Proses Penuaan

Misteri Uban Selalu Muncul di Pelipis Duluan

Jangan-jangan ini cuma ilusi mata, bukan misteri betulan.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Ada sebuah maksim bahasa Inggris yang lumayan populer. Bunyinya kira-kira: uban bermula dari kuil di tubuh laki-laki. Padanan kata kuil dalam bahasa Inggris adalah temple. Di sisi lain, temple juga berarti pelipis. Jika ditelusuri lebih jauh etimologinya, kata temple berasal dari kata dalam bahasa latin "tempus," yang bermakna waktu dan—lagi-lagi—pelipis. Artinya, ada hubungan etimologis antara rambut di pelipis yang menua warnanya seiring perjalanan waktu. Dalam film, tayangan TV dan kehidupan sehari-hari, mengelus-elus pelipis biasanya dianggap sebagai tanda seorang sedang dirundung stress. Foto seorang lelaki yang tengah memegangi pelipisnya sering ditemui dalam kemasan obat sakit kepala dan migrain. Dua gangguan kesehatan ini biasa terasa seperti tekanan keras di bagian pelipis. Namun, bebeberapa penelitian telah sepenuh hati dibuat untuk menemukan hubungan antara uban dan stress. Kendati munculnya uban bisa dipercepat oleh beberapa faktor luar—seperti paparan terhadap sinar ultra violet, merokok dan paparan terhadap beberapa senyawa kimia lainnya—kemunculan uban hampir 90 persen dikendalikan oleh faktor genetik. Mungkin sudah beberapa penelitian tentang fenomena munculnya uban secara umum, termasuk pola kebotakan, tanda masalah rambut lainnya, namun belum banyak penelitian tentang pola munculnya urban. Alhasil, pertanyaan tentang kenapa uban pertama kali muncul di pelipis—terlepas dari benar tidaknya pelipis sebagai rumah pertama uban—masih belum terjawab tuntas sampai sekarang. "Saya belum mendapatkan jawaban defenitif—terutama dalam literatur ilmiah, jadi semua dugaan tentang pertanyaan ini hanyalah spekulasi belaka," kata Gillian Westgate, peneliti mempelajari biologi rambut di University of Bradford, Inggris. L'Oreal melakukan sebuah penelitian tentang uban tahun 2012. Dalam penelitian itu, evaluator berpengalaman diminta memeriksa kepala 4.192 orang dewasa dari 23 kawasan di dunia. Uban terlihat mengelompok di pelipis lelaki dewasa di atas 45 tahun, terlepas dari apapun etnis mereka.

Para pria dewasa ini juga punya uban di bagian atas dan belakang kepala. Namun, tetap saja uban tumbuh lebih intens di daerah pelipis. Pada perempuan dalam kelompok umur yang sama, uban muncul dengan intensitas yang sama baik itu di bagian atas kepala atau di pelipis. Temuan ini tak merinci apakah uban muncul serentak atau secara berurutan. Sebuah Penelitian lain, dengan peserta berumur 19-21 tahun, menemukan perbedaan serupa pada peserta perempuan dan laki-laki. Para responden laki-laki memiliki 20 persen lebih banyak uban di bagian pelipis dibandingkan bagian kepala lainnya yang memiliki persebaran uban yang lebih merata. Responden perempuan, sebaliknya, memiliki distribusi uban yang merata di daerah pelipis, bagian depan dan belakang kepala yang ditumbuhi lebih sedikit uban. Para peneliti kemudian mencari titik awal tumbuhnya uban: dalam jajak pendapat yang mereka gelar, ternyata 60 persen pria mengaku bahwa uban pertama kali muncul di bagian depan. Sayangnya, pengakuan ini dibuat hanya berdasarkan ingatan subyektif yangs sangat mungkin memiliki biasa. Akibatnya, para peneliti tak berani mengambil kesimpulan.

Malah, ketika diminta menakar banyaknya uban yang mereka miliki, para pria cenderung menambah-nambahkan jumlah uban di pelipis mereka dan mengurasi jumlah uban di titik lain di kepala mereka ketika dibandingkan dengan hasil pemeriksaan rambut standar. perempuan sebalik memberikan estimasi yang mendekati hasil pemeriksaan. Kita bisa saja menarik kesimpulan bahwa perempuan memiliki persepsi jumlah uban yang lebih realistis. Tapi jangan lupa, perbedaan estimasi ini mungkin lebih terkait dengan intensitas munculnya rambut di pelipis yang lebih tinggi pada pria. Ini yang mungkin mempengaruhi kemampuan pria memberikan estimasi. Kesimpulannya: jumlah uban di pelipis mungkin agak dilebih-lebihkan oleh para pria. Namun, di pelipislah mereka bisa menemukan uban paling kelabu.

"Soalnya lebih keliatan ya di bagian situ?" tanya Paradi Mirmirani, seorang dermatologis di Vallejo, California yang juga seorang direktur regional masalah kerontokan di Kaiser Permanente. "Dalam kehidupan sehari-hari, ketika anda menatap seseorang, memang itu area yang biasanya dituju mata." Ketika para ahli pengamat uban profesional—maksudnya penata rambut—ditanya tentang pengamatan mereka perihal uban di daerah pelipis, mereka semua menyangkalnya. "Saya belum pernah lihat tuh," kata Quentin Gholar, 27 tahun, seorang barber di Frank's Chop Ship di New York, yang telah memotong rambut selama tujuh tahun. "Kalau dari pengalaman saya, biasanya uban muncul di mana-mana." Hiro Nori, 34 tahun, tukang cukur dengan pengalaman sepuluh tahun mengamini pendapat tersebut. Biarpun belum ada kesimpulan pasti tentang apakah uban benar-benar muncul pertama kali di daerah pelipis, kedua penelitian menunjukan bahwa uban lebih lebat dan sering muncul di daerah pelipis bagi laki-laki. Alasannya? Yang pasti bukan stres karena baik lelaki dan perempuan mengalami tingkat stres yang sama dalam hidup. Namun, kedua gender ini menunjukkan proses pengubanan yang berbeda. Uban di pelipis kemungkinan besar bersifat genetik, berhubungan dengan bagaimana kulit seseorang terbentuk ketika masih berada dalam kandungan. "Kontrol lokal di beberapa area batok kepala akan mempengaruhi proses munculnya uban," kata Mirmirani. "Ujung batok kepala memiliki sifat genetik sendiri, samping dan belakang kepala juga punya sifatnya masing-masing." Ketika kulit kepala seseorang dibentuk dalam kandungan, jaringan dari leher bawah tumbuh keatas untuk membentuk kulit di sekitar pelipis dan belakang kepala. Kulit di bagian depan dan atas batok kepala dibentuk dari jaringan kulit yang lain, yaitu kulit wajah yang naik ke atas, kemudian keduanya bertemu di titik tengah batok kepala.

Asal-muasal genetik yang berbeda dari berbagai area kepala ini menjelaskan pola kebotakan laki-laki, jelas Mirmirani. Biasanya rambut mulai tumbuh dari ujung dan puncak kepala, kemudian menyusuri pinggir ke daerah pelipis. Nah, proses kebotakan justru memiliki pola kebalikan. Alasan lain mengapa pelipis lebih rentan mengalami pengubanan mungkin dikarenakan siklus folikel—proses yang menyebabkan warna rambut berubah abu-abu. Pigmen rambut diproduksi oleh melanosit, yang berada di dalam akar rambut dan mengirimkan pigmen ke rambut secara berkala. "Setiap siklus rambut, anda harus membangun kembali pabrik dan di setiap siklus, rambut anda kehilangan vitalitas," jelas Mirmirani. Pigmen rambut kehilangan vitalitas setelah empat hinggal lima kali siklus, dan mulai berwarna keabuan. Rambut di bagian pelipis justru rontoknya tidak separah daerah lain. Ada bukti bahwa rambut abu-abu justru lebih tebal dibanding rambut berpigmen, membuat mereka sulit diwarnai. Hormon sangat mungkin berperan di sini. Rambut di pelipis akarnya "lebih dangkal dalam kulit dan mereka cenderung sensitif terhadap androgen," hormon lelaki yang dapat mempercepat proses siklus, jelas Westgate. "Semakin sering siklus rambut terjadi, akan semakin besar proses rambut berubah abu-abu." Kadang fitur penuaan fisik yang paling jelas justru tidak mendapat perhatian para peneliti. Mungkin penelitian terhadap orang-orang yang rambut pelipisnya tidak berubah abu-abu dapat memberikan petunjuk apakah ini disebabkan oleh faktor genetik, hormon, atau lingkungan.