Kenapa Sih Ada Orang Suka Menguntit Idola atau Gebetan? Ternyata Begini Alasannya

Satu dekade lebih penulis artikel ini jadi korban stalker. Berikut keterangan pakar psikologi yang dia kumpulkan, setelah menghadapi mimpi buruk selama ini.
6.3.19
Stalking alias tindakan menguntit bisa memicu gangguan psikologis pada korbannya
Foto ilustrasi dikuntit oleh Sinan Suglum / Getty 

Laki-laki itu awalnya baik-baik saja. Kami beberapa kali bertemu dalam perjalanan dinas kantor ke luar kota. Dia selalu mengenakan kemeja berkancing atau Polo shirt yang dipadu celana bahan. Dalam pergaulan sosial, lelaki ini terkesan cupu, kurang bisa bergaul. Tapi dia bicara dengan nada lembut. Dari luar, sekilas dia seperti lelaki yang lurus-lurus saja. Kesan serupa kutemukan dari personanya di internet.

Dari kebanyakan foto yang dia pajang di medsos, dia selalu menggunakan pakaian bisnis kasual. Kalau melihat interaksinya di internet, aku sempat mengira laki-laki ini menjalani hidup yang tenang, cenderung sepi, dan bebas drama. Sayangnya, semua kesan tadi ternyata kedok belaka. Rekan kerjaku itu jadi momok buatku selama lebih dari satu dekade. Selama kurun waktu itu, dia sering menguntit dan melecehkanku.

Rekan kerjaku itu tampil sebagai pribadi yang baik, ramah, dan pendiam. Di luar hubungan kerja, aku tak punya hubungan apa pun dengannya.

Aku tak menaruh rasa suka sedikit pun padanya. Penolakan kutunjukkan dengan tegas, setelah dirinya rela datang jauh-jauh ke rumahku tanpa pemberitahuan. Dia cuma ingin nongkrong bareng, katanya waktu itu. Alih-alih mendengarkan penolakanku dan berusaha mendekati perempuan lain, dia sepertinya terobsesi dengan fantasi kalau kami berdua bisa menjadi sepasang kekasih.


Tonton dokumenter VICE tentang tren global pengidap paranoid karena merasa diintai lewat Internet:


Kunjungan aneh lelaki itu segera kulaporkan ke atasan di kantor. Sayangnya, karena insiden terjadi di luar jam kantor dan dia tak berusaha melukai, perusahaan tempatku bekerja tak bisa mengambil tindakan hukum apapun.

Beberapa waktu kemudian, lelaki ini resign. Aku sempat merasa lega. Salah besar. Ternyata, mimpi buruk selama satu dekade kemudian baru dimulai. Hanya berjarak beberapa hari setelah berhenti bekerja, dia mengirim foto dadaku lewat email—yang dia crop dari foto diriku yang berukuran lebih besar. Dia bilang foto itu sering dia gunakan buat bahan coli. Sejak saat itu, pelecehan demi pelecehan datang silih berganti.

Pada satu titik, dia mengirim banyak email dalam sehari. Sebagian isi emailnya sangat eksplisit. Dia memohon agar aku mau jadi pacarnya. Tiap kublokir alamat emailnya, dengan mudahnya dia bikin alamat email baru dan melancarkan gangguannya lagi. Dia rajin meninggalkan komentar kurang ajar di postingan blog dan akun YouTube-ku. Pernah juga lelaki itu menjabarkan panjang lebar “fantasi menjijikkan”, berisi apa saja yang ingin dia lakukan padaku di postingan Facebook. Cara lain yang dia tempuh ialah mendekati anak-anakku.

Dia ingin mereka yakin kalau dia adalah orang yang pantas mendampingiku. Kadang laki-laki ini melancarkan cara baru. Misalnya berusaha menampilkan diri sebagai lelaki yang kubutuhkan—baik secara fisik dan mental. Dia mencari tahu semua detail tentang hubungan perceraianku di masa lalu. Dia tahu aku sayang sama anak, sekaligus benar-benar ingin meraih sukses sebagai pengusaha. Aspek-aspek inilah yang ia eksploitasi.

"[Penguntit] ingin membuatmu kesal ataupun mengintimidasimu untuk memenuhi tujuan yang mereka inginkan," ujar Brian Spitzberg, penulis Sisi Gelap Pengejaran Hubungan: Dari Ketertarikan hingga Obsesi hingga Penguntitan dan guru besar ilmu komunikasi di Universitas San Diego State, yang bidang risetnya termasuk penguntitan.

Ada kalanya penguntit saat berjubungan dengan korban, berusaha kelihatan seperti pengasuh, termasuk memberi dukungan finansial. Penguntitku membuat upaya serupa, tapi aku tidak pernah menerima tawarannya.

Itu semua, walau kelihatan positif, sebenarnya hanya ilusi. "Perilaku mereka secara patologis nyaris selalu narsistik, sebab semua tindakan itu dipengaruhi obsesi mereka," ungkap Reid Meloy, psikolog forensik dan guru besar psikiatri di Universitas California, San Diego School of Medicine.

Mengeksploitasi sifat rentan dari sasaran stalking adalah modus operandi penguntit, kata Laurence Miller, psikolog klinis dan forensik di Universitas Florida Atlantic. "Sebagian [penguntit] bahkan berniat menyabot segala aspek hidup sasaran mereka, termasuk pekerjaan, keuangannya, dan hubungan pribadinya, demi membuatnya tak berdaya dan terisolasi. Biasanya serangan ini akan meningkat seiring waktu," ucapnya.

Penguntitku pernah menawariku menyewa rumah bersama, karena ia berasumsi aku butuh bantuan finansial setelah bercerai. Dia pun merayu, hendak mengelola bisnis-bisnisku yang tak sempat kukelola serius. Dia terus-terusan menyatakan ingin menjadi ayah tiri anak-anakku. Dia juga menjamin kami berdua bisa membesarkan mereka.

Tampaknya ia ingin menjebakku dalam sebuah fantasi idealistis yang membuatku bergantung pada kehadirannya.

Awalnya aku selalu membalas panggilan telepon, pesan, dan email dari penguntit, karena marah merasa diganggu. Aku memintanya berhenti merecoki kehidupanku. Belakangan aku sadar bahwa segala bentuk interaksi—baik itu marah atau meremehkannya—justru membuatnya lebih berani. Sampai sekarang, di medsos dia mengklaim aku adalah “calon istrinya." Itu taktik yang ia gunakan selama beberapa tahun terakhir.

Orang ini bahkan sengaja mengubah penampilan fisiknya supaya bisa menyerupai tipe lelaki idamanku. Dia berasumsi aku suka laki-laki gahar setelah ngepoin postinganku medsos. Dia mulai menato tubuhnya dan mengenakan kaus, celana jins sobek dan kacamata. Cara ngomongnya pun berubah. Dia jadi sering nyebut “bro” dan “yo”, tidak seformal dulu lagi. Dia mengirimi foto dan video tanpa diminta setiap kali punya tato baru atau penampilannya berubah. Seakan-akan aku bakalan tertarik setelah melihatnya.

Meloy menyebutkan perubahan sikapnya mencerminkan karakteristik kepribadian ambang yang mungkin dimiliki si penguntit. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, gangguan kepribadian ambang (BPD) ditandai "perubahan hubungan antar pribadi, citra diri, dan emosi yang mendadak, serta sifat impulsif yang dimulai pada saat mereka mulai tumbuh dewasa dan hadir dalam berbagai konteks."

Meloy dan Miller juga menyinggung isu identifikasi, perilaku mengambil aspek-aspek tertentu dari orang lain dan mengakuinya sebagai karakteristik diri sendiri. Ini salah satu dari delapan perilaku berbahaya yang dipakai psikolog saat menilai ancaman kekerasan seorang individu.

"Pola kebiasaan bekas rekan kerjamu terdengar seperti karakter identification stalker," ujar Miller. "Orang-orang ini biasanya menyerang selebritas, lalu berpakaian dan bertingkah laku seperti artis. Mereka yakin kalau itu adalah perwujudan diri mereka sebenarnya dan bukan mengikuti gaya orang lain."

Aku berharap mendengar cerita serupa dari para korban penguntit, setelah menerbitkan tulisanku tentangnya di Majalah Harper's Bazaar. Tapi yang kuperoleh malah orang-orang yang menghubungiku dan bilang kalau aturan hukum saat ini, setidaknya di AS, belum bisa mengatasi persoalan stalker. Aku sudah melakukan segala hal—termasuk melapor ke FBI—tapi hasilnya nihil.

Aku sampai mengganti nomor ponsel dan alamat email untuk melindungi diri sendiri dan membatasi akses komunikasinya denganku. Aku memblokir seluruh akun medsosnya. Berhubung tempat tinggalnya jauh dari rumahku, aku sedikit tak khawatir dia bakalan muncul tiba-tiba. Tapi aku tetap waspada.

Dia masih saja menceritakan tentang diriku di postingan Facebook, yang sekarang menjadi platform medsos utamanya. Dia merasa memegang kendali atas hidupku. Menurut Miller, perasaan berkuasa inilah yang sebenarnya diinginkan setiap penguntit.

Meskipun jarak kami jauh, aku terus memantau aktivitasnya di Facebook menggunakan akun palsu. Aku pengin tahu apakah dia sedang bepergian atau memposting ancaman. Aku tak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku selalu dihantui rasa takut dan cemas.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic