Politik Meme

Meme Shitpost Mi Instan Adalah Gambaran Ruwetnya Peta Politik Indonesia Masa Kini

Laman Facebook 'MCA', 'PKI', hingga 'FPI' rajin berdebat soal merek mi terenak. VICE mewawancarai para admin, demi memahami motivasi politik para pendukung fanatik mi instan itu.
23 April 2018, 8:12am
Ilustrasi pertarungan dua merek mi instan populer di Indonesia oleh Dini Lestari. 

Puji Tuhan, karena menganugerahkan Indonesia pada kultur shitposting yang subur di media sosial. Kapan coba kalian bisa menyaksikan keributan koalisi FPI dan PKI(n) menghadapi MCA mempersoalkan mana merek mi instan paling enak di Tanah Air?!

Dunia politik Indonesia belakangan terlalu hitam putih—kalau bukan pendukung A, dianggap pasti membela B. Kamu seakan tak punya pilihan kecuali jadi Cebong atau Kampret. Pendukung Jokowi atau Prabowo. Atau dipaksa mendukung keduanya. Gila ya kelakuan para buzzer yang cari makan dari keruhnya percakapan media sosial kita. Meletihkan.

Sekali lagi, untung ada meme. Percakapan seputar politik yang dangkal, oleh anak-anak meme, berhasil dijungkirbalikkan untuk memperluas imajinasi kita. Laman Facebook dengan nama singkatan organisasi masyarakat (ormas) intoleran sayap kanan serta partai kiri, jadi bisa bersatu mendukung merek mi instan yang sama. Keduanya berkoalisi melawan page lain yang meminjam nama kelompok penyebar hoax. Setidaknya, semua itu adalah kenyataan dalam kancah parodi politik mi instan via Facebook.

Laman-laman shitpost mengusung fanatisme terhadap merek mi instan tertentu itu bermunculan sejak akhir 2017. Isinya kebanyakan meme, namun tak jarang tiap admin memberanikan diri menyerang page "pesaing". Ribuan orang aktif sebagai follower akun-akun ini. Tiap laman memposisikan diri sebagai karikatur aktor politik dan menyajikan rivalitas gadungan atas merek-merek mie instan sebagai sentilan nyinyir untuk kondisi politik sesungguhnya di Tanah Air.

Ambil contoh Partai Kehaqiqian Indomie (PKIn). Laman ini baru hadir Maret lalu, sebagai sebagai “partai” bagi para penggemar merek Indomie dari haluan liberal. Walau tidak secara eksplisit mengakui lamannyanya beraliran “kiri”, yang pasti, satu admin membenarkan bila penggemar laman PKIn biasa dipanggil dengan sebutan “kamerad!”. Admin PKIn tidak menampik bila nama fan page ini terinspirasi dari partai yang lebih dari setengah abad lalu diberangus rezim Orde Baru. Namanya yang terkesan parodi juga upaya untuk menghindari jerat hukum atau pelaporan orang-orang yang tidak bisa santai, mengingat TAP MPRS 1966 sampai sekarang masih berlaku soal ancaman pidana bagi semua hal berbau komunis.

“[PKIn] kekiri-kirian sih enggak karena saya masih takut hukum, hehe. Kami hanya membuat guyonan bernada sarkas yang agak nyerempet ‘kekirian’,” kata salah satu admin PKIn kepada VICE (oh iya, sedikit penjelasan, karena materi shitposting mereka menyenggol merek-merek besar, dan khawatir ada ancaman yang tidak perlu, semua admin meminta nama aslinya tidak disebut dalam wawancara ini).

Uniknya, kehadiran PKIn tidak bisa dilepaskan dari munculnya Front Pembela Indomie (FPIn – iya namanya mirip sama ormas itu tuh). FPI versi shitpost mengaku sebagai koalisi sayap kanan page “Maha Haqiqi Indomie dengan Segala Varian Rasa-Nya."

Di lain pihak, ada juga Miesedaap Cyber Army (MCA), yang namanya diambil dari grup penebar hoax. Dalam parodi politik di fan page facebook, MCA yang dibuat sebulan lalu ini dan punya sekitar xxx followers sama kuatnya dengan FPIn dan PKIn. Bedanya, MCA adalah corong para penghamba merek Mie Sedaap. Laman FB ini sudah memiliki koalisi sendiri, yakni dengan page Habiebana ya Sedaap. Admin MCA mengakui nama grupnya adalah upaya menertawakan kelompok siber yang ditangkap polisi atas dugaan aktif menyebar hoax dan ujaran kebencian.

“Bisa dibilang [fan page ini sindiran] ke sebuah kelompok, tapi ya kami sih hanya sindiran aja ya enggak sampai ke level SARA,” kata salah satu admin MCA.

Intinya, tak beda jauh dari kondisi perpolitikan riil di Indonesia, peta persaingan page shitposting soal merek mi instan di Facebook cukup ruwet. Ada beberapa poros koalisi dan haluan ideologi dalam barisan penggemar berat Indomie versus Mie Sedaap.

Berdasarkan wawancara VICE bersama beberapa admin dari keempat fanpage tersebut setidaknya terdapat tiga kubu paling besar. Kelompok pertama adalah koalisi MCA dan Habiebana ya Sedaap. PKIn dan FPIn ada di blok timur; kalangan moderat terdiri atas ISIS, Supermie, dan Hizbut Popmie Indonesia (HPI).

Jangan lupakan juga Lembaga Persatuan Bakmie Bersatu (PBB) yang bertindak mirip PBB di kancah shitposting mi instan. Versi itu tentu tidak ajeg. PKIn berkukuh punya pembacaan situasi sendiri. Mereka menuding laman Facebook Maha Haqiqi Indomie dengan Segala Varian Rasa-Nya sebagai kelompok paling moderat; PKIn masuk kategori golongan liberal; FPIn konservatif; MCA konservatif; sedangkan ISIS sebagai kelompok otokrasi militan.

Becanda soal mi instan doang aja berat amat coy!

Parodi yang berjalan organik di fanpage facebook ini awalnya memang hanya untuk bercanda soal mi instan. Tapi lambat laun para adminnya menyadari, apa yang mereka lakukan bisa mengajak pengguna Facebook menertawakan keruwetan konstelasi politik Indonesia. Admin ISIS, saat dihubungi VICE, merasa parodi politik dengan bungkus shitpost mi instan sebagai pengalih isu ketegangan dari konflik di dunia nyata.

“Di organisasi aslinya sendiri banyak konflik politik dan isu macam-macam, saya mencoba mengemasnya sedikit humoris,” ujarnya. “Saya tetap berusaha mengikuti alur politik yang sebenarnya. Meski di pihak lawan terjadi perbedaan arah politik. misalnya, FPIn beraliansi dengan PKIn. FPIn memusuhi MCA. Namun sejauh ini alur parodinya tetap berusaha mengikuti alur politik aslinya, meski diambil dari konflik yang tidak berkaitan dengan organisasi sebenarnya.”

Walau sebutannya parodi atau shitpost, ternyata tak semua bisa tertawa. Ada saja yang kontra. Admin PKIn mengaku sering diprotes pengguna Facebook karena nama fanpagenya yang mirip dengan Partai yang telah diberangus rezim terdahulu. FPIn juga sama, diprotes karena nama pagenya dianggap melecehkan ormas yang pemimpin tertingginya sampai sekarang belum juga balik ke Tanah Air.

“Kalau diprotes orang mah biasa, namanya juga page shitpost, tapi kalau sama anggota FPI belum pernah. Kalau suatu saat mau protes pun saya pertegas kembali bahwa page ini tidak ada urusannya dengan politik dan organisasi lain,” kata Admin FPIn kepada VICE. “Page ini dibuat murni untuk mempersatukan pecinta Indomie dan menghadirkan humor yang segar.”

Sebagai contoh humor politis apa yang mereka bawa, ini adalah salah satu pengumuman yang diunggah di page PKIn. Dalam unggahan tersebut dijabarkan sikap politik panglima Besar Indofood Sarimi Isidua State (ISIS) yang bercita-cita mendirikan negara Khilandofood. Sang panglima besar menegaskan betapa ajaran Indofood yang kaffah tidak boleh sampai menyimpang alias bikin bidah. ISIS menentang organisasi lainnya seperti Partai Kehaqiqian Indomie (PKIn) atau Front Pembela Indomie (FPIn) yang menurut ISIS telah menyimpang dari ajaran mie yang “sesungguhnya.”

“[Penyimpangannya] misalnya mencampur [mie instan] dengan nasi, menambah topping yang tidak biasa seperti makaroni, mencampur dua atau lebih rasa indomie yang berbeda, terlebih jika mencampur dengan merk lain,” kata admin ISIS kepada VICE. “Karena dalam FPIn dan PKIn mendeklarasikan diri sebagai organisasi bakmi fundamental, nyatanya mempraktikan paham paham kapitalis dan liberal. Ini tidak bisa dimaafkan oleh kami yang berjuang menegakan ajaran indofood Sarimi.”

Bahkan selama wawancara dengan saya, tiap-tiap admin ini tetap teguh bermain peran sebagai fundamentalis mi instan. Salut!

Tetap saja, ada banyak hal yang membuatku bertanya-tanya. Semisal, mengapa fanpage mi instan guyonannya harus banget nyerempet politis? Jangan-jangan para admin ini masih dari satu lingkaran pergaulan yang sama?

Mereka membantahnya. Tiap admin mengaku tidak saling kenal. Lagi-lagi, merek mi instan jadi parodi karena perbincangan soal politik di dunia nyata sedang sangat menjemukan. "Kami merespons fanatisme dan keberpihakan dalam kancah perpolitikan Indonesia," kata admin FPIn.

Adapun admin MCA menyatakan akunnya sejak awal dibuat sekaligus menyampaikan kritik buat pihak-pihak yang membawa agama untuk kepentingan politik jangka pendek. Sementara admin ISIS mengatakan rivalitas dan fanatisme mie instan ini bisa diibaratkan sebagai alegori perebutan kekuasaan.

“[Konflik politik antar pendukung mi instan ini] tujuannya mencari siapa yang terbaik, berusaha menyingkirkan produk lain. Sama dengan politik di dunia nyata pun,” ujar admin ISIS. “Di luar sana terlalu haus dengan kekuasaan sehingga lupa dengan tujuan politik mereka, terjadi politik kotor, main sikut sana-sini, terjadi perpecahan kubu karena saling membela idola politiknya. Hal itulah yang saya parodikan dalam [politik] mi instan.”

Maraknya page shitposting ini, menurut pengamat budaya pop dari Pabrikultur, Hikmat Darmawan, tak bisa dilepaskan dari sebegitu mengakarnya mi instan sebagai produk konsumsi massal di Indonesia. Merujuk data 2017, penjualan mi instan tahun lalu mencapai 16 miliar bungkus dengan Indomie sebagai produk dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk menguasai 70 persen pangsa pasar. Pendek kata, mi instan resmi menjadi keseharian masyarakat. Makanya, ada memori kolektif, termasuk humor receh kalau kata anak sekarang, yang mudah diapropriasi oleh pembuat meme.

“Awalnya keberhasilan branding, tapi ketika dia di titik sekarang bisa diapropriasi jadi kegiatan budaya lainnya, persoalannya sudah penciptaan makna dalam setiap individu,” jelas Hikmat kepada VICE. “Dengan produk yang ada, kita menemukan makna hidup kita, dan banyak individunya.”

Sementara itu, kalau dilihat dari parodi politik, Hikmat bercerita sebetulnya meme parodi politik sudah lama ada (dan berlipat ganda). Ada periodesasi meme parodi politik yang ternyata jauh bermula dari era 1990-an, yang disebut era sebelum meme internet. Cikal-bakalnya bisa kita lihat dalam stiker atau kaos dengan pesan politik terutama di era pasca reformasi. Kemudian, gelombang pertama muncul pada era transisi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sekitar tahun 2013-2014, saat itu meme masih dibuat menggunakan photoshop tanpa meme generator, ribet intinya. Nah, gelombang kedua ditandai dengan kemunculan meme generator sampai era politik Pilkada Jakarta 2017 lalu, yang membuat siapapun dengan mudah membuat meme dalam hitungan detik.

Sekarang, menurut Hikmat, pengguna Internet di Indonesia masuk gelombang tiga. Ditandai dengan adanya kemudahan kesempatan untuk mengapropriasi suatu hal atau isu yang lebih luas. Kalau dulu sebatas gambar SBY mengelus dada, Jokowi nyengir, atau yang paling ikonik gambar Sandiaga Uno yang lagi ngapain aja pun memeable. Int apropriasinya bisa lebih luas. Makanya enggak heran ada merk mie instan sampai pelintiran nama organisasi dan ideologi politik.

“Banyaknya akun [meme politis] di facebook itu sekaligus indikator bahwa kita sebenarnya sudah lelah dengan musim politik yang enggak habis-habis ini, tapi memang belum ada yang dampaknya sampai betul-betul melenyapkan suasana politik, barangkali memang enggak bakal habis.” kata Hikmat. “Gue rasa dengan menjadikan media sosial kembali eskapis itu, malah peluang kita untuk tidak terjebak dalam ketegangan politik. mendingan eskapis daripada enggak bisa ngasih yang berpengetahuan, ketimbang emosi.”

Intinya sih ya, beragam meme parodi politik ini memang semestinya bikin kita kabur sedikit dari adu debat di facebook soal yang paling suci, siapa yang paling pantas memimpin, atau soal siapa yang lebih busuk. Makanya kata-kata admin Panglima Besar ISIS pas wawancara kemarin bakal selalu saya ingat, tiap merasa jenuh melihat bahasan politik di media sosial hanya berisi hiruk pikuk hasil kreativitas buzzer.

“Kalau orang mengamati parodi ini, mungkin mereka akan mikir bahwa konflik mi instan ini enggak penting. Sama-sama penggemar mi instan kok ribut, saling sikut sampai ada perang segala. Nyatanya, memang konflik ini enggak penting. Di sinilah peran kami, biar warganet juga berpikir bahwa konflik politik yang terjadi saat ini ya enggak penting, enggak berguna.”