah area dari ISIS sepenuhnya itu hampir tidak mungkin karena kaum militan bisa dengan mudah menyaru dengan para imigran dan kembali setelah pertarungan selesai.

Iklan

"Biarpun semua wilayah kekuasaan mereka direbut, ancaman ISIS tidak akan hilang," kata Henman.

Selagi ISIS bertransformasi dari pemegang wilayah kekuasaan menjadi pemberontak gerilya, anggotanya mulai mundur ke dalam kegelapan, eksis di underground daerah urban atau bersembunyi di daerah gurun yang sepi dimana mereka bisa merencakan penyerangan, jelas para ahli. Menurut sebuah laporan oleh Combating Terrorism Center di West Point, telah terjadi sekitar 1.500 serangan ISIS di 11 kota Irak dan 5 kota Suriah setelah mereka dibebaskan dari kekuasaan ISIS.

Militan Siap Kembali Gerilya

Metode serangan gerilya merupakan trik lama bagi ISIS. Ini adalah modus operandi ISIS selama bertahun-tahun setelah AS menarik diri dari Irak dimana mereka membuat kekacauan lewat berbagai serangan terkoordinasi di Irak sebelum akhirnya menjadi berita dunia internasional lewat proklamasi kalifah lintas-negara di 2014.

"Mereka berusaha membangkitkan kebencian, merusak keseimbangan dalam masyarakat kita yang rapuh," kata Andreas Krieg, seorang asisten profesor dalam bidang pertahanan negara di King's College London ke VICE News.

Obyektif ISIS adalah tetap mengeksploitasi ketegangan sektarian antara Sunni dan Shia, jelas kedua analis. Dan biarpun ISIS sudah kehilangan banyak pendukungnya yang menjadi korban kebrutalan kepemimpinan mereka, ketegangan yang mendalam di antara komunitas-komunitas tersebut—Sunni melawan pemerintahan Irak yang dipimpin Shia, dan penolakan terhadap rezim brutal Presiden Suriah, Bashar Assad—tetap belum terselesaikan dan menjadi wilayah empuk eksploitasi ISIS.

Kekhalifahan Diubah Menjadi Global

Biarpun kehilangan wilayah kekuasaan sudah pasti menyakiti operasi ISIS, mesin propaganda mereka yang canggih telah menyesuaikan diri dari lepasnya Mosul dan Raqqa. Mereka telah mengirim pesan ke para simpatisan bahwa perjuangan mereka akan terus berlanjut. Sebelum mati akibat serangan drone tahun lalu, juru bicara ISIS Abu Mohammed al-Adnani mengatakan bahwa kehilangan daerah kekuasaan bukanlah akhir dari segalanya. "Kekalahan yang sebenarnya terjadi ketika kita kehilangan semangat untuk terus bertarung," jelasnya.

ISIS sudah semenjak lama menginstruksikan para simpatisannya di negara-negara Barat untuk melakukan serangan terorisme apabila mereka tidak sanggup bergabung dengan negara kalifah. Dengan hilangnya kehadiran pemerintahan kalifah secara fisik, para analis mengatakan bahwa akan semakin banyak serangan-serangan di berbagai negara karena simpatisan memfokuskan perhatian mereka terhadap "para kafir" di negara tempat mereka bernaung—dimana serangan mereka akan memiliki dampak yang lebih hebat dibanding pertumpahan darah di Suriah atau Irak.

Iklan

"Pesan untuk tinggal dan terus menyerang masyarakat negara Barat sedang kuat-kuatnya," jelas Krieg. Ancaman ini datang dari kaum simpatisan ISIS yang diradikalisasi oleh propaganda online ISIS—metode yang terus berhasil biarpun pasukan militer ISIS sendiri kesulitan di lapangan—atau pejuang asing yang kembali ke rumah dan telah mendapatkan pengalaman perang.

Lepasnya Mosul dan Raqqa juga mengalihkan fokus dunia internasional ke wilayah-wilayah lain yang rentan: Libya, Sinai, Afganistan, Afrika Barat, Caucasus dan Filipina. Banyak pejuang asing berusaha menjalankan propaganda ISIS untuk melakukan aksi jihad di tempat lain—seperti di Filipina selatan, dimana pasukan simpatisan ISIS berhasil menguasai kota Marawi—daripada repot-repot pergi ke Irak dan Suriah.

Wilayah-wilayah ini "akan menjadi semakin penting," jelas Henman. "Mereka akan menggunakan metode yang mereka gunakan di Irak untuk menciptakan kondisi dimana mereka bisa menguasai teritori. Ini adalah masalah yang sudah menyebar luas, tidak hanya di Irak dan Suriah."

Ada resiko besar bahwa komunitas internasional akan mengatakan "misi sukses" setelah Mosul dan Raqqa dibebaskan, dan kemudian menciptakan ruang bagi ISIS untuk menjalankan operasi diam-diam (masih ingat al-Qaeda?) dan akhirnya kembali mendirikan pemerintahan kalifah sesuai dengan keinginan mereka.

"Mereka meyakini bahwa semua ini hanyalah kemunduran kecil yang ujung-ujungnya akan berakhir dengan kemenangan, sesuai dengan janji Allah," jelasnya.

Krieg mengamini dan mengatakan biarpun kita memenangkan peperangan militer di Mosul, ISIS hanya bisa dikalahkan dalam ranah ideologi—area yang sayangnya tidak banyak mendapat perhatian. "Sesungguhnya, ISIS itu sebuah narasi, sebuah ide," kata Krieg. "Sebuah ide tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan militer."