Peredaran Narkoba

Gili Trawangan Tak Lagi Jadi Surga Pesta Narkoba

Penangkapan seorang WN Amerika yang diduga mengedarkan narkoba, disusul pembongkaran jaringan pengedar Lombok, membuat Gili terpopuler itu tak lagi "bebas polusi dan polisi".
9.4.19
Derawan Photo Essay VICE Indonesia Photo by Iyas Lawrence  (12 of 20)
Foto pesta di pulau oleh Iyas Lawrence/VICE Indonesia

Reputasi Gili Trawangan sedang tercoreng skandal peredaran narkoba. Satu dari tiga pulau wisata dekat Lombok ini sejak lama dikenal berkat maraknya pesta gila-gilaan—kadang melibatkan substansi psikotropika. Selain bebas polusi karena tak ada satupun kendaraan bermotor, pulau ini dulu dianggap "bebas polisi".

Belakangan, asumsi itu berubah. Polisi gencar menangkap pengedar dan pengguna narkoba di pesta macam itu.

Iklan

Pada 31 Maret lalu, seorang warga negara Amerika berusia 46 tahun dan satu warga negara Indonesia 24 tahun, ditangkap aparat di salah satu guest house. Polisi mencokok keduanya karena dituding mengedarkan sabu-sabu dan mariyuana. Mereka menemukan 1.224 gram ganja dalam berbagai jenis kemasan, serta 13 kantung methamphetamin dalam jumlah tidak disebutkan. Barang bukti masih ditambah beberapa kantong magic mushroom, dalam jumlah yang juga tidak dirinci lebih lanjut.

"Kami masih mendalami peran-peran para pelaku ini. Kami juga akan berkoordinasi dengan pihak-pihak lain mengenai kegiatan warga negara asing ini selama di sini sampai waktu dia tertangkap," kata Purnama, selaku juru bicara Polda Nusa Tenggara Barat, saat dihubungi media.

Pengejaran terhadap para terduga pengedar dan pemasok narkoba di Trawangan terus berlanjut. Seorang perempuan terduga pemasok narkoba ke Trawangan ikut dicokok awal pekan ini. Penangkapan ini didasarkan informasi jaringan pengendar yang ditangkap di daerah Sandubaya, Lombok, sehari sebelumnya.

Informan tersebut ditangkap bersama dengan 10 bungkus kecil sabu-sabu yang ditempatkan dalam sebungkus rokok. Pengawasan pasokan narkoba tersebut berawal dari informasi adanya pengiriman narkoba ke Trawangan.

Reputasi Gili Trawangan tentu bakal berubah dengan rangkaian penggerebekan tersebut. The Sydney Morning Herald sempat menyebut turis di Gili Trawangan berpeluang merasakan pesta pora yang seakan jarang terlihat dalam teritori Indonesia. Kita tentu ingat, Indonesia menerapkan hukuman berat untuk peredaran narkoba, salah satu yang paling berat bahkan di Asia.

Peneliti jaringan kriminal terorganisir dari Asia Research Center, Ian Wilson, menyatakan konsumsi obat-obatan di Gili Trawangan mulanya berkembang dari kelas pekerja setempat, sebagai stimulus menggenjot produktivitas. Tak ada stigma bagi mereka pengguna dan pengedar di Gili Trawangan, berbeda dengan daerah lain di Indonesia.

"Trawangan adalah daerah yang seakan berdiri sendiri dan tertutup, tidak ada risiko penyebaran," kata Wilson kepada The Sydney Morning Herald. "Lain halnya dengan ibu kota Jakarta, di sana banyak perlawanan karena masyarakat khawatir narkoba akan menyebar ke sekitar mereka. Trawangan adalah sebuah pulai, terisolasi, dan kebanyakan isinya turis mancanegara, sehingga narkotika bukan dianggap hal besar."

Eunike Sri Tyas Suci, peneliti soal penyalahgunaan obat dari Universitas Katolik Parahyangan mengatakan bahwa masalah obat-obatan di Trawangan sebetulnya tak jauh berbeda dengan masalah narkoba di tempat lain di Indonesia. Hal yang membedakan, biasanya tak ada polisi yang bertugas di pulau seluas 15 kilometer persegi itu.

"Ada banyak turis Australia yang memilih Gili Trawangan semata karena asumsi bahwa pulau tersebut lebih 'aman' bagi para pengguna narkoba," kata Suci kepada South China Morning Post.

Surga kecil di Gili Trawangan tak akan sama lagi di hari-hari mendatang.