Film

Jurnalisme Film Gagal Menjalankan Fungsinya

Ulasan yang lebih mirip iklan dan kurangnya keragaman media serius mengulas sinema, menimbulkan berbagai pertanyaan tentang masa depan jurnalisme film berkualitas.
Hannah Ewens
London, GB
17.8.17
VICE interview bersama Christopher Nolan di sesi wawancara maraton untuk promosi film 'Dunkirk'

Setelah melangkah keluar dari bioskop sesudah menonton sebuah film, saya tentu ingin membahas ceritanya dong. Wajar banget. Saya ingin membaca resensi, kesel sendiri, pusing mikirin apakah opini saya benar tentang adegan-adegan film yang problematik, mencari tahu cara karakter filmnya memandang dunia. Entah kenapa saya merasa seperti ini tentang film, dibanding misalnya buku atau album musik. Tapi nyebelinnya, industri film saat ini seperti hendak mematikan gairah pencinta film kayak saya. Apa yang publik dan industri inginkan justru berlawanan. Film barangkali satu-satunya budaya pop yang memiliki masalah dengan kehadiran jurnalisme berkualitas.

Iklan

Begitu sebuah album musik dirilis, langsung muncul tulisan blog, wawancara, opini, sampai komentar di YouTube. Begitu ketertarikan publik meningkat, semakin banyak wawancara dirilis. Ketika sebuah episode acara TV diputar, orang langsung membicarakannya di media sosial, real-time. Keesokan harinya, muncul berbagai resensi, ulasan episode dan analisis cerita. Kini, seiring model TV berubah ke jasa streaming, orang bisa nonton maraton satu musim penuh di akhir pekan atau menonton acara tersebut satu dua bulan setelah pertama kali tayang. Gak masalah. Mengikuti model streaming ini, opini dan wawancara dirilis perlahan-lahan dalam jangka waktu beberapa minggu, setelah acara tersebut bisa ditonton di Netflix.

Sebaliknya, di industri film, semua publikasi difokuskan di pekan pertama menjelang perilisan film. Di masa lalu, minggu pertama film di box office selalu penting untuk menciptakan hype, tapi kini studio justru merilis sangat banyak film, sehingga setiap film memiliki jangka waktu yang lebih sedikit untuk bisa meraup uang. Minggu pertama perilisan yang buruk bahkan bisa berarti film tersebut merugikan studio (makanya banyak film laga blockbuster yang "aman" dan "gampang"). Tekanan finansial ini menciptakan lingkungan yang tidak nyaman untuk kita menulis dan membicarakan film secara lebih terbuka.

Mayoritas artikel film terasa 'harus' diterbitkan sebelum filmnya bahkan dirilis. Kalau anda berhasil mendapatkan akses ke "talent", yakni sutradara dan aktor, atau menonton screening terbatas, maka anda harus menyetujui rahasia umum bahwa konten yang sedang anda buat harus diterbitkan di minggu pertama perilisan film. Masalahnya, di titik ini, sudah gak ada yang peduli. Kecuali yang diwawancarai adalah sosok sutradara favorit, atau kalian jenis orang yang membaca resensi pertama sebagai panduan ingin menonton film tertentu atau tidak, kemungkinan besar kita tidak pernah peduli sama berita-berita seputar film. Setelah menonton film, barulah kita ingin terlibat dalam dialog tentang karya sinema tersebut.

Faktanya, wawancara praedar selalu hanya berfokus pada cerita filmnya. Sementara, wartawan sulit melakukan wawancara dengan sineas atau aktor setelah filmnya dirilis, karena percakapan seputar filmnya telah berkembang jauh. Kadang alasannya adalah aktor sudah berada di negara lain mempromosikan film mereka berikutnya. Liputan media yang kita dapat selalu menggunakan pendekatan marketing tercerai berai. Buktinya? Lihat saja fenomena junket—barisan panjang antrian interview yang dilakukan di hotel sebelum film itu dirilis.

Iklan

Kalo cuma dikasih waktu empat menit untuk wawancara, emangnya bisa nanya apa sih? Kalau aktor yang diwawancarai lagi batuk dan harus minum air, 30 detik udah ilang. Itu setara 1/8 waktu yang tersedia. Mungkin aja si aktor kebelet kentut terus enggak merhatiin pertanyaanmu, hilang lagi 20 detik—1/12 waktumu sia-sia. Publisis mereka tiba-tiba nongol dan mengingatkan "Oke, waktunya tinggal 3 menit lagi ya" dan konsentrasimu langsung buyar—10 detik lagi-lagi hilang. Kalau kamu beruntung, kamu bisa mendapatkan delapan hingga sepuluh menit sesi wawancara.

Ruang tunggu wawancara sesi Junket (Foto oleh Megan Koester)

Slot seperti ini sengaja dibikin pendek karena studio dan publisis ingin liputan di sebanyak mungkin media. Dari awal emang tujuannya kuantitas, dibanding kualitas. Konten yang dihasilkan media semakin tidak relevan—paling cuma bisa nulis nama film, sinopsis, mungkin sebuah klip atau foto, beberapa kata dari sutradara atau aktornya. Udah gitu doang. Situasi ini diperparah dengan meningkatnya publikasi online, ditambah dengan YouTuber, blogger dan bentuk-bentuk jurnalisme non-tradisional lainnya. Makin padatlah slot wawancara. Mungkin ini hanya kekhawatiran orang dalam industri film, tapi buktinya SNL sempat menciptakan sebuah sketsa komedi pada 2015 mengejek-ngejek format wawancara model junket: seorang remaja kikuk dari koran kampus mendapat kesempatan mewawancarai Dakota Johnson, pemera utama Fifty Shades of Grey yang sibuk berorgasme, sementara sang publisis kewalahan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Dalam wawancara berdurasi terbatas, selalu ada nuansa yang tidak nyaman, semacam kesopanan yang tidak perlu. Ada semacam kesadaran dari semua pihak bahwa interaksi yang terjadi sudah sangat diatur. Sang publisis entah berada di dalam ruangan yang sama selama durasi interview untuk terus mengawasi, membuat anda tidak bisa terlalu lepas menanyakan pertanyaan.

Iklan

Mungkin anda berpikir 'ah bukannya semua wawancara dengan selebriti kayak gitu'. Tapi mengingat semua wawancara yang pernah saya lakukan dengan bintang pop, rockstar, komedian, penulis, atau presenter, tidak ada yang benar-benar diatur oleh manajemen dan publisis talent seperti aktor di industri film. Anda bisa menghabiskan satu jam sendirian di bar bersama Ed Sheeran, sementara ngobrol bersama bintang kelas menengah dari film Marvel terbaru hanya bisa maksimal 15 menit. Itupun si publisis mengawasi ketat wawancaranya, memastikan anda tidak menanyakan opini jujur si aktor tentang film yang dia bintangi.

Mekanisme model junket mulai dipertanyakan beberapa tahun lalu, ketika Krishnan Guru-Murthy dari saluran TV Channel 4 News menghasilkan beberapa insiden minor dengan sosok yang dia wawancarai. Robert Downey-Jr pernah ngambek sampai keluar ruangan ketika ditanya tentang masa lalunya. Dan yang paling terkenal, sutradara Quentin Tarantino marah ketika ditanya mengenai topik rasial saat promosi film Django Unchained. Sang sutradara menolak pertanyaan dan mengatakan, "Elo gue abisin entar."

Tarantino marah-marah saat diwawancarai Guru-Murthy (Via YouTube)

"Wawancara ini iklan buat film gue, jangan ngawur ya," ujar Tarantino, menggambarkan bahwa liputan film tidak lebih dari sekedar iklan murni tanpa makna lain apapun. Secara visual, elemen marketing juga sangat jelas: di setiap ruangan interview junket, ada poster film resmi berukuran besar sebagai latar belakang. "Saya bukan budakmu dan kamu bukan tuan saya. Kamu gak bisa membuat saya menurutimu. Saya bukan monyet," ujarnya. Ya intinya begitulah: junket itu tidak bisa menjadi sarana percakapan yang mendalam sesuai aspirasi jurnalis.

Yang tak kalah menyebalkannya tentu saja para pelaku wawancara-wawancara ini. Tidak banyak keragaman dalam jurnalisme film, sama seperti cara kerja industri film itu sendiri: sebuah penelitian yang terbit pada 2014 menyimpukan 85 persen dari film yang dirilis disutradarai laki-laki, dan 80 persen film tidak memiliki kru penulis perempuan sama sekali. Di negara saya, Inggris, hanya ada 13,6 persen perempuan berstatus sutradara yang masih aktif. Data-data ini akan semakin bertambah buruk ketika kita mempertimbangkan aspek ras dan seksualitas. Di Barat, sering kan kita lihat jurnalis film lelaki diminta mewancarai dan menulis resensi film buatan seorang feminis? Ini bukan kebetulan, bahwa tema laporan seperti whitewashing, seksisme, ras, kelas dan sebagainya baru keluar setelah film dirilis. Dalam industri film Barat, mereka-mereka yang diundang untuk screening sebelum tanggal edar kebanyakan adalah jurnalis lelaki kelas menengah berkulit putih.

Iklan

Di sisi lain wawancara ini, tentunya adalah si aktor yang mendapat pertanyaan yang sama seharian penuh, atau bahkan selama beberapa hari di negara-negara yang berbeda. Kadang si talent terlihat jelas bosan—ya bukan salah mereka juga—ini biasa disebut sebagai "demam junket". Contohnya: Vin Diesel yang justru menggoda seorang YouTuber perempuan dalam promosi XXX, atau Paul Rudd dan Jason Segel yang kemungkinan besar "lagi make" ketika diwawancarai, format junket ini jelas sangat membosankan sehingga orang merasa perlu memecah kebosanan dengan cara berlaku sesuka hati mereka.

Kebanyakan tulisan tentang film terbaik justru diterbitkan beberapa minggu setelah perilisan, ketika masyarakat umum telah menonton film dan memiliki pertanyaan seputar film. Masalahnya, karena si aktor sudah selesai dengan proyek film tersebut, mereka tidak akan menjawab pertanyaan publik. Beberapa minggu sesudah rilisnya Dunkirk kaya Christopher Nolan misalnya, artikel Guardian, The Times of India dan banyak lagi media lainnya mempertanyakan keberadaan karakter India dan Afrika dalam film tersebut yang terpinggirkan. Isu tersebut belum direspon oleh sang sutradara. Beberapa tulisan film terbaik kerap keluar beberapa tahun setelah film dirilis, di edisi ulang tahun, ketika sutradara dan aktor bisa menjelaskan isu dan pertanyaan yang dimiliki publik tentang karya mereka.

Salah satu contoh jurnalisme film terbaik sepanjang masa adalah laporan Meaghan Garvey untuk MTV, terbit Mei 2017, tentang female gaze dalam film The Love Witch karya Anna Biller. Ini salah satu film favoritku di 2016. Dia membicarakan bagaimana banyak kritikus lelaki tidak membahas karakter dan feminisme di film, dan hanya melahap visual film yang cantik (ironisnya, cara pandang macam itu adalah hal yang ditentang oleh karakter utama film tersebut: Elaine). Garvey membandingkan respons The Love Witch dengan sambutan yang diperoleh I Love Dick karya Lana Del Rey dan Chris Kraus. Sayang banget kan jurnalisme bagus seperti ini malah tak dimunculkan oleh jurnalisme film arus utama, tidak jarang karena sang editor enggan menerbitkannya beberapa bulan setelah film dirilis.

Iklan

Guru-Murthy memberi klarifikasi terhadap situasi Downey-Jnr bahwa "mungkin, ini sama seperti hubungan yang gagal, udah gak bisa lagi," ketika ditanya tentang dunia liputan dan media film. Ujung-ujungnya hubungan tidak sehat ini akan terus berlanjut tanpa banyak ditentang, karena sering media bersyukur bisa mendapatkan sesuatu, apapun itu. Padahal banyak sekali kesempatan untuk meningkatkan mutu jurnalisme film. Di era internet yang penuh dengan tulisan panjang yang baik tentang TV dan musik—misalnya tulisan tentang Sofia Coppola dan whitewashing (jarang sekali informasi tentang peminggiran karakter kulit hitam keluar begitu awal dan bisa ditanyakan ke Coppola di wawancara praedar), dan artikel tentang bagaimana industri film justru mendukung aktor bermasalah seperti Casey Affleck.

Apabila tambah banyak jurnaslime film bermutu macam itu, pengalaman kita dengan sinema akan semakin kaya. Begitu keluar dari ruangan bioskop yang gelap, anda bisa langsung googling tentang filmnya, dan membaca-baca berbagai jurnalisme jujur tentang film. Lebih seru begitu kan?

Follow penulis artikel ini di akun @hannahrosewens

Berikut artikel wawancara VICE dengan topik film lainnya:

Sofia Coppola

Nicolas Winding Refn

Sasha Lane