That Was Easy

Ikut Acara 'Lari Naruto' di Jakarta Menyadarkanku Makna Jadi Ninja Sejati

*Spoiler: lari gaya Naruto tidak disarankan sama pelatih pelatnas atletik. Waduh!
6.9.17
Ilustrasi oleh Diedra Cavina.

Lihatlah orang-orang yang berlari gembira ini…

GIF diambil dari video Andi Sapta Eka Dwinanto via Grup Facebook Naruto Run Comifuro 9

Bingung itu apaan?

Sebelum beranjak lebih jauh, mari putar sejenak cerita, sehingga kalian bisa memahami kronologi awal aku ngumpul bareng dan ikut lari bersama para pecinta manga Naruto di Jakarta.

Setelah pertama kali mengenal Naruto pas masih SD, aku segera bermimpi ingin menjadi shinobi tangguh. Aku memang tidak bisa mengolah cakra atau menerapkan jurus Bunshin no Jutsu sehingga wujudku membiak jadi banyak. Yang bisa kulakukan sebagai bocah dulu paling banter cuma sok asik ingin mencoba lari ala Naruto. Dattebayo!!!

Lari ala Naruto, alias 'Naruto Run' memang khas banget. Sebutan ini didasarkan pada sosok Naruto Uzumaki, tokoh utama serial manga dan anime Naruto. Sang ninja andalan Desa Konoha itu, bersama kawan-kawannya, selalu berlari sambil merentangkan kedua tangan ke belakang. Cara lari yang, sejujurnya, absurd itu segera menginspirasi banyak orang. Acara lari Naruto sudah banyak dilakukan di berbagai belahan dunia, seperti di Amerika Serikat dan Singapura. Uniknya, acara lari ala Naruto hampir selalu digerakkan para shinobi-wannabe secara diam-diam. Underground banget lah! Pemberitahuan acaranya seringkali cuma melalui Facebook, seperti kegiatan di Jakarta Minggu 3 September lalu. Makanya aku bersemangat datang ke Balai Kartini. Aku tak pernah menyangka acara semacam ini akan digelar di kota tempatku tinggal

Aku tiba di Balai Kartini sambil celingukan. Acaranya diberi nama Naruto Run. Kegiatan ini digagas sekelompok anak muda di sela acara Comifuro 9—pameran komikus, novelis, dan ilustrator independen. Tidak jauh dari gerbang masuk Balai Kartini, aku mendengar sekelompok orang meneriakkan panggilan bagi para shinobi untuk bersiap lari Naruto. Aku segera menuju sumber suara.

"Naruto Run jam tiga ya, tinggal 15 menit lagi ayo ikut Naruto Run. Tunjukkan jalan ninjamu, lepaskan cakramu!" Teriakan itu berulang kali terdengar dari sosok lelaki tambun berkacamata yang memakai ikat kepala Desa Konoha, lewat pengeras suara.

Aku datang ke Balai Kartini pakai kostum paling standar, yakni kaos putih dan celana cingkrang. Keputusanku salah banget. Puluhan orang lainnnya siang itu ternyata niat abis. Ada yang cosplay pakai kostum Naruto, Sasuke, hingga Gaara. Bahkan ada yang pakai kostum Kaonashi (si monster berwajah datar) dari film animasi Spirited Away.

Sore itu, matahari di atas Jakarta sedang 'lucu-lucunya'. Panas banget. Tapi tidak ada satupun peserta, termasuk aku, mengurungkan niat berlari dalam jarak 200 meter keliling gedung Balai Kartini sambil mengenakan kostum dan riasan khas peserta cosplay.

Nama lelaki yang memakai mikrofon memanggil kami tadi adalah Marquee Adam. Dia pencetus acara ini. Dia berdiri di barisan terdepan pelari tepat lima menit sebelum lari digelar. Di sampingnya ada peserta memakai kostum Naruto dan Sasuke. Marquee menghitung mundur dari 10 jelang pukul 15.00 tepat. Semua peserta bersiap. Di sampingku dua orang pelajar perempuan berkerudung yang tampak begitu bersemangat, sampai mencondongkan badan 45 derajat sesuai dengan yang Naruto dan kawan-kawannya lakukan. Asli, mereka tampak begitu kompetitif bagiku. Seakan-akan mereka diam-diam menguasai ninjutsu betulan.

Sesuai instruksi yang telah diberikan Marquee sebelumnya tentang tata cara lari Naruto, aku mulai mempraktikan posisi tersebut sejak hitungan mundur dimulai. Pada hitungan ketiga, aku ikutan membungkukan badan 30-40 derajat ke depan, dan meluruskan kedua tangan ke belakang. Pada ada hitungan satu, semua peserta lari sekencang-kencangnya, tak peduli siapa di kiri dan kanan. Aku tak peduli, hantam terus tanpa henti.

Sekadar gambaran, rute yang kami lalui tidaklah lebar ataupun panjang. Hanya mengelilingi kawasan terbuka Balai Kartini hingga ke area parkir mobil. Peserta mencapai lebih dari 50 orang. Ajang Naruto Run ini terhitung 'ilegal'; diselipkan Marquee dan kawan-kawannya tanpa sepengetahuan panitia acara Comifuro 9. Sekalipun nyaris dadakan, aksi lari bareng ini menarik perhatian banyak pengunjung pameran. Ada peserta yang segera terjatuh, terguling, tertinggal, hingga yang berteriak kesenangan. Kacau banget, tapi fun.

Sumpah ya, berlari dengan posisi tubuh yang condong ke depan, dengan tangan lurus ke belakang membuatku tak tahan melakukannya lama-lama. Aku tak ingat kapan pernah secapek ini gara-gara lari doang.

Akhirnya aku pun cuma lari-lari kecil sambil memotret, lalu memastikan aplikasi lariku berfungsi. Hasilnya, setelah menyelesaikan lari satu putaran, aplikasi itu bilang kecepatan rata-rataku cuma 14 menit 24 detik untuk tiap kilometer. Buat jarak lari sependek itu, data 14'24" sangat-sangat menyedihkan.

Marquee mengatakan padaku sebetulnya gaya Naruto ini tidak memberikan dampak signifikan bagi efektivitas lari. Menurutnya, lari akan jauh lebih kencang mengandalkan ayunan lengan. "Lebih cepat lari biasa lah, sebenarnya lari [gaya Naruto] enggak aerodinamis sama sekali," kata Marquee.

Kalau begitu, apakah lari ini berbahaya? Aku lihat banyak peserta Naruto Run yang keserimpet, kepeleset, dan tidak bisa lari lurus selama menempuh jarak 200 meter.

"Kalau dilakukan dengan cara yang benar sih tidak [berbahaya], apalagi kalau yang lari dengan jarak yang renggang, jangan sampai kayak tadi itu tabrak-tabrakan," ujar Marquee, yang mengaku tidak menyangka animo publik terhadap Naruto Run pertama di Jakarta ini begitu besar.

Pengetahuan ini sudah dimiliki peserta lain Naruto Run, Gamaray Julian. Aku ingat selama berlari gerak Julian sangat stabil. Aku menganggap Julian salah satu jagoan lari gaya Naruto. Ternyata Julian memang jagoan lari model begini. Dia sengaja datang ke acara Comifurai 9 demi ikut Naruto Run. Sebelum datang, dia sudah mempelajari trik berlari Naruto lewat panduan Wikihow yang disusun oleh 'hokage' pelaksana. Dalam situs tersebut, sudah dijelaskan jika kalian ingin berlari seperti Naruto, para shinobi wajib mengenakan pakaian yang nyaman. Coba lihat Naruto, yang menurutku terlihat seperti mengenakan setelan baju olahraga SMA dengan sedikit aksesoris tambahan. Terlihat nyaman bukan? Jangan lupa mengenakan sepatu yang pas untuk berlari agar tidak licin dan tidak menyebabkan cedera.

"Kombinasi antara kemiringan tubuh dan posisi tangan sangat berpengaruh. Saya merasa semakin miring semakin cepat, tapi diikuti dengan risiko kehilangan keseimbangan," kata Julian saat membagikan trik rahasianya padaku. "Saya akan pertimbangkan betul-betul untuk memasukkan Naruto Run pada sesi jogging saya."

Lantas, apakah lari Naruto ini aman? Aku bertanya pada pelatih Pelatnas Atletik Indonesia, Agung Mulyawan. Dia segera memberi jawaban mengapa lari Naruto amat sulit dilakukan manusia kebanyakan. Menurut Agung, ayunan lengan dalam aktivitas lari sangat penting untuk mengatur kecepatan dan keseimbangan. Semakin cepat lengan diayun, semakin cepat pula langkah seorang pelari. Begitu pula sebaliknya.

"Dalam lari naruto, enggak ada ayunan lengan otomatis enggak ada dorongan untuk lari. Jadi, kita hanya mengandalkan kekuatan kaki saja. Sementara kaki kan ada batas kemampuan kerjanya," kata Agung kepada VICE. "Jika tidak ditopang kekuatan otot kaki yang baik, maka durasi lari enggak akan lama. Mungkin lari bisa saja cepat, tapi pelari enggak bisa bertahan lama karena kekuatan ototnya enggak mumpuni."

Random banget ya, tahu-tahu di parkiran dinosaurus sama karakter Ghibli ikutan lari Naruto. Foto oleh penulis.

Agung menjelaskan, bila seseorang nekat melakukan lari Naruto tanpa persiapan, risiko terbesarnya adalah cedera lutut. Dalam lari Naruto, posisi tubuh yang cenderung condong ke depan memaksa pelari mengangkat paha lebih tinggi jika ingin menaikkan kecepatan. Dalam langkah-langkah berikutnya, pelari harus memberi tenaga ekstra dan memberi dorongan pada bagian paha dan lutut yang lebih besar.

Pernyataan Agung membuatku kecewa. Selama ini aku mengira lari Naruto merupakan cara terbaik memaksimalkan kecepatan lari. Aku dan Marquee membayangkan betapa wolesnya Naruto, Kakashi, dan Sasuke lari sambil ngobrol dan berteriak satu sama lain. Parahnya, Marquee bikin aku sadar sebetulnya tidak ada ninja yang berlari seperti Naruto dan kawan-kawannya.

"Gue merasa tertipu sama lari naruto, mereka bisa lari sambil teriak-teriak, 'naruto', 'sasuke', gue lari enggak teriak aja engap-engapan, sedangkan mereka bisa loh lari sambil ngobrol, bahkan bisa sambil flashback bayangin kejadian masa lalu," kata Marquee padaku sambil tergelak.

Agaknya, meyakini bahwa lari Naruto merupakan trik lari terhebat sepanjang masa adalah buah kesembronoan jiwa mudaku yang terbawa sampai sekarang. Agung, si pelatih pelatnas itu, juga tipe yang senang menghancurkan impian masa kecil seseorang. "Sebagai orang biasa, fungsi lengan penting banget dalam lari. Kalau Naruto kan punya cakra, lah kita?" kata Agung bertanya retoris. Iya deh pak, iya. Tapi ingat pak, impianku menjadi shinobi ala penduduk Desa Konoha tak akan padam. Seperti Naruto, aku tidak akan menyerah hanya karena halangan, rintangan, dan orang-orang mengatakan cita-citaku mustahil. Menjadi ninja adalah berjuang menghadapi setiap ketidakmungkinan. Inilah jalan ninjaku!

Seenggaknya sekarang gaya lari Naruto sudah ada yang mempraktikannya. Jadi, kapan kita bikin latihan membangkitkan cakra?

"That Was Easy" adalah seri artikel di VICE. Penulis kami akan mencoba skill-skill baru yang sulit dan tak biasa dipelajari orang. Kalian punya ide tim kami harus belajar apalagi? mention saja Twitter kami, jangan lupa beri tagar "#thatwaseasy."