Musik

Acara Reality Show Pemicu Bangkitnya Musik Rap di Cina

Tentu saja aparat Cina berusaha memberangus rapper-rapper dengan lirik yang dinilai pemerintah terlalu frontal. Beruntung, mereka selalu mencari cara untuk mengakali opresi.
12.1.18
A photo of Bridge. All photos by Matjaz Tancic

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey Tangan kurusnya mengayun dan rambut gimbal tarantula berwarna putih menutupi kacamatanya yang terlalu besar ketika Cheng Jianqiao berjalan petantang-petenteng ke dalam sebuah warung teh di area barat daya kota Chongqing. Kami seharusnya bertemu setelah dia tampil di acara TV Cina populer, The Rap of China, di mana dia menggunakan nama panggung, Bridge, dan berhasil mencapai final dari acara kompetisi bergaya X-Factor tersebut. Setelah menampilkan lagu jawaranya “Boss”, para juri, duduk di samping barisan botol minuman vitamin yang mereka promosikan, meloloskan dia ke ronde berikutnya. Bridge menggenggam mikrofonnya tinggi seperti sebuah shotgun, mengangguk secara sombong, dan seolah-olah menembakkan senapannya tersebut.

Iklan

“Yeah, semua orang kenal gue sekarang!” teriak Bridge sambil duduk di meja seiring saya menuangkan teh hijau dan bertanya apabila penampilannya dalam acara itu membuatnya terkenal. “Musik hip-hop sudah terlalu lama terbenam di bawah tanah — ini saatnya hip-hop bernafas di atas tanah.”

Acara The Rap of China memang melejitkan musik hip hop di CIna. Pertama kali ditayangkan di pelantar ( platform) video internet iQiyi tanggal 24 Juni tahun lalu, dalam bulan pertamanya, acara ini ditonton 700 juta kali. Genre purist memakinya karena memiliki pop star sebagai juri dan meniru format acara talenta lainnya, tapi di bulan September, acara sudah ditonton lebih dari 2.5 miliar kali. Biasa tersembunyi di kancah musik bahwa tanah semenjak 1990-an, dan kerap menjadi sasaran sensor pemerintah, nampaknya hip-hop akhirnya masuk ke ranah mainstream di Cina.

Bridge, anggota dari kru rap berbasis di Chongqing, GO$H, masuk ke dalam delapan besar kompetisi. GAI, juga anggota dari komunitas GO$H, akhirnya berbagi posisi juara dengan PG One, rapper dari Xi’an di timur laut Cina. Tapi kesuksesan pasangan Chongqing ini bukanlah sebuah kebetulan. Bahkan sebelum The Rap of Cina ditayangkan di TV, Chongqing sudah menjadi pusat talenta hip-hop, terutama sejak musik trap menjadi terkenal di sana—dan juga di provinsi tetangga, Sichuan—sekitar 2015. Jadi apa sih yang membuat daerah ini memunculkan banyak rapper?

Apakah The Rap of Cina telah memberikan mereka pelantar untuk masa depan, atau ini hanya tren semata? Dan bagaimana seniman-seniman ini bisa sukses di dalam sistem yang menerapkan banyak larangan tentang kebebasan berbicara dan media?Di awal 1990-an, ketika Bridge masih mengenakan popok dan belum T-shirt kedodoran dan rantai, DJ mulai memainkan album hip-hop impor AS di klub Beijing dan Shanghai. Namun barulah sepuluh tahun kemudian sebelum grup rap mulai bermunculan di Cina, yang paling dikenal adalah empat sekawan Yin Ts’ang dari Beijing, yang memiliki anggota warga negara AS dan Kanada. Di akhir 2000an, trip rap asal Beijing, IN3, sempat meraih sedikit kesuksesan lewat beat mereka yang halu, dan lirik yang agak nakal tentang membenci guru dan korupsi.

“Ada yang tidur di gorong-gorong bawah tanah, tapi ada juga yang menggunakan uang pemerintah untuk membayar pesta makan mereka,” rap IN3 di lagu terbesar mereka, “Beijing Evening News” —bukan sebuah ajakan revolusi tentunya, tapi sedikit menyentil pihak aparat. Lirik lagu tersebut “Ada yang minum, ada yang make, ada juga yang ngewe tanpa kondom” sudah pasti tidak membuat Kementrian Budaya Cina terhibur juga.

Iklan

Grup macam IN3, dan veteran lainnya seperti Old Panda dari Chengdu, telah mempengaruhi gerombolan baru rapper Cina seperti yang ditunjukkan The Rap of China—tapi lebih besar lagi pengaruhnya adalah rapper-rapper AS yang mereka konsumsi lewat internet. Bridge, misalnya, mengatakan ketertarikannya dengan hip-hop datang setelah menonton pertandingan NBA di TV dan mendengarkan rapper seperti Chingy, yang memang dekat dengan olahraga tersebut. Dia menemukan orang-orang dengan selera serupa online lewat software pesan Cina, QQ, berbagi tautan untuk lagu-lagu Nas, Jay-Z, dan 50 Cent. “Kami tidak memiliki guru untuk ini, jadi internet adalah guru kami,” jelasnya.

Banyak dari anak-anak penggila hip-hop dan basket ini menemukan sebuah komunitas lewat GO$H seiring mereka mulai membuat musik dalam studio jadi-jadian (alias apartemen mereka menggunakan laptop). Kolektif ini muncul di Chongqing di 2013, terbentuk dari sisa kru hip-hop Keep Real yang terbentuk di 2003. Semenjak awal, GO$H sangat terpengaruh oleh sound AS—simak “Gang$te” karya GAI (tonton di bawah) atau tembang trap Bridge dan K Eleven, “Work Every Day”, yang langsung meraih kesuksesan underground. GO$H bukanlah satu-satunya yang membuat musik rap dengan pengaruh trap: ada juga Ty dan Higher Brothers di Chengdu, ibukota SIchuan.

Musik Ty melodik dan mengalir, dengan lagu macam “Real Life” yang menyerupai lagu R&B mulus dan penuh dengan Auto-Tune. Sementara rapper Chongqing seperti GAI cenderung lebih agresif—diakibatkan kota mereka yang lebih keras, jelas Bridge. “Hip-hop bisa terdengar agresif dan mentalitas penduduk Chongqing cenderung lebih blak-blakan,” jelasnya. “Seperti merica, siap meledakkan indera pencecapmu.” Namun perbedaan ini tidak mengubah fakta bahwa baik Chengdu dan Chongqing dipandang sebagai pusat kebangkitan hip-hop Cina. Venue seperti Little Bar di Chengdu dan Nuts Live House di Chongqing selalu penuh sesak untuk acara hip-hop. Higher Brothers, empat sekawan, adalah grup paling sukses di Chengdu—lagu mereka “Made In Cina” telah mendulang 8 juta view di YouTube, sesuatu yang mencengangkan mengingat YouTube diblok oleh pemerintah Cina. Higher Brothers akan mampir tur ke AS bulan depan, dan sudah dikontrak oleh manajemen dan perusahaan produksi AS, 88rising.

Iklan

Di luar masuk ke YouTube, faktanya sangat luar biasa bahwa bahkan ada yang membuat musik hip-hop di CIna. Presiden XI Jinping saat ini tengah melakukan pemberangusan massal atas kebebasan berbicara dalam dunia seni di Cina, dan semenjak dia berkuasa di 2012, tali ikatan penyensoran semakin mencekik. Lirik yang dipandang sebagai vulgar, pornografik atau anti-otoritas akan dibuang, dan musisi kadang dipaksa untuk meminta maaf kepada publik, atau seperti yang menimpa IN3, melibatkan konsekuensi yang lebih serius.

Di 2015, Kementrian Budaya Cina menerbitkan daftar 120 lagu yang “dilarang” di Cina akibat konten mereka, dan 17 lagu tersebut adalah karya IN3. Anggota IN3 ditahan selama lima hari tanpa tuntutan, setelah kepalanya ditutup dengan karung dan diantar ke penjara di pinggir kota Beijing. Polisi mengatakan konten lirik merekalah biang keroknya dan semenjak itu mereka menghindari penampilan publik guna menghindari masalah.

Kemudian, minggu lalu, PG One, salah satu pemenang the Rap in China, dipaksa meminta maaf setelah menggunakan kata “bitch” di lagu 2015 mereka “Christmas Eve” setelah dia dilaporkan ke aparat setelah memenangkan acara. “Saya sangat terpengaruh oleh musik kulit hitam ketika saya terekspos ke kultur hip-hop di awal-awal, dan saya tidak memiliki pengertian yang benar akan nilai inti kultur hip-hop,” ujarnya dalam permintaan maafnya.

Mendengar contoh-contoh kasus seperti ini, mudah untuk membayangkan generasi baru rapper ini ketakukan menghadapi polisi mengetuk pintu rumah mereka. Namun ternyata kenyataannya tidak seperti itu—Bridge mengatakan bahwa terlibat dalam genre ini berarti “melihatnya sebagai sebuah permainan, sapa seperti acara TV tersebut. Negara boleh mengeluarkan peraturan untuk melawan saya, tapi saya akan selalu menemukan cara untuk mengakalinya. Ini bagian yang menyenangkan dari permainan.”

FUCKSKY

Bagi Bridge, menemukan cara mengakali aturan ini diwujudkan dalam penulisan lirik tentang mendapatkan uang dan menjadi seorang player—simak saja lirik “Boss”. “Lirik saya OK karena gayaku tentang kehidupan sehari-hari—santai dan positif,” katanya, seiring menghembuskan asap rokok dari paru-parunya ke atas meja. “Saya tidak pernah memikirkan lirik anti pemerintah—saya cinta negara saya! Kami menikmati kepopuleran ini sekarang karena negara kami tengah mempromosikan kultur hip-hop. Tanpa mereka, kami tidak akan mendapat perhatian seperti ini.

Higher Brothers sedikit lebih mengambil resiko, tapi tetap dengan skill dan humor. Dalam lagu mereka “WeChat,” merujuk ke applikasi pesan paling populer Cina, mereka berhasil lolos mengkritik penyensoran dengan cara membantah kritik dan mengatakan ini adalah bentuk perayaan app tersebut. “Tidak ada Skype, tidak ada Facebook, tidak ada Twitter, tidak ada Instagram…kami pakai WeChat di sini!” bunyi lirik lagu tersebut, lengkap dengan efek suara pesan WeChat dan vokal tamu dari rapper kultus Korea Selatan, Keith Ape.

“Ketika menulis lagu, kami mencoba menghindari area tertentu,” jelas Masiwei, salah satu anggota Higher Brothers. “Kami menulis apa yang ingin kami tulis tanpa menyentuh wilayah yang dilarang.” Berbicara via telepon, dia menambahkan bahwa lirik “vulgar” yang dikhawatirkan pemerintah sesungguhnya lebih tidak berbahaya dibanding lirik anti-otoritas. “Mengumpat dalam lagu hip-hop berbahasa Inggris masuk akal,” ujarnya, “tapi tidak masuk akal dalam lagu Cina. Kami memiliki masyarakat dan kultur yang berbeda—lingkungan kami jauh lebih konservatif.”

Lirik subversif mungkin tidak bisa bebas ditulis di Cina, tapi jangan kira momentum hip-hop Cina akan mengendur. Higher Brothers sudah merencakan hal-hal besar di kancah internasional, GO$H sudah tur keliling Cina di hadapan penonton ramai, dan baru beberapa bulan lalu, New York Times menulis bahwa kancah hip-hop CIna telah “menyerbu mainstream Cina” Jiaotong Tea House di Chongqing.

Sesaat sebelum saya meninggalkan Chongqing, saya bersinggah di Jiaotong Tea House dan menemukan sebuah ruangan besar dimana GO$H merekam video musik mereka, Kebetulan sekali, sebuah kru rap lain bernama Allight sedang merekam video musik mereka di situ. Mereka melontarkan lirik di depan kamera seiring pengunjung manula asik menyeruput teh dan bermain mahjong.

“”Kami mulai mendengarkan hip-hop di 2012—kami mengira ngerap akan jadi trik yang bagus untuk mendapatkan perempuan,” ujar Jiang Shihao, 23, mengenakan headband merah, ketika sedang beristirahat di antara take. Jiang ngerap menggunakan nama FUCKSKY, tapi sesungguhnya dia lebih sopan dibanding nama panggungnya tersebut. “Tapi kecintaan saya untuk hip-hop bertahan dan menjadi hidup saya,” tambahnya, sambil tersenyum dan menahan sebuah boombox di bahunya. Jiang jelas bukan satu-satunya pegiat hip-hop di Cina, tapi kira-kira seperti apa masa depan genre ini di mantan negara komunis tersebut? Pendiri Zhong.tv menjawab pertanyaan itu secara kilat. “Saya dengar audisi untuk musim kedua The Rap of China akan dibuka sebulan lagi…”