Luar Angkasa

Di Masa Kini, Asteroid Menabrak Bumi Dua Kali Lebih Sering Ketimbang 290 Juta Tahun Lalu

Ilmuwan menemukan indikasi pemicu lonjakan benturan benda langit ke bumi kemungkinan disebabkan gangguan sabuk asteroid. Fenomena macam ini yang dulu membikin dinosaurus punah.
23.1.19
Data LRO memantau kawah tabrakan asteroid di Bulan
Data LRO memantau kawah tabrakan asteroid di Bulan. Sumber Dr. A. Parker, Southwest Research Institute

Bumi kini diserang dua kali lebih banyak asteroid dibandingkan 290 juta tahun lalu, berdasarkan penelitian yang terbit dalam Jurnal Science.

Tim peneliti, yang diketuai pakar planet Sara Mazrouei dari Universitas Toronto, berspekulasi penyebab kenaikan tabrakan ini ini mungkin dihasilkan bentrokan purba antara objek-objek di sabuk asteroid yang terletak antara orbit Mars dan Jupiter. Kekacauan macam itu dapat menimbulkan “sentakan jangka panjang selebar satu kilometer” pada bumi. Asteroid sebesar satu kilometer ini diperkirakan cenderung menabrak bumi rata-rata setiap 600.000 tahun.

Iklan

Penemuan ini didapat berkat teknik baru yang merekonstruksi riwayat benturan bumi dengan memeriksa kawah di bulan. Untuk mengerti betapa banyaknya benturan yang dialami bumi dan bulan kita, tonton versi sonik tingkat benturan selama satu miliar tahun lalu.

Video ini, dibuat oleh SYSTEM Sounds berbasis di Toronto, menggunakan suara bel untuk menandai benturan asteroid yang meninggalkan bekas kawah berdiameter lebih dari 10 kilometer.

Batu angkasa meninggalkan bekas kawah dan meteorit di bumi dalam hitungan bereon-eon, tetapi planet kita menghapus jejak fenomena tersebut melalui aktivitas geologis seperti pergeseran lempeng dan erosi. Bekas bentrokan yang masih tersisa mengandung “bias pelestarian,” kata para peneliti. Artinya, lokasi kawah tersebut tidak mencerminkan tingkat atau situasi asli benturan asteroid pada bumi.

Bulan diperkirakan menerima tabrakan batu angkasa pada tingkat yang sama seperti bumi, tapi memberi kita catatan benturan yang lebih utuh. Bagi tim Mazrouei, trik mendapat data akurat adalah menemukan metode yang dapat diandalkan untuk memperkirakan umur kawah bulan. Dengan demikian, peneliti dapat menghitung tingkat benturan pada jangka waktu panjang, lalu menerapkannya pada bumi.

Rebecca Ghent, seorang ilmuwan planet di Universitas Toronto dan Institut Keilmuan Planet di Arizona, turut memecahkan masalah ini menggunakan radiometer thermal Diviner pada Orbiter Pengintai Lunar (LRO) dari NASA.

Iklan

Ghent meneliti 111 kawah di bulan yang berdiameter lebih dari 10 kilometer dengan LRO dan menemukan bahwa sejumlah kawah memancarkan panas lebih banyak pada malam berbulan. Ini terjadi karena batu-batuan yang berpindah tempat akibat tabrakan yang baru terjadi cenderung lebih panas dibandingkan kawah yang dihasilkan benturan lama, yang terkena erosi fluktuasi suhu dan benturan mikrometeorit.

Dengan cara ini, Diviner mempunyai metode termis untuk menentukan kawah berumur hingga satu miliar tahun, ketika pelapukan menyusahkan penentuan usia kawah.

Setelah melakukan perhitungan, Mazrouei dan rekan-rekannya menyimpulkan angka benturan melonjak sebesar 260 persen sejak periode Permian di bumi sekitar 290 juta tahun lalu.

Meski tim riset memperkirakan lonjakan ini mungkin disebabkan gangguan sabuk asteroid, kendati mereka tidak mengetahui jawaban tepatnya. Namun, dapat diasumsikan bahwa perubahan ini mempengaruhi kehidupan di bumi, mengingat besarnya kekacauan sistem biologis yang ditimbulkan benturan besar pada bumi.

Dinosaurus, misalnya, mulai berkembang pada periode Triasik 250 miliar tahun yang lalu. Sebagai hewan besar, mereka “dari awal khususnya rentan terhadap benturan berskala besar,” kata penulis bersama Thomas Gernon, seorang ilmuwan bumi di Universitas Southampton, dalam sebuah pernyataan.

"Mungkin itu memang nasib dinosaurus," lanjutnya. "Kepunahan mereka tak terhindarkan akibat lonjakan batu angkasa yang terus bertabrakan dengan bumi."

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard