Perdebatan Musik

EDM Itu Genre Musik Betulan Sob, Bukan Cuma Istilah Marketing Promotor Musik

Ada banyak orang yang menuding EDM tak layak disebut subgenre musik elektronik. Kami punya beberapa alasan untuk membantahnya.
8.6.18

Dulu sekali (atau tepatnya tiga tahun lalu sih), sebagian penggemar musik elektronik pernah gemar sekali memproduksi nama-nama subgenre baru. Golongan tukang ngasih nama inilah yang bertanggung jawab atas istilah-istilah nyentrik seperti "dark ambient", "italo disco", atau "gabber." Padahal orang tua mereka—andai cukup melek musik—menyebut semua genre itu “techno.” Kini, musik elektronik mencapai tingkat popularitas yang sebelumnya tak terbayangkan setelah kedatangan EDM, sebuah subgenre elektronik yang ramai digunakan oleh bermacam brand besar, publisis dan siapapun yang sok-sok pengin ngomongin musik dengan intelek.

Sudah barang tentu, penggemar musik elektronik sejati cuma bisa mengelus dada saja menyaksikan kemunculan (subgenre) EDM. Dari awal saja, EDM itu sudah konyol. Ini adalah nama genre paling konyol setelah Donk. Kita jadi bertanya-tanya kenapa pencipta nama subgenre ini tak memilih nama yang lebih enggak segamblang itu?

Kenapa enggak milih nama genre yang bisa disingkat jadi STD, biar kesannya agak misterius gitu? Masalahnya adalah kita sekarang harus puas dengan nama itu. Lagipula, EDM sudah sedemikian besar hingga sudah tak lagi jadi taktik pemasaran semata. EDM sudah jadi genre betulan, malah bagi sebagian orang jadi jalan hidup, lengkap dengan tarik budaya mainstream dan segala macam kesalahkaprahannya.

Iklan

Tak percaya kalau EDM sudah resmi jadi genre? kami urutkan bukti-buktinya di bawah ini. Selamat membaca!

ORANG TUAMU BENCI EDM

Jazz pernah dianggap “musik setan” yang dekaden dan rendahan selama dekade 1920'an. Tiga puluh tahun kemudian, giliran rock 'n' roll yang dituding jadi musik setan. Rap—yang sekarang konon sudah menggeser popularitas Rock—pernah disangka musik setan di awal kelahirannya di dekade ‘80an lantaran konon mempopulerkan heroin dan menyebabkan kehamilan di kalangan anak muda. Hari-hari ini, EDM adalah musik yang paling gampang dibenci generasi yang lebih tua. Pasalnya, panggung-panggung EDM biasanya digelar di arena berbentuk gudang besar.

Muda-mudi yang hampir OD saat party juga bukan pemandangan aneh dalam acara-acara musik EDM. Tenang, ini tak seharusnya jadi alasan kamu berhenti menggeber track-track Tiesto jam 3 pagi. Ujung-ujungnya, generasi yang lebih tua dari kita—termasuk orang tua kita jika mereka masih peduli musik—akan penasaran apa itu EDM dan akhirnya bertanya apakah Skrillex itu keren. Siklus macam ini sudah berulang berkali-kali, mungkin sejak jazz dianggap musik setan…

EDM MENARIK BUAT REMAJA TANGGUNG

Inilah asal muasal segala macam uang yang mengalir di kancah EDM. Cobalah sekali-kali kamu datang ke pesta rave masa kini, dalam hitungan detik kamu akan menemukan banyak ABG tanggung berkeliaran. Bila kalian berpikir mereka cuma datang kayak hipster yang sok-sok ngerti musik, kamu bakal kecele. Anak-anak berumur 14 tahunan ini benar-benar ngerti musik (ya setidaknya EDM) dan berdandan bak penikmat EDM yang lebih, katakanlah, dewasa. Saya sering bertanya-tanya di mana orang tua mereka.

Terlepas mereka datang didampingi oleh orang tua mereka atau tidak, inilah ada indikator yang menunjukkan bahwa EDM sudah tak lagi didominasi snob musik di rentang umur 18-26 tahun. Saat ini, EDM masih jauh dari puncak popularitasnya, kendati demikian, subgenre musik elektronik satu ini sudah menarik perhatian generasi di bawah kita. Jadi, silakan bayangkan, dalam beberapa waktu ke depan, kotak makanan anak SD mungkin akan bergambar foto David Guetta dan acara perpisahan SD akan terlihat seperti Ini.

EDM KONSISTEN MENGOBRAK-ABRIK TANGGA LAGU POPULER

Beberapa tahun belakangan, kalian enggak kaget lagi ketika puncak Billboard Top 200 dikuasai track-nya Skrillex, David Guetta, Deadmau5, Swedish House Mafia. Bahkan iTunes top 100 juga mencakup track dari Swedish House Mafia dan Alex Clare. Nama-nama besar di kancah musik elektronik kini mulai menginvasi musik mainstream dan penggemar musik mainstream meminta musik mereka diberi sebutan. Saat ini, track-track tersebut dengan ditag dengan sebutan Dance/Club Play, yang jauh lebih nerd dari EDM.

MUSIK POP DAN EDM SEBETULNYA MASIH SAUDARAAN

Sampai kapanpun, batasan antara musik pop dan EDM akan selalu ada. Akan tetapi, kita tak bisa menutup fakta bahwa musik pop belakangan makin terdengar mirip musik EDM. Artis mainstream seperti Taylor Swift dan Justin Bieber mulai menyewa produser EDM biar musik mereka kedengaran punya sentuhan EDM kekinian.

Sebaliknya, sejumlah artis EDM (baca: David Guetta and Calvin Harris) malah sudah sepenuhnya menyebrang ke musik pop dan jadi produser lagu-lagu hit bersama artis Rihanna, Will.i.am, dan Nicki Minaj (FYI: kalau David Guetta mau selamanya jadi musisi pop, seluruh penggemar musik elektronik betulan akan ikhlas malah gembira. Sumpah!)

EDM ADALAH PERWUJUDAN SEJATI KONSEP 'PEACE, LOVE, UNITY AND RESPECT'

EDM tak jauh dari live show, kultur obat-obatan dan pilihan fesyen tertentu. Artinya, EDM lagi cuma sebentuk musik, tapi sebuah pengalaman yang menyeluruh. Tak ada yang menandingi rasanya dibikin nangis bersama lima orang pegiat party yang baru kamu kenal di konser Armin Van Buuren pertamamu atau berbagi bir dengan orang asing di sebelahmu sembari menunggu Rusko beraksi di atas deck. EDM pada dasarnya memang tentang empat kata berikut: Peace, Love, Unity, Respect.


Tonton dokumenter VICE mengenai sosok penyanyi tradisional Suriah yang menggemparkan kancah EDM global:


EDM BISA MENYESUAIKAN KONSEP GENRENYA SESUAI SELERA PENDENGAR

Dengan fondasi yang dibangun dari banyak sub-genre—sebagiannya masih misterius, EDM akan tetap ada sampai beberapa tahun ke depan. Bahkan, kalau dubstep sudah bikin orang bosan dengan sound-soundnya yang patah-patah dan drop-drop yang kebaca banget, EDM masih punya trance, segala macam house, drum & bass, garage, techno, minimal techno, disco, dan banyak lagi Plus, genre baru terus diciptakan. Kami bahkan berani bertaruh jika dalam waktu dekat akan muncul sub-genre EDM yang menggabungkan vokal bluegrass dan beat-beat cosmic disco.


Follow Olyvia di Twitter lewat akun @thethreewise

Artikel ini pertama kali tayang di THUMP