Psikologi

Inilah Alasan Ngobrol Lama di Telepon Membuat Kita Lebih Bahagia

Di zaman serba berbagi konten dan informasi seperti sekarang, telepon membuatku merasa aman. Sebab, cuma saya dan teman ngobrol di ujung saja yang tahu isi pembicaraan kami.
04 Februari 2019, 6:35am
marjon carlos berbagi cerita soal kebiasaan menelpon lama
Foto dari arsip pribadi Marjon Carlos. 

Saya sering ngobrol lama banget di telepon, dan sudah melakukan ini sejak masih remaja.

Saya enggak peduli pulsa cepat habis, yang penting saya bisa teleponan berjam-jam. Tidak jelas apakah saya melakukan ini karena faktor usia, alasan pekerjaan, atau sekadar enggak bisa mengontrol diri. Saya ngomongin apa saja, baik itu tentang kesuksesan, kesalahan, dilema, hal-hal yang membingungkan, gurauan maupun politik. Saya juga enggak jarang terlibat dalam percakapan serius, membosankan dan mendalam. Intinya, apa saja bisa jadi topik pembicaraan buatku.

Gaya teleponanku mirip kayak yang ada di film-film. Saya menangis, tertawa, menggumam setuju, marah, menjerit, dan memekik gembira. Saya menggenggam erat ponsel sampai tangan basah keringat. Di waktu lain, saya memakai headphone supaya bisa ngobrol sambil bersih-bersih apartemen atau jalan kaki.

Saya menghubungi orang untuk minta pendapatnya. Saya juga kirim foto untuk memperjelas ucapanku. Saya menelepon tergantung situasinya, bisa di tempat sepi atau bahkan saat menjemur pakaian di halaman.

Saya amat beruntung karena teman dan anggota keluarga sepemikiran denganku. Kami merasa belum lengkap kalau belum teleponan. Kami enggak terlalu suka kirim chat atau Voice Note. Bertukar ide yang paling sempurna itu kalau kita bisa melakukannya langsung, tanpa ada gangguan apa pun. Teleponan sangat penting bagi kebahagiaan saya.

Memang aneh kalau ada orang yang masih ngobrol di telepon, padahal kita sudah hidup di zaman texting dan menggunakan emoji untuk mengekspresikan perasaan. Menelepon bukan untuk mempersingkat, tapi memperpanjang diskusi.

Kebiasaan ini “diturunkan” oleh ibuku, seorang perempuan cerdas yang secara tak sadar menurunkan kualitas hebatnya kepadaku dengan menghargai dirinya sendiri ketika saya tumbuh dewasa. Saya menguping obrolan ibu yang heboh bersama teman dan kakak perempuannya. Saya enggak bermaksud ganggu privasinya, tapi suara ibu menggelegar ke seisi rumah. “Seriusan, beb?!” ujarnya sambil terkekeh kencang. Ibu suka menyuruhku menyapa tante-tanteku, tapi kadang dia suka mengusirku dari kamarnya karena gosipnya enggak pantas buat saya dengar.


Tonton wawancara VICE bersama Chicco Jerikho yang mengaku punya pengalaman seram sama satu piano angker:


Saya bahkan pernah dengar beliau menangis karena dapat kabar buruk. Ibu sering lupa waktu kalau sudah ngobrol di telepon. Bisa sampai berjam-jam. Tapi ibu tampak sangat bahagia saat melakukannya (meskipun setelahnya kelihatan capek kebanyakan ngomong). Dari sini, dia mengajarkanku kalau teleponan yang sebenar-benarnya itu panjang lebar dan enggak sebentar.

Saya sendiri semakin sering teleponan ketika berhenti kerja dua tahun lalu. Itu masa paling suram yang pernah saya hadapi. Saya sampai mengalami PTSD dan gangguan kecemasan, dan belum sembuh total sekarang. Waktu itu, saya sudah lama bekerja di media fesyen. Saya bimbang ingin keluar dan lanjut jadi pekerja lepas. Lingkungan kerjanya enggak sehat, dan saya sudah enggak kuat lagi. Freelance bagus untuk kesehatan mentalku, tapi saya khawatir dengan ketidakpastiannya.

Kondisiku semakin kacau ketika pekerjaan memburuk. Saya depresi, gelisah, menjauhi diri, merasa sangat enggak aman, dan lemah fisik. Mau pilih keluar atau lanjut kerja, keduanya membuat saya merasa gagal. Saya pribadi yang tenang dan percaya diri, tapi semuanya berubah setelah bekerja di sana. Saya enggak mampu untuk menulis. Saya yakin kalau tulisan saya selama ini jelek. Saya merasa hidup enggak berpihak padaku. Saya enggak pernah trauma separah ini sebelumnya. Saya kepingin orang-orang mendengarkanku. Saya heran kenapa bisa sampai bergantung pada orang lain begini.

Hampir setiap hari, saya bersembunyi di ruang pertemuan kosong dan buru-buru menghubungi sahabat. Saya menelepon mereka sambil menangis tersedu-sedu. Mereka mendengarkan celotehanku dengan sabar dan terus menyemangatiku. Saya ingat waktu mereka enggak berhasil menghiburku suatu sore. Masalah di tempat kerja membuatku terjebak dan terisolasi dalam cemoohan menyakitkan yang tiada henti. Saya merasa jadi korban sekaligus bertanggung jawab atas masalah itu. Saya menelepon sahabatku dengan air mata yang terus berlinang. Saya pengin mengeluarkan semua unek-unek itu, tapi enggak bisa ngomong apa-apa. Saya cuma bisa nangis histeris.

“Marjon, Marjon,” bisik sahabatku. “Aku sudah punya kerjaan buatmu kalau kamu keluar.” Saya langsung mengajukan resign keesokan harinya.

Saya tahu semua perubahan di dunia media dan fesyen berkat teleponan dengan teman-teman perempuan dalam satu industri. Mereka juga bersedia untuk jujur dengan perasaan masing-masing denganku. Dengan banyaknya perusahaan media yang bangkrut, salah satu temanku khawatir akan keamanan pekerjaannya. Dia merenungkan apa yang akan terjadi dengan hidupnya di luar gelarnya. Ada juga yang muak dengan budaya picik, berkelompok dan orang dalam di kantornya yang membuat dia merasa seperti orang asing, padahal dia kerja di industri media. Selama ini media menggembar-gemborkan “inklusivitas”, tapi kenapa peluangnya masih sangat kecil? tanya seorang teman yang kompetitif. Kami digerogoti rasa takut kalau kami enggak akan pernah berhasil.

Kamu enggak akan bisa lari dari perasaan ini kalau tinggal di New York, enggak peduli apa pekerjaanmu. Sayangnya ini jarang dibahas. Kamu bakalan dianggap lemah dan merusak reputasimu yang profesional dan tegar. Cuma beberapa orang yang tahu rahasia pribadimu. Saya merasa harus bersikap mental baja. Saya memanfaatkan telepon untuk melampiaskan tekanan yang tak henti-hentinya ini. Kami menangis, marah, tertawa dan menyemangati satu sama lain. Kami melepas topeng dan bersikap apa adanya. Kami belajar untuk saling percaya. Persahabatan kami juga jadi semakin erat.

Teleponan sangat terapeutik bagiku. Saya bisa ngobrol akrab tanpa perlu berpura-pura. Ini bukan wacana publik, seperti postingan Instagram atau thread Twitter, dan enggak performatif seperti FaceTime. Hidup di zaman serba berbagi konten dan informasi, telepon membuatku merasa aman karena cuma saya dan penerima saja yang tahu apa yang kami bicarakan. Teknologi sudah semakin maju, tapi entah kenapa saya merasa telepon adalah inovasi baru. Hanya dengan menghubungi sebuah nomor, kita bisa bercerita, berbagi dan juga menyelesaikan masalah.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly