Daniel Mitchell menemukan sisi magis dari Indonesia yang membuatnya rela meninggalkan posisi menterengnya sebagai co-founder LN-CC, butik fashion di London Timur dan hijrah ke pulau dewata beberapa tahun lalu—dia rela menukar kehidupan urban ala London dengan hamparan sawah dan pohon palem. Sebagian alasannya kepindahannya masih terkait dengan keluarga—istri Daniel adalah seorang perempuan Indonesia. Tetap saja kekagumannya akan apa yang terus ditawarkan Indonesialah yang membuatnya betah tinggal di sini.
“Di sini, di Bali, budaya masyarakat aslinya bikin saya terperangah,” ujarnya pada VICE Indonesia. “Seni tari, trance serta energi spiritual yang ada di bisa dipandang sebelah mata dan luar biasa. Indonesia sebuah tempat yang magis lagi misterius. Enggak ada tempat lain yang punya energi macam ini di mana pun di dunia. Bagi saya, ini luar biasa.”
Videos by VICE
Mitchell kini menjabat sebagai creative director di Potato Head Family, perusahan kreatif yang bertanggung jawab di balik Three Buns Jakarta, Katamana Hotel di Bali dan Potato Head Fold di Singapura. Mo Morris dari VICE Indonesia ngobrol dengan Mitchell tentang kehidupan di Bali, cara yang ditempuh guna menyelamatkan budaya Indoensia, dan mendobrak batasan lewat label rekaman milik Mitchell Island of the Gods.
VICE: Kamu sudah lumayan lama mengelola Sun Down Circle di Potato Head Beach Club. Apa sih inspirasi event bulanan ini?
Daniel Mitchell: Ya, tak lama setelah aku pindah ke Bali, aku mulai bekerja sebagai creative director di Potato Head Family. Aku beruntung banget bisa ketemu Ronald Akili, pendiri dan CEO Potato Head Family. Dia orangnya yang inspiratif dan memberikan aku kebebasan penuh untuk menggagas proyek-proyek kebudayaan——salah satunya dalah Sun Down Circle (SDC).
Bali sudah banyak berubah sekarang. Beberapa tahun lalu, mendapatkan musik yang berkelas adalah sebuah tandangan tersendiri. Apalagi kalau kita ngomong tentang dance musik atau sejenisnya, kamu hampir tak bisa menemukannya di tempat lain kecuali di Potato Head.
Lewat gelaran SDC, kami pernah memanggungkan legenda Jazz Roy Ayers, ensemble gamelan lokal, ensembel Mezcal bersama Thomas Bulloc dan anak-anak asli Denpasar, DJ legendaris Harvey dan lainnya. Ada banyak party keren sih yang pernah kami gelar, kalau diingat-ingat lagi.
Aku dengar kabar kalau kamu sedang punya proyek dengan DJ Harvey. Aku kebeulan kenal baik dengan dia. Harvey kan punya tabiat yang mengasikkan untuk diajak kerja bareng. Bisa cerita lebih jauh tentang proyek kalian?
Kami memang sedang kerja bareng dengan DJ Harvey, tapi detailnya nanti kita umumkan. Mengasikkan sekali bisa kerja bareng dengan DJ Harvey. Dia telah menjadi inspirasi satu generasi DJ dan salah satu sosok terakhir yang masih menjadi simbol spirit kultur klab awal. Ketika Tom, Dick dan Harvey masih aktif nge-DJ, Harvey tampil sebaai sosok yang memiliki kepribadian orisinal dan ekspresi otektik. DJ Harvey adalah satu dari sedikit orang yang bisa membawamu dalam petulangan musik yang sangat menyenangkan.

Menurutmu, musik masih punya pengaruh di ranah budaya dan politik enggak sih? John Lennon pada masanya bisa menciptakan sebuah gerakan yang melampui musik? Apakah ini bakal terulang di zaman kita? Atau kita harus puas dengan epigon-epigon Ed Sheeran yang muncul tanpa henti? Musik bakal selalu punya pengaruh yang signifikan dalam kebudayaan karena musik adalah bahasa universal yang menghubungkan manusia dengan berbagai pengkondisian sosial yang mereka hadapi. Musik bakal selalu menghubungkan dan menyatukan manusia saban kali hal itu perlu dilaukan. Alam semesta ini sebenarnya adalah sebuah vibrasi raksasa. Musik adalah hubungan terdalam yang bisa membantu kita memahami apa yang terjadi di luar sana. Kalau ada waktu, pelajari cymatics. Kam akan menemukan hal-hal mencengangkan seperti konektivitas vibrasi dan apa efeknya pada manusia. Pendek kata, musik masih punya kekuatan.
Menurutku sih, di tiap generasi, bakal ada penggubah musik yang akan menginspirasi gerakan tertentu dan mengingatkan pendengarnya inti kehidupan sesungguhnya: Cinta, alih-alih perang, kemurahan hati alih-alih keserahakan, serta kreativitas bukannya perusahakan. Tiap kali semesta membutuhkan seorang komposer yang hebat, dia bakal memunculkan Lennon-Lennon lain yang bakal mencoba mengembalikan keseimbangan sama. Jadi, bukan kebetulan doang kalau alam semesta dan Tuhan menciptkan karakter-karakter pilihan yang bisa mendahului masanya dan menyatukan umat manusia.
Bagaimana pendapatmu tentang promosi mandiri butut event dance music di media sosial? Sisi misteriusnya sepertinya udah hilang entah kemana bertahun-tahun lalu. Apakah ini karena ketakutan khas zaman modern atau semacam tren generasi saat ini belaka?
Kalau menurutku sih, semangat zaman saat ini memang seperti iti. Masing-masing dari kita adalah marketing director diri kita. Yang penting, media sosial sudah membantu anak-anak zaman sekarang mempromosikan diri sendiri tanpa harus bergantung pada label rekaman old-school yang cuma ingin mencari uang doang.
Lagipula, sisi misterius dance music juga belum hilang. Sebaliknya, di beberapa sisi dance music malah makin misterius, aku masih sering menemukan komposisi keren yang tak diumbar di media sosial. Artis-artis ini membuat semacam komunitas mini tempat mereka menciptakan komposisi di level berbeda, berbagi pengetahuan, ide dan konsep yang benar-benar berbeda dari yang sebelumnya ada.
Lagipula, apa sih kerennya melakukan promosi di Instagram dan Facebook kalau nenek dan buyut kita juga mainan media sosial yang sama—harus diakui, begitulah kondisi media sosial saat ini.
Label rekaman Island of the Gods milik Dennis Mitchell bakal manggung di launching party VICE Indonesia di Potato Head Beach Club yang digelar pada tanggal 1 Juli, bersama DJ Harvey, Zatua, dab Dea. party akan kembali digelar hari Minggu, 2 Juli dengan penampilan Trevor Jackson, Senyawa, Pleasure, dan Seabass.
More
From VICE
-

Photo by Matt Winkelmeyer/Getty Images for Coachella -

Paris, Texas, by Wim Wenders. One of the finest movies in creation. -

Photo by Mick Hutson/Redferns -

Camp Snap Sleeping Bag Carrying Case – Credit: Camp Snap