Dalam episode pertama Mindhunter, serial teranyar di Netflix, seorang agen FBI dalam sebuah pelatihan mengamati kadet-kadet baru FBI menghabiskan waktu berlatih menembak ketimbang mengakrabi behavioural psychology. Sang agen tahu alasannya: buat apa repot-repot belajar behavioural psychology kalau kita tinggal dor pelakunya pakai peluru?
Pertanyaan gelap inilah yang coba disuguhkan oleh David Fincher dalam karya keduanya untuk Netflix setelah House of Cards. Akhir-akhir ini sutradara kugiran itu memang lebih sering sibuk bikin serial TV. Namun, Mindhunter sangat mirip dengan film-film gelap buatan Fincher, terutama Zodiac dan Se7en. Sineas berusia 55 tahun memang jago menyelami sisi gelap manusia. Dia kerap kali menggambarkan bagaimana seorang karakter berhati emas perlahan berubah setelah bertemu sosok-sosok karakter kelam.
Dan sosok-sosok karakter jahat itu seringkali adalah pembunuh berantai. Dalam Mindhunter, pola sama terulang. Tokoh-tokoh protagonis dalam serial ini merupakan pembunuh berantai atau lebih tepatnya “sequence killers” karena Mindhunter bersetting di tahun 1979. Saat itu, istilah pembunuh berantai belum digunakan. Serial sepanjang 10 episode ini diangkat dari buku berjudul Mind Hunter: Inside the FBI’s Elite Serial Killer Crime Unit karya Mark Olshaker dan John E. Douglas. Douglas adalah pionir penggunaan metode penyusunan profil psikologis para pembunuh berantai yang digunakan para polisi untuk memperkirakan langkah selanjutnya yang bakal diambil si pembunuh. Mereka juga bertugas mengerucutkan daftar tersangka. Adaptasi buku tersebut dikerjakan oleh penulis skenario Penhall ( The Road) dan Jennifer Haley ( The Nether), yang menggabungkan beberapa tokoh penting dalam buku itu dalam tiga karakter utama Mindhunter: dua agen FBI (diperankan oleh Jonathan Groff dan Holt McCallany) dan seorang psikolog (Anna Torv).
Pada 1979, Amerika Serikat masih terguncang lantaran kasus Watergate dan pembunuhan Presiden Kennedy. David “Son of Sam” Berkowitz baru saja dikerangkeng karena membantai enam orang di New York City. Berkowitz semata-mata membunuh karena perintah anjing peliharaannya. Charles Manson pun belum lama mendekam di dalam penhara dan sementara sisa-sisa summer of love mulai tercerai berai. Di saat yang sama, FBI sedang kewalahan mengejar sekelompok pembunuh yang beraksi tanpa motif yang jelas—sebuah kondisi yang jelas-jelas menyeramkan. Mengutip apa yang dikatakan oleh pakar dalam kasus Berkowitz. “Kami waktu itu menatap kekosongan.” Dunia tengah berubah dan elit penegak hukum tengah kelimpungan. Negeri Paman Sam sedang dibikin gila.
Videos by VICE

Nah, Mindhunter berkisah tentang proses penemuan solusi masalah yang pelik ini. Fokus cerita serial ini berporos pada unit behavioural science yang kekurangan staf. Tugas unit kecil ini adalah mewawancarai pembunuh bayaran dan menerapkan pengetahuan yang mereka dapat dari kasus-kasus yang tengah berjaan. Kita jelas tahu empati bisa menyelamatkan banyak nyawa. Sayang, dulu di dekade 70=an. FBI menilai mengandalkan empati adalah usaha yang buang-buang waktu.
Mindhunter adalah serial tentang orang-orang obsesif di dalam korps penegak hukum. Kisahnya sendiri sudah Fincher banget lantaran kita tahu Fincher sendiri sangat tergila-gila pembunuh berantai di sepanjang karirnya. Se7en, misalya, menggambarkan dua polisi yang moralnya perlahan terkikis saat mengejar seorang pembunuh berantai sadis. Fight Club menyigi pengebirian diri di tengah budaya kapitalis 90-an dan meminjam lagu The Pixies untuk bertanya “Where is my mind?” serta Gone Girl mengungkap sisi gelap kehidupan warga kulit putih Amerika Serikat beserta segala privilese yang mereka nikmati dan pemahaman ngaco mereka akan pranata pernikahan. Lalu, tentu saja, ada proyek paling ambisius Fincher, Zodiac, sebuah film panjang tentang perburuan pembunuh berantai paling berbahaya dalam sejarah kriminalitas di Amerika Serikat. Sampai, kasus pembunuhan itu tak kunjung terpecahkan.
Layaknya serial bergenre police procedural, Mindhunter menampilan sepasang agen dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. McCallany adalah tipe agen tough guy yang terperangkap di antara tuntutan pengusutan kasus baru dan konsep polisi kelas menengah yang ideal. Rekannya, Geoff adalah agen kaku yang menghabiskan waktunya antara mengajar di kelas dan mewawancarai para pembunuh. Dalam satu adegan di episode perdana serial ini, kedua tokoh ini digambarkan berdebat tentang faedah dari kerja-kerja yang mereka lakukan. Bisa dibilang, paduan dua tokoh ini adalah kombinasi pas dari realisme dan idealisme.
Adegan-adegan paling mendebarkan dalam Mindhunter adalah ketika keduanya bertemu dengan para pembunuh. Awalnya, oleh FBI, pembunuh-pembunuh dipandang sebagai manusia liar yang susah dipahami. Nyatanya, mereka malah sangat artikulatif lagi manipulatif. Salah satu pembunuh yang ditemui dua agen ini adalah Edmund Kemper (Cameron Britton), seorang pembunuh yang namanya kesohor lantaran selalu membuntungi korbannya lalu menyetubuhi mayatnya. Burke bukan tokoh rekaan. Silakan google sendiri (tapi kalau gampang mimpi buruk sih sebaiknya jangan). Awalnya, Burke berperilaku layaknya seorang raksasa baik hati. Namun, seiring berjalannya waktu, dua sosok utama dalam serial utama ini sadar kalau mereka sedang dipermainkan oleh seorang pembunuh yang jauh lebih pintar dari yang mereka duga.
Kisah dalam Mindhunter terjadi dalam dunia yang didominasi laki-laki. Ini bisa dimaklumi karena konteks historisnya memang seperti itu. Selain itu, Fincher sengaja membuatnya demikian agar dia bisa dengan gamblang menuturkan dorongan macam apa yang membuat para lelaki yang hidup tanpa kesusahan malah jadi pembunuh sinting. Pencarian jawab dalam episode-episode Mindhunter seringkali berakhir pada kisah-kisah menyeramkan tentang trauma masa kecil, siksaan dan aib seksual. Fincher seakan menegaskan bahwa maskulinitas kolot dan represi seksual adalah faktor yang menghancurkan jiwa para pria ini di ujung dekade 70-an.
Gelapnya tema dalam serial ini diimbangi dengan pencahayaan yang juga muram. Pasangan saya bahkan sampai meminta saya menaikkan brightness ketika menonton Mindhunter. Rupanya Fincher sedang menegaskan julukannya sebagai Prince of Darkness. Seperti layaknya dalam film-film garapan Fincher lainnya, arahan yang diberikan sineas ini sangat jelas dan rapi. Alhasil, kamera bergerak dengan penuh perhitungan mencapai titik, dengan ketepatan sampai ke ukuran micro-milimeter. Set Mindhunter minimalis dan jauh dari kesan lebay dalam mengingatkan cerita-cerita di dalamnya terjadi di dekade 70an. Lantas, sinematografi serial ini ditukangi oleh Erik Messerschmidt and Christopher Probst, mengingatkan kita pada gambar-gambar bernada sepia karya Harris Savides di Zodiac. Ciri khas Fincher kentara dalam setiap frame Mindhunter.
Kalian yang beruntung bisa berlangganan Netflix akan dimanjakan oleh Mindhunter. Guna bisa sepenuhnya menikmati serial ini, singkirkan jauh-jauh prasangka kalau Fincher meninggalkan layar perak demi menggeruk uang di televisi. Prasangka itu salah besar. Mindhunter sangat pantas disandingkan dengan Zodiac, dan berdasarkan impresi yang saya dapat dari episode awal serial ini, saya bisa simpulkan bahwa ini adalah serial wajib bagi pemuja Fincher dan mereka yang tergila-gila serial yang diangkat dari kasus kriminal betulan.
Tetap saja, saya masih susah membayangkan closure macam apa yang ditawarkan Fincher lewat serial ini. Memang, jawaban atas kepenasaranan ini tak akan muncul dalam waktu dekat (season kedua serial ini sudah disetujui Netflix. Yang jelas, sejarah mencatat FBI akhirnya bisa menyempurnakan teknik profiling pembunuh bayaran mereka. Meski demikian, kita toh masih saja gelagapan memahami kekejian yang dilakukan manusia. Apalagi jika kita melihat berita-berita tentang penembakan massal di Amerika Serikat, harus diakui bahwa tema dalam Mindhunter masih sangat kekinian.
Di akhir episode dua Mindhunter, tembang legendaris dari Talking Heads, “Psycho Killer” mengalun. Dalam lagu itu, David Byrne bernyanyi “Psycho killer, qu’est-ce que c’est” yang secara harfiah berarti “Pembunuh sinting, apa sih itu sebenarnya?” Layaknya David Byrne, kita juga masih susah memahami perilaku pembunuh berantai.
Huft!
‘Mindhunter’ mulai tayang di Netflix mulai 13 Oktober.
Colek Cameron di Twitter