Dokumenter Musik

Tonton Dokumenter Tentang Sang Arsitek Musik Trap, Tanpa Dia Tak Ada Migos atau Gucci Mane

Zaytoven namanya. Tanpa eksperimennya memainkan piano saat bikin beat rap, mungkin subgenre trap tak akan laku seperti sekarang.
23.4.18

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Sepanjang sejarahnya yang nyaris merentang 20 tahun, trap—salah satu subgenre trap yang lahir di Atlanta—kini sukses menjadi bahasa universal kultur hip-hop. Trap pada awalnya diasosiasikan dengan jalan hidup—utamanya jadi kanal ekspresi anak-anak muda di Atlanta yang akrab dengan peredaran narkoba. Lewat trap, anak-anak jalanan ini menjabarkan hidup dari sudut pandang mereka. Seiring waktu, seperti genre musik lainnya, karena makin populer maka trap akhirnya punya identitas musikal sendiri. Baik positif maupun negatif. Positifnya, musik trap sangat khas dan gampang menyulut semangat. Aspek negatif tentu tak kalah banyak. Beat musik trap zaman sekarang terasa seragam. Mau itu Migos, Gucci Mane, Higher Brothers di Cina, sampai Keith Ape asal Korea Selatan, beat-nya mirip-mirip. Cara mereka ngerap pun serupa tapi tak sama. Nyaris semua rapper trap pakai rima triplet, repetitif dalam segi pemilihan kata, serta terkesan kumur-kumur enggak jelas, makanya banyak hiphopheads mencemooh pegiat subgenre ini sebagai "mumble rap."

Bagaimanapun, trap sukses mengenalkan puluhan juta anak muda dari berbagai belahan dunia kepada kultur hip hop. Bahkan, sangat mungkin generasi Z menganggap trap sebagai hip hop itu sendiri. Maka, kita tetap harus mengenal kancah rap mana melahirkan subgenre yang meledak luar biasa 10 tahun terakhir belakangan tersebut.

Salah satu orang yang dinilai paling bertanggung jawab atas sound trap menjadi lebih universal adalah produser bernama Zaytoven. Dia malang melintang di kancah hip hop Atlanta, Negara Bagian Georgia, Amerika Serikat. Kota satu ini sejak 90'an memang sudah mbalelo mencoba lepas dari pengaruh musisi rap east coast (New York) maupun west coast (Los Angeles). Tak ada G-funk atau boombap di Atlanta. Produser-produser di Atlanta mengembangkan karakter sound sendiri, yang kelak dipopulerkan OutKast, Goodie Mob. Pada era 2000-an sound tersebut perlahan berubah ngepop dan dijuluki crunk—dominan banget sebagai representasi hip hop ala Atlanta. Nah, bibit perkembangannya kemudian menjadi trap, yang awalnya ingin jujur tentang kehidupan keras anak muda, dengan beat lebih keras, tapi akhirnya ya sama-sama terkooptasi arus utama.

Sosok ini beberapa kali diundang berkolaborasi bareng Gucci Mane. Zaytoven berhasil mengembalikan peran sentral piano dalam penciptaan beat untuk rap. Jika ingin memahami lebih jauh bagaimana Zaytoven menjadi sosok terpenting dalam perkembangan trap—subgenre rap paling laku saat ini—topik tersebut dibahas dokumenter terbaru yang diproduseri Red Bull berjudul The Note.

Silakan tonton The Note dalam tautan di awal artikel ini. Sesudahnya, jangan lupa nonton episode Noisey tentang kancah hip hop Atlanta. agar pemahamanmu soal tanah kelahiran Trap makin komprehensif.