Polemik Musik

Kayaknya Inilah Penyebab Musik Rock Masa Sekarang Stagnan

Apakah ide yang orisinal akan pernah muncul lagi dari musik rock? Jawabannya tidak, tapi ini bukan juga hal yang buruk.
2.8.18

Bla bla bla. Musik rock sudah mati. Mungkin gagasan seperti ini sudah sering kalian dengar. Dan mungkin masih cukup banyak musik rock bagus dalam lima tahun terakhir yang bisa kalian gunakan sebagai referensi untuk membantah argumen ini. Mulai dari Sinestesianya Efek Rumah Kaca yang menunjukkan sisi berani band untuk bermain-main dengan aransemen dan durasi lagu yang panjang, darah baru indie yang melahirkan Barefood, Heals dan band-band kontemporer semacamnya, ataupun raksasa seperti Seringai atau The Sigit yang masih konsisten.

Rasanya kok kelewat naif kalau mengatakan tidak ada teritori baru dalam musik rock. Masih ada band-band macam Battles, Liars, atau Zoo yang mencoba memasukkan elemen-elemen baru dan tentunya kehadiran mereka tidak bisa dipandang remeh. Tapi publik secara luas memang sepertinya memilih musik-musik rock yang sudah familiar di kuping, jauh sebelum band-band rock baru yang mendominasi festival-festival musik terbentuk, dan ini jugalah yang membuat band-band tersebut meraup kesuksesan.

Musik rock kini berada di tempat aneh di mana waktu serasa berhenti. Masa depan sama sekali tidak terlihat. Band-band tinggal memilih mau mengambil inspirasi musik rock dari era mana, dan mencoba yang terbaik untuk menampilkan ulang interpretasi mereka. Dan saya sama sekali tidak mengejek, wong saya juga suka lagu-lagunya. Kita semua menyukai musik rock ‘n’ roll tradisional yang kencang dan ‘nakal’ dan ini tampaknya belum akan berubah dalam waktu dekat.


Tonton dokumenter VICE untuk mengenal lebih dekat Mukarakat, Kelompok Penerbang Roket, atau Ramengvrl yang kini mendominasi kancah musik lokal:


Musik rock ‘n’ roll bukanlah sekedar musik. Seorang manusia berada di atas panggung memegang gitar adalah simbol yang sangat kuat. Ini simbol yang sudah tua dan termakan waktu, dan dimurnikan dengan penuh rasa hormat.

Kita semua ingin para tokoh-tokoh ikon ini membawa kita ke dunia lain. Seseorang yang memainkan musik berdiri di depan laptop tidak akan menghadapi ekspektasi sosial yang sama dengan seseorang yang memegang gitar. Musik rock, akibat sejarahnya sebagai musik terpenting dan paling dominan dalam enam puluh tahun terakhir, kini justru terasa agak terbatas.

Iklan

Tidak ada lagi hal baru yang bisa dilakukan dengan gitar yang belum pernah dicoba orang lain. Musisi macam Yngwie Malmsteen atau bahkan Tom Morello sempat membawa permainan gitar ke ranah yang baru, tapi jenius macam mereka tidak bermunculan setiap hari. Lagian, begitu secara mental kamu menyadari bahwa musik tidak harus dibuat berdasarkan satu instrumen, atau bahkan instrumen apapun (lihat saja acapella tuh), kemampuanmu untuk menciptakan karya seni justru berevolusi. Jika demikian, lantas sebagai genre yang sudah reduktif, apa yang rock bisa lakukan?

Mungkin tidak ada jawabannya, tapi ini juga bukan berarti sesuatu yang buruk. Fetisisasi album-album lawas memang telah menciptakan banyak musik yang berkesan di era modern, tapi ini jugalah yang membuat rock ‘n’ roll terasa sudah mencapai bab akhirnya. Sama seperti blues, atau polka. Band-band masa kini menghadirkan kreativitas kesejarahan, dan bukan perkembangan maju yang sebetulnya kita dambakan. Tapi mungkin ini pantas-pantas saja. Gagasan bahwa musik rock sudah selesai dan hanya bisa dibangkitkan kembali (revival) mungkin menjadi akhir cerita yang baik.

Orang akan selalu peduli dengan musik rock ‘n’ roll, mengingat genre ini diawetkan dengan baik. Apabila kita sudah tidak mendambakan ide-ide baru dalam rock musik karena banyak sekali inovasi dari genre-genre lain, rasanya sah-sah saja. Masa depan hanya akan datang kalau kita siap merayakan apa yang akan datang nantinya di ranah kebudayaan. Sayangnya, untuk saat ini, masih sulit membayangkan kesiapan mental macam itu bakal terjadi.


Luke Winkie bisa diajak debat soal musik. Follow dia di @luke_winkie

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey