Sepakbola

Kisah Ajaib Sepakbola: Ogah Bertanding, Klub di Irlandia Palsukan Kematian Pemainnya

Fernando LaFuente, nama pemain klub dari Dublin ini, dilaporkan tewas kecelakaan. Satu liga ikutan mengheningkan cipta. Masalahnya cuma satu: LaFuente masih hidup.
Foto ilustrasi gawang sepakbola oleh naphtali marshall via unsplash
Foto ilustrasi gawang sepakbola via Unsplash

Ballybrack Football Club, yang berlaga di Leinster Senior Football League, Ibu Kota Dublin, tak bertanding sesuai jadwal kompetisi rutin sejak akhir November lalu. Salah satu pemainnya meninggal. Kepada pengurus liga, klub tersebut mengatakan Fernando LaFuente—pemain asing mereka asal Spanyol—tewas dalam kecelakaan mobil sepulang latihan, Kamis (29/11) sore, pekan lalu.

Akibat laporan ini, laga yang harusnya dijalani Ballybrack batal digelar. Tak hanya itu, semua pertandingan pekan kemarin dimulai dengan mengheningkan cipta untuk mengenang LaFuente dan semua pemain diminta bersolidaritas mengenakan pita hitam di lengan. Sayangnya, tak lama berselang, terungkap bila LaFuente bukan hanya belum meninggal dunia. Pemain asal Spanyol malah lagi santai main video game di rumahnya.

Iklan

Klub itu ternyata sedang malas bertanding saja. Supaya tidak usah bertanding, mereka pun mengaku pemainnya meninggal. Namanya juga liga kasta rendah, jadi kelakuan ngehek manajemen klub kayak gini emang sangat mungkin terjadi.

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio RTÉ, LaFuente mengaku tahu bahwa klubnya akan ngibul soal kondisinya, tapi dirinya tak menyangka hoaks tentang dirinya akan dibikin seolah dia mati. Dia menduga paling banter klubnya akan bilang dirinya mengalami patah kaki atau semacamnya untuk menghindari pertandingan. Dia pun tak menyangka sorotan publik dan pengelola liga soal kabar kematiannya akan begitu besar.

"Aku lagi bengong aja di rumah sehabis latihan sepakbola. Pas main video game, aku dapat telepon dari kantor. Aku jawab dengan tenang ‘Ya, ada apa?’

"Mereka bilang, 'Mantap, elo udah jadi selebritas nih.” Aku langsung bilang ‘loh kok bisa?’ Lalu mereka mengirim semua artikel di Internet tentang kematianku.

"Dari situ aku tahu ternyata aku dibilang sudah mati."

Akal-akalan pengurus Ballybrack ini jelas bikin pengelola liga marah besar. Wajar saja sih, mereka sudah merespons meninggalnya LaFuente sebaik-baiknya. Bahkan, pengelola liga berusaha mencari tahu di mana pemakaman akan digelar. Harapannya, mereka bisa mengirim perwakilan dan ucapan belasungkawa pada keluarga LaFuente. Nah, saat itulah kebohongan Ballybrack terungkap.


Tonton dokumenter VICE saat meliput superclassico antara Boca Juniors vs River Plate, laga paling panas di Amerika Latin:

Iklan

Berikut keterangan David Moran, selaku Direktur Liga, kepada Journal.ie mengenai bagaimana hoaks tolol yang dibuat Ballybrock bisa terungkap.

"Kami dapat telepon yang bilang jenazah LaFuente sudah diterbangkan ke Spanyol. Keterangan ini yang bikin kami curiga. Saya bilang “maksudnya gimana nih?” Kalau begini, meraka tak bisa melakukan otopsi tepat waktu.

“Kami langsung melakukan penyelidikan kemarin. Lalu, kami menerima telepon yang bilang LaFuente baru saja pulang ke Spanyol. Saya senang pemain muda ini masih hidup, tapi saya jadi marah setelah tahu ada pihak yang berbohong dalam kasus ini."

Manajemen Ballybrack ngeles kalau kebohongan tidak perlu ini terjadi gara-gara "kesalahan kebijakan di internal klub yang seharusnya bisa dihindari."

Sementara itu, LaFuente ternyata masih menemukan sisi lucu dari kejadian yang merugikannya. "Buat klub, tentu ini pelanggaran etik serius," katanya. "Tapi aku sih menganggapnya lucu karena pada kenyataannya aku masih hidup dan tak ada satupun orang yang cedera."

Mantap juga nih si LaFuente. Mungkin dia sadar, ajal sanggup datang kapan saja. Makanya enggak ada faedah menyimpan dendam—bahkan jika itu dilakukan atasan sendiri dengan memberitakanmu meninggal dalam kecelakaan mobil.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports