Kerusakan Lingkungan

Tumpukan Sampah di Samudra Pasifik Nyaris Seluas Wilayah Indonesia

Sampah-sampah dari berbagai negara itu ternyata ukurannya 16 kali lebih besar dibanding perkiraan awal para ilmuwan. Limbah industri penangkapan ikan berkontribusi besar.
9.4.18
Berbagai sampah terbawa ombak hingga pantai. Mayoritas adalah plastik dan alat pancing. Foto oleh Dan Dennison / Associated Press

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Di Samudra Pasifik ada gundukan maha luas yang tak banyak diketahui orang. Gundukan itu berupa sampah yang menutupi permukaan laut, hasil buangan aktivitas manusia. Permasalahannya, jumlah sampah di samudra tersebut ternyata lebih besar dari perkiraan awal.

Saat ini, gundukan sampah di Pasifik luasnya mencapai 1,6 juta meter persegi. Ukurannyabahkan mendekati luas wilayah Republik Indonesia, yang tercatat 1,9 juta meter persegi. Berdasarkan penelitian terbaru yang terbit di jurnal Scientific Reports, data terbaru sampah pasifik lebih besar 16 kali lipat dari perkiraan awal ilmuwan.

Awalnya peneliti masih kesulitan menyimpulkan dari mana asal sampah-sampah yang ada di periran dekat California hingga Hawaii tersebut. Gunungan sampah ini pertama kali diketahui pelaut bernama Charles Moore pada 1997, ketika sedang berlayar menuju Hawaii. Saking massifnya, para aktivis lingkungan mengejek Perserikatan Bangsa-Bangsa sekalian saja menetapkan gundukan sampah di Pasifik sebagai negara baru.

Berkat penelitian terbaru yang disebut sebelumnya, dilakukan dengan cara pengamatan udara dan mengambil contoh sampah, akhirnya peneliti memahami dari mana sumber sampah tersebut. Sebagian besar rupanya hasil buangan industri penangkapan ikan. Mulai dari jaring, plastik, kail, dan tali pancing. Karena berlangsung berpuluh-puluh tahun, akhirnya sampah tersebut terkumpul di Samudra Pasifik. Sampah akibat industri kelautan itu mencapai 79 metrik ton, sekitar 46 persen dari total sampah di gundukan tersebut. Di luar itu, mayoritas sampah—mencapai 94 persen dari keseluruhan sampah di Pasifik—berbahan plastik.

Iklan

"Saya sudah menduga kalau sampah itu berasal dari kapal-kapal penangkap ikan, tapi saya tidak menyangka komposisinya mencapai 46 persen keseluruhan gundukan," kata Laurent Lebreton saat diwawancarai National Geographic. Lebreton adalah pakar oseanografi yang menjadi kepala penelitian ini, mewakili Yayasan Ocean Cleanup. "Mulanya kami merasa sampah buangan kapal penangkap ikan maksimal hanya mencpai 20 persen, sebab berdasarkan asumsi selama ini, kita selalu menganggap 80 persen sampah yang ada di laut adalah hasil aktivitas manusia dari daratan."

Berdasarkan dugaan lain penelitian tersebut, kemungkinan besar gundukan sampah Samudra Pasifik meningkat drastis secara volume, hingga 20 persen, pada 2011. Pada tahun tersebut, Jepang dilanda gempa dan tsunami, yang membuat banyak sampah daratan terbawa ke samudra.

Kabar buruknya, gundukan sampah ini masih akan terus membesar. Jumlah sampah yang terbawa makin banyak karena plastik-plastik tersebut ikut arus, mengelilingi tiap sudut Samudra Pasifik.

Untungnya tidak semua orang berpangku tangan. Anak muda bernama Boyan Slat berikrar untuk membersihkan gundukan sampah di samudra. Saat ini usianya baru 23 tahun, namun dia sudah menyiapkan skema kerja untuk menuntaskan persoalan sampah Pasifik. Dia menciptakan alat, kini jumlahnya 60 unit, yang disebar di tiap titik gundukan sampah pasifik. Boyan Slat, yang ikut mendirikan Ocean Cleanup, optimis dengan alat berbentuk huruf U tersebut separuh jumlah gundukan sampah pasifik bisa terangkat, untuk kemudian didaur ulang. Pembersihan sampah Pasifik ini ditargetkan Slat bisa dimulai pertengahan 2018.