Rahasia Antartika

Ilmuwan Temukan Fosil Diduga Nenek Moyang Dinosaurus, Julukannya: Raja Antartika

Antarctanax Shackletoni, alias "raja Antartika", diduga nenek moyang dinosaurus dan buaya modern yang ukurannya sebesar iguana masa kini.
1.2.19
Seniman Adrienne Stroup menggambarkan kehidupan Antarctanax shackletoni dan mamalia lain di masa prasejarah
Ilustrasi sang Raja Antartika di masa hidupnya oleh Adrienne Stroup.

Temuan baru, terbit dalam Journal of Vertebrate Paleontology, mengungkapkan keberhasilan ilmuwan melacak mahluk yang diduga kuat nenek moyang dinosaurus. Fosil mahluk yang ditemukan di Antartika itu seukuran iguana modern, usianya ditaksir mencapai 250 juta tahun.

Spesies baru ini diberi nama Antarctanax shackletoni arti harfiahnya adalah “raja Antartika”, digabung dengan nama Ernest Shackleton, penjelajah Abad 20 yang berhasil menjejalahi formasi batu di Pegunungan Transantarctic.

Ketua tim peneliti adalah Brandon Peecook yang terlibat dalam ekspedisi musim panas di Antartika pada 2010-2011 di Formasi Pegunungan Fremouw. Peecook menggarap penelitian ini bersama sejumlah ilmuwan dari University of Washington dan University of Witwatersrand di Johannesburg.

Antarctanax hidup selama periode awal Zaman Triassic. Artinya, momen ini berjarak beberapa ribu tahun setelah peristiwa kepunahan massal Zaman Permian yang membinasakan 70 persen kehidupan darat di Bumi—termasuk dinosaurus. Raja Antartika termasuk ke dalam kelompok reptil archosaurus, nenek moyang dinosaurus dan buaya modern. Archosaurus berkembang biak setelah berakhirnya Periode Permian, tetapi ahli paleontologi masih belum mengetahui alasan kenapa spesies ini bisa bertahan hidup di saat kehidupan Bumi lainnya punah.

Iklan

Saat diwawancarai Motherboard, Peecook mengaku banyak koleganya sesama ilmuwan yang percaya makhluk hidup di periode Triassic mengalami pemulihan secara bertahap. Selama ini mayoritas ahli paleontologi mengira kehidupan baru muncul perlahan dan perlahan pulih sesudah Zaman Permian. Sebaliknya menurut Peecook, temuan fosil raja Antartika menandakan kehidupan di Bumi lebih cepat pulih dari yang diperkirakan sebelumnya.

"[Antarctanax shackletoni] bukan temuan mahluk purba yang mengejutkan. Spesies ini tampak sangat normal kalau hidup pada masa itu," kata Peecook. "Meski begitu, temua kami menegaskan betapa nenek moyang dari makhluk-makhluk seperti dinosaurus dan buaya adalah bagian dari radiasi [kehidupan] yang sangat eksplosif, yang muncul tepat setelah peristiwa bersejarah yang menakutkan jelang kepunahan massal."

Tim peneliti berhasil menggali berbagai bagian fosil Antarctanax shackletoni, termasuk tulang belakang, tulang kaki, dan tulang rusuknya. Meskipun tengkorak dan giginya tidak ditemukan, mereka yakin reptil ini adalah karnivora, alias pemakan daging. "Kami cukup yakin dengan silsilahnya. Hewan ini termasuk archosaurus yang sudah pasti karnivora," kata Peecook.


Tonton dokumenter VICE menyorot para korban pengintaian sistematis lewat Internet alias 'gang stalking', yang bisa memicu masalah psikologis serius:


Sang nenek moyang Dinosaurus ini hidup pada masa Antartika masih terhubung dengan Pangea, sebuah benua super, yang mana bumi ribuan tahun lalu hanya punya satu daratan mahaluas dikelilingi air—belum terpisah jadi tujuh benua seperti sekarang. Habitat Antarctanax shackletoni di Antartika sebenarnya sangat dekat dengan Kutub Selatan.

Peecook menerangkan, walau dekat kutub, lingkungannya terasa hangat akibat efek pemanasan rumah kaca pada masa lalu. Spesies lainnya seperti konifer yang tidak mengalir, pakis, dan beberapa spesies kadal kuno juga ditemukan di Antartika. Itu berarti spesies-spesies ini hidup berdampingan dengan raja Antartika.

Iklan

"Jenis karnivora kecil banyak ditemukan di hutan [Antartika] zaman itu," kata Peecook. "Beberapa amfibi ukurannya bisa sebesar Antarctanax, dan hampir semua Amfibi adalah karnivora. Hewan-hewan kecil di sana kemungkinan memakan satu sama lain, atau makhluk yang masih muda dan serangga."

Berhubung Antartika masih terhubung dengan Pangea, artinya Formasi Fremouw berbatasan dengan daerah-daerah seperti Australia, Afrika Selatan, dan Amerika Selatan.

Peecook menyatakan bahwa Antartika adalah tempat favorit bagi para ahli paleontologi karena mereka dapat menemukan berbagai hal baru seperti raja Antartika. "Banyak yang bisa ditemukan di sana, dan menjelajahi benua Antartika rasanya sangat luar biasa,” tuturnya kepada Motherboard.

"Saya bangga bisa menjadi bagian dari kisah penemuan di Antartika, karena temuan ini masih sangat baru," kata Peecook. "Antartika adalah tempat terakhir di Bumi yang menyediakan banyak hal-hal menarik bagi para ilmuwan. Masih banyak yang belum kami ketahui dari Antartika."

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard