Mengelola Keuangan

Jalan Berliku Bila Anak Muda Indonesia Ingin Pensiun Dini di Usia 50 Tahun

Secara teori sih bisa (walaupun rumit dan surem kalau dibayangin). Berikut beberapa tips dari perencana keuangan yang kami hubungi kalau kalian pengin bisa leha-leha sebelum jadi manula.
02 Mei 2018, 7:43am
Ilustrasi perhitungan rumit soal pensiun dini oleh Dini Lestari.
Ilustrasi perhitungan rumit soal pensiun oleh Dini Lestari.

Ada suatu masa pekerjaan menumpuk, bos pas bawel banget, hasilnya kalian stres berat. Saat momen nyebelin itu terjadi, kalian pasti tergoda mencak-mencak, tutup laptop atau mematikan komputer, lalu berikrar hengkang dari kantor buat jadi pengelana di Canggu. Dramatis ya. Tapi beberapa detik kemudian kalian teringat segala cicilan, utang kartu kredit, dan bayangan barang idaman yang tak kunjung terbeli dari dulu sampai sekarang.

I.FUCKING.NEED.MONEY! I.CAN’T.RETIRE.YOUNG!

Pikiran seperti itu rasanya kok bakal terus bergelayut, selama kita masih kerja sama orang lain alias jadi buruh! Apalagi kayaknya hampir mustahil di kondisi perekonomian macam sekarang, anak muda bisa berhenti kerja di usia muda dan hidup bebas, sambil tetap menjaga gaya hidup sampai kita mati kelak. Pensiun dini? Pengin sih, tapi emang bisa?

"Teorinya bisa saja, selama sudah mempersiapkan dana untuk menyokong hidup hingga [perkiraan usia harapan hidup] 70 tahun," kata Perencana Keuangan Prita Ghozie ketika dihubungi VICE.

Wahwahwah, gimana tuh? (Nanti dijelaskan Prita lebih detail di tulisan ini, santai bos).

Ddi Indonesia, skema pensiun dini sebenarnya memungkinkan lho. Kalau kamu Pegawai Negeri Sipil, maka ketentuannya boleh pensiun dini secara terhormat dengan permintaan sendiri, asalkan berusia minimal 45 tahun dan setidaknya sudah pernah mengabdi selama 20 tahun. Kita berhak atas fasilitas jaminan sosial pemerintah sejak mengajukan pensiun.

Sementara untuk pegawai swasta yang ingin mendapatkan fasilitas BPJS Ketenagakerjaan, baru bisa mendapatkan dana pensiun per bulan setelah menginjak usia 56 tahun. Begitu juga dana jaminan hari tua dari BPJS, yang baru bisa dibayarkan pada usia yang sama. Kalau mau lebih cepat, minimal kita sudah memenuhi masa iuran minimum 180 bulan atau sekitar 15 tahun. Nah untuk yang kurang dari 15 tahun iuran, maka tidak berhak atas uang pensiun bulanan, melainkan hanya uang akumulasi iuran ditambah hasil pengembangan iuran tersebut.

Masalahnya, kita enggak pernah tahu apakah program BJPS ini masih ada ke depannya saat kita pensiun kelak? Jangan-jangan negara ini beneran bubar pas 2030? Kan berabe.

Mempertimbangkan angka harapan hidup orang Indonesia adalah 69,07 tahun (merujuk data 2015) atau mari kita bulatkan menjadi 70 tahun, artinya generasi millenial Tanah Air cuma punya waktu "senang-senang" 14-15 tahun saja setelah pensiun. Itu belum mempertimbangkan rutinitas berobat karena asam urat, diabetes, atau bahkan operasi by-pass jantung. Jika kita memutuskan pensiun di usia 56 tahun, dengan harapan bisa memperoleh manfaat BPJS Ketenagakerjaan, kita pun masih harus memikirkan ada waktu kurang lebih 20 tahun untuk kita sokong sendiri tanpa bekerja sampai mati kelak.

Intinya, masa pensiun millenial kemungkinan akan sama dengan gaya hidup kita saat ini, hanya saja tanpa “bekerja” dan mungkin tanpa jaminan sosial—kalau tidak berhati-hati mengelola keuangan. Surem...

Hmm, lantas kalau kalian bukan PNS dan tak terlalu optimis sama BPJS, masih mungkinkah pensiun muda?

Fidelity Investment, perusahaan jasa konsultansi keuangan berbasis di Boston, Amerika Serikat, dalam situsnya mengatakan pentingnya bagi anak muda mengetahui “saving factors” alias angka minimal tabungan yang harus kita perhatiakan menuju masa pensiun.

Misalnya, kita berusia di bawah 40 tahun, maka hal paling gampang dilakukan (gampang kalau ada duitnya) adalah dengan menabung dan menginvestasikan uang kita lewat berbagai bentuk instrumen investasi berbeda-beda. Bentuknya bisa saham, obligasi, deposito, tanah, emas, dan banyak lagi. Kalau kamu ternyata berusia di atas 40 emang agak telat sih. Solusi paling memungkinkan versi Fidelity Investment adalah dengan menabung lebih banyak, mengurangi pengeluaran, dan mau enggak mau kalau mungkin bekerja lebih lama, dengan asumsi bisa memberikan pendapatan reguler di masa pensiun.

Aku lantas mencoba kalkulator pensiun dari Fidelity Investment yang hasilnya memberi gambaran berapa uang (tabungan) yang harus kita punya sebelum kita pensiun. Tentunya jumlah tabungannya merujuk pada faktor-faktor seperti: usia berapa kita sekarang, target usia pensiun kita, dan gaya hidup macam apa yang kita inginkan ketika pensiun nanti.

Pertanyaannya, gimana cara kita dapat uangnya? Ya macam-macam. Terserah yang penting halal, sob. Kalkulator ini menyodorkan batasan dasar jumlah uang yang mesti kita punya saat masa produktif. Perlu disebut juga, kebanyakan kalkulator pensiun mematok perkiraan usia kematian hingga 92 atau 93 tahun. Buat orang Indonesia, yang angka kematiannya berkisar pada usia 70 tahun, hitungan umur ala Fidelity sudah ekstra banget sih.

Taruhlah sekarang usiamu sekarang 25 tahun. Merujuk hitungan kalkulator tersebut, pilihan usia pensiun paling muda ada di angka 62 tahun. Dalam hasil yang aku dapatkan pada usia 30 tahun aku sudah harus berhasil menyimpan satu kali gaji tahunanku saat itu. Begitu pula pada usia 50 tahun, aku sudah harus berhasil menyimpan 9 kali gaji tahunan, dan pada usia 62 aku harus punya uang 14 kali gaji tahunanmu sekarang.

Mengingat peraturan kenaikan upah minimum tahunan di Indonesia pada 2017 sebesar 8,71 persen atau mari kita bulatkan menjadi 9 persen, bisa dibayangkan beratnya ketika kamu bekerja di perusahaan yang sama tanpa promosi gaji signifikan. Berapa gaji yang kamu punya dan uang yang bisa kamu kumpulkan berapa per tahunnya, coba?! Jangan lupakan inflasi yang setidaknya berpengaruh terhadap biaya hidup yang harus dikeluarkan.

Nah, mari kembali ke pemaparan Prita Ghozie. Dia bilang ada beberapa hal yang mesti diperhatikan jika anak muda ingin pensiun sebelum usia 60 tahun. Salah satu faktor terpenting adalah punya aset yang bisa memberikan bagi hasil secara berkala tiap bulan, dengan nominal setara dengan biaya hidup atau gaya hidup bulanan saat ini. Karena aku pola pikirnya agraris banget, yang kebayang adalah punya kos-kosan atau kontrakan, harga sewanya bisa menutup hidup kita sendiri tanpa mengeluarkan hal lain.

Kalau enggak kebayang bisa punya kos/kontrakan, masih ada alternatif lain kok. Misalnya merencanakan masa pensiun di kota lain yang biaya hidupnya jauh lebih murah dari biaya hidup saat ini di Jakarta, tentunya dengan gaya hidup yang lebih rendah dari gaya hidup kita sekarang.

Target untuk tetap mengelola gaya hidup kayaknya harus diperjuangkan dari sekarang. Misalnya, bagi yang biasa tinggal di Jakarta dengan beragam fasilitas yang ada, mungkin bisa pensiun dan memutuskan tinggal di kota seperti Yogyakarta atau Malang. Kota-kota tersebut punya beragam fasilitas yang ditawarkan Jakarta, dengan biaya hidup lebih murah, dan suasana yang lebih chill buat orang yang masuk usia pensiun.

Berdasarkan riset Badan Pusat Statistik, Prita menyebut Provinsi Bali atau Yogyakarta tidak termasuk dalam rata-rata kota yang biaya hidupnya termahal di Indonesia, cocok banget buat pensiun. "Jika berasumsi biaya hidup di Bali kira-kira 50 persen dari Jakarta, maka bisa diproyeksikan orang tersebut akan dapat memiliki gaya hidup yang setara dengan masa produktif," kata Prita.

Prita yang merupakan seorang perencana finansial di ZAP Finance ini sekaligus memberikan trik bagi kita untuk bisa pensiun tanpa meninggalkan utang atau menyusahkan keluarga akibat beban ekonomi. Sayangnya, kata Prita, simulasi dan strategi tersebut tidak bisa ajeg, sangat mungkin berubah tiap tahun. "Strategi yang paling baik adalah menyisihkan setidaknya 10 persen dari penghasilan bulanan untuk dana pensiun di aset investasi yang imbal hasilnya dua kali lipat nilai inflasi," ujarnya.

Lantas, buat anak muda yang saat ini gajinya baru Rp4 jutaan gimana dong? Menurut Prita mau tak mau kuncinya harus tetap berinvestasi dengan cara yang relatif sama. "Kalau gaji Rp4 juta, simulasi harus pakai biaya hidup hanya Rp3 juta maksimal. Dengan demikian investasinya juga lebih minim, dan pilihannya kelak tinggal di kota kecil di Jawa," ujarnya.

Tentu saja hitungan tersebut tidak bisa menggambarkan kehidupan kalian yang sesungguhnya. Hitungan ini memadai buat hidup kita saat single, tapi tidak mencakup momen pengeluaran lain seperti: kalau kamu ternyata mau nikah dan bikin pesta pernikahan yang instagrammable dan mewah. Belum lagi kalau memutuskan punya anak dan ingin menyekolahkannya day care atau sekolah bergengsi (atau bahkan yang ada embel-embel internasionalnya).

Pilihan makin terbatas bila kita bukan anak orang kaya, sehingga setelah kerja harus menanggung biaya hidup orang tua dan adik-adik, sekalipun kita single. Kalau begitu, mau enggak mau ya kumpulkan uang lebih banyak lagi!

Haduh, melihat kenyataan macam begini kok aku makin pesimis bisa pensiun dini sambil mempertahankan gaya hidup yang ada sekarang ya?

Intinya, mumpung masih muda, kalian wajib mengumpulkan sebanyak mungkin uang (caranya macam-macam ya, termasuk investasi, ngepet, atau gabung sekte kabur dari utang kayak Swissindo). Pendek kata, pensiun dini itu bisa, tapi harus ada yang dikorbankan.

Pilihannya antara dapat pekerjaan dengan gaji dobel bahkan triple digit lalu ditabung, ikhlas menjalani masa kerja yang lebih lama, atau upayakan gaya hidup ketika tua lebih hemat. Tentunya dengan menghabiskan usia di kota yang ongkos hidup bulanannya tidak mahal.

Jadi teringat lagunya Agnes Monica nih. Pensiun dini sama Pernikahan dini emang enggak beda jauh. Bukan pensiunnya yang terlarang, hanya waktu saja yang belum tepat....uwowowo~