Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.
Saat membahas game Sega Genesis yang dulu saya mainkan di masa kecil, judul-judul klasik berikut muncul di kepala: NBA Jam, Mortal Kombat, ToeJam and Earl. Oh, jangan juga lupakan Awesome Possum Kicks Dr. Machino’s Butt.
Videos by VICE
Awesome Possum sebetulnya game yang buruk. Frameratenya rendah, karakter utamanya nyebelin dan kontrolnya susah. Tapi game ini mungkin salah satu game yang paling pro-lingkungan di sepanjang sejarah konsol apapun. Di game ini, anda mengumpulkan kaleng yang bisa didaur dulang dan koran, bukannya cincin emas (Awesome Possum itu versi KWnya Sonic). Anda juga bertugas membunuh robot yang “berusaha menghancurkan alam sekitar,” dan memerangi pemanasan global di Arktik.

Tampilan pembuka Awesome Possum. Sumber gambar: Tengen
Belakangan, saya kepikiran game ini karena pemerintahan Amerika Serikat baru saja diambil alih oleh tim administrasi baru (Donald Trump) yang menolak gagasan bahwa manusia harus mengorbankan beberapa aspek ekonomi untuk bisa melawan pemanasan global. Tentu saja, tidak seperti Awesome Possum, di dunia nyata perusakan lingkungan bukanlah tujuan dari umat manusia, tapi lebih seperti efek samping dari industrialisasi yang makin mengglobal. Namun tetap saja, game buruk yang dirilis tahun 1993 ini menjadi sangat relevan di era modern.
“Menurut saya ada banyak pelajaran yang kita bisa petik dari video game-video game tua”
Ketika tengah bernostalgia, saya sadar bahwa Awesome Possum bukanlah satu-satunya game Sega Genesis yang ‘sadar lingkungan’. Ada banyak video game Sega Genesis lainnya yang juga berfokus di isu polusi, menjaga lingkungan dan menyelamatkan binatang.
“Kami sadar dengan keputusan yang kami buat,” jelas Tom Kalinske, CEO Sega Amerika Serikat yang menjabat di 1990-1996 ke saya. “Saya membiarkan tim pengembangan game melakukan apa yang mereka suka, apa yang menjadi gairah mereka. Banyak orang-orang yang terlibat dalam game-game ini adalah pembela lingkungan. “

Apabila anda menjawab dengan benar, binatang di layar gembira. Kalau salah, mereka akan marah. Jawabannya itu B. Sumber gambar: Tengen.
Di game Sonic 2, tokoh utama Sonic si landak harus ngebut melewati Pabrik Kimia. Dia jelas tidak mau berlama-lama berada di bawah pengaruh kimia pabrik tersebut. Di game yang sama, dia juga harus melawan binatang-binatang mekanik yang menyemburkan lumpur beracun di “Oil Ocean Zone.” Game ini berakhir dengan Super Sonic terbang bersama bayi burung elang yang baru saja dia selamatkan dari tangan Dr. Robotnik yang jahat.
Apabila anda sempat memainkan Vectorman, tentunya anda ingat karakter “Orbots” yang bertugas membersihkan planet Bumi dari kekacauan yang ditimbulkan manusia. Di awal game tersebut, tertampilkan “Ini tahun 2049 dan seluruh kota, hutan dan lapisan es planet Bumi rusak gara-gara limbah kimia.” Vectorman harus bertualang melewati puing-puing kota manusia untuk membuat lingkungan kembali aman ditinggali umat manusia.
Jangan lupakan juga Growl, game yang menceritakan petualangan pembela lingkungan yang bertugas menghajar calon pemburu gajah. Di akhir game ini, anda harus berhadapan dengan cacing jahat yang ternyata mengontrol para pemburu-pemburu ini (entahlah, bukan gue yang buat gamenya). Setelah si cacing dienyahkan, adegan ini muncul:

Akhir game Growl, setelah semua binatang diselamatkan. Image: Sega
Ecco the Dolphin bahkan membawa isu lingkungan ke tingkat yang lebih tinggi. Game ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kehidupan laut dan ekosistemnya. Ketika masih kecil, saya tidak pernah menganggap Ecco sebagai sebuah “game”, tapi sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi laut dan terbang keluar sebagai seekor ikan lumba-lumba yang sangat cerdas. Kini setelah dewasa, saya sadar ada makna yang lebih dalam—kesempatan untuk mengeksplorasi laut dan nongkrong dengan binatang laut lainnya yang telah membangun komunitas bawah laut yang kerap diancam oleh kehadiran makhluk asing. Untuk mengalahkan mereka, Ecco menggunakan mesin waktu bawah laut, perpustakaan yang telah tenggelam dan komune yang memiliki bola kristal mistik. Soundtracknya juga keren banget. Sayangnya versi sekuel game ini, Ecco the Dolphin: Defender of the Future yang keluar di Dreamcast punya jalan cerita yang ngawur: awalnya manusia dan lumba-lumba tinggal bersampingan dengan damai, namun kemudian manusia memperbudak lumba-lumba dan menghancurkan Bumi.

Ecco yang sangat cerdas berkomunikasi menggunakan ekolokasi. Sumber Gambar: Sega
Game-game ini mungkin terdengar subversif sekarang. Tapi di saat itu, Sega tengah berusaha mengikuti gerakan bela lingkungan yang sedang populer. Sebuah polling yang dilakukan Gallup di tahun 1990 membeberkan bahwa 76 persen warga AS menganggap diri mereka “pembela lingkungan.” Di tahun yang sama, 350.000 orang memperingati Hari Bumi di Washington DC. Total 20 juta warga Amerika turun ke jalan. Di tahun 1992, KTT Bumi Rio de Janeiro membuat keputusan yang melindungan lingkungan dan iklim: 116 kepala negara menghadiri konferensi tersebut dan menghasilkan aturan-aturan seputar deforestasi, perlindungan keanekaragaman hayati dan pencegahan perubahan iklim ekstrem.

Sega memisahkan dirinya dari Nintedo yang sudah memegang pasar game konsol sebelum Genesis muncul dengan cara mendorong para pengembang game untuk mengaplikasikan gairah mereka dalam video game, terutama yang ada hubungannya dengan kultur pop. Ketika Nintendo puas menelorkan game-game dalam settingan dunia fantasi penuh warna, Sega menjelajahi demografi baru dalam industri gaming: dewasa, penggemar olahraga, dan pembela lingkungan.
“Sega sengaja berusaha masuk ke semangat zaman itu—mengambil dari Nickelodeon dan MTV dan semangat yang sedang marak di AS,” ungkap Blake Harris, penulis Console Wars, buku seputar sejarah persaingan Genesis dengan SNES ke saya. Ini semua terjadi ketika Captain Planet adalah salah satu acara TV paling populer saat itu. Sega juga memperkerjakan semua pengembang video game yang dianggap Nintendo terlalu ‘aneh’. “Apabila anda pengembang video game industri, anda akan lari ke Nintendo yang menguasai platform game saat itu. Tapi apabila anda pengembang video game yang eklektik, anda akan lari ke Sega yang lebih menjunjung kebebasan.”

Sumber gambar: Sega
Kalau Greenpeace membuat video game, maka mungkin hasilnya akan seperti Awesome Possum. Di game itu anda memungut sampah, membunuh robot yang menebang pohon. Anda melewati puing-puing kota yang tercemar polusi, di mana gedung-gedungnya tertimbun oleh sampah. Di jeda setiap level, anda harus menjawab pertanyaan kuis seputar lingkungan di depan segerombolan binatang yang terancam punah. Mereka akan marah apabila anda tidak bisa menjawab ruangan mana di rumah anda yang paling banyak menghabiskan air.
Di akhir game tersebut, setelah menendang pantat Dr. Machino, Awesome Possum diabadikan di samping Abraham Lincoln di Mount Rushmore. Kemudian muncul tulisan ini: “Harapan untuk dunia yang bersih kini ada di tanganmu.”
Kalinske berujar ke saya bahwa Sega di AS memiliki beberapa pengembang video game yang memang menjadikan masalah lingkungan fokus utama. Ed Annunziata, pembuat Ecco, hingga kini masih tinggal dekat laut dan menghabiskan karirnya merilis sekuel dari Ecco dan game-game seputar ekosistem kelautan lainnya.
Status Big Blue, sebuah game virtual reality versi “spiritual” dari Ecco masih mengambang setelah kampanye Kickstarter yang kurang berhasil. Mark Cerny, kepala pengembangan Sonic 2, secara khusus ingin game ini menyerang isu-isu lingkungan. Vectorman bahkan dikembangkan oleh segerombolan pembela lingkungan (termasuk Annunziata). “Masalah lingkungan yang dimunculkan dalam game tersebut memang bukan kebetulan,” jelas Kalinske.
Ledakan tren game indie memang memberi harapan bagi pengembang video game-video game yang aneh, namun sulit untuk membayangkan munculnya game seperti Ecco atau Vectorman—yang sukses secara komersil dan disukai pihak kritikus—di format game konsol masa kini. Alasannya? Isu lingkungan kini tidak lebih dari masalah bagi segelintir orang saja.

Vectorman. Sumber gambar: Sega
Para ilmuwan, sosiolog, dan sarjana ilmu politik telah menghabiskan dua dekade terakhir berusaha mencari jawaban dari hal ini. Narasi yang populer digunakan adalah ini bentuk strategi kaum konservatif melawan pemerintahan Bill Clinton, terutama wakil presiden Al Gore yang sangat keras membela lingkungan. Di saat yang sama, keputusan KTT Bumi Rio yang membela lingkungan dinilai wadah pemikir kaum konservatif sebagai ancaman terhadap kedaulatan AS. Berakhirnya Perang Dingin juga mengakibatkan pecahnya fokus politik.
Selepas aksi bela lingkungan tahun 1990, “sederetan cerita dan laporan ngawur seputar ‘ekoterorisme’ dikeluarkan oleh Heritage Foundation, National Review, [dan situs-situs sayap kanan lainnya],” tulis David Helvarg di buku The War Against The Greens, yang menceritakan tentang sejarah perjuangan lingkungan. “Setelah kematian komunisme, untuk pertama kalinya dalam 45 tahun Partai Republik dan kroco-kroconya kehilangan musuh utama untuk tetap bisa menyatukan kaum religius konservatif, pengguna senjata api, penggila teori konspirasi anti pemerintahan, dan pendukung ekonomi bebas.”

Sumber gambar: Tengen
“Mengganti musuh ‘merah’ menjadi musuh ‘hijau’ dan mengadopsi strategi pro-industri terbukti menjadi senjata yang ampuh,” jelasnya.
Dua dekade kemudian, kaum konservatif masih menyanyikan lagu yang sama—melindungi lingkungan tidak sepenting profit dan stabilitas ekonomi perusahaan-perusahaan minyak dan ilmu pengetahuan harus ditentang atau diabaikan. Membela lingkungan dianggap sebagai gerakan marjinal semata.

Sumber gambar: CSPAN
Kabinet Donald Trump sangat kacau. Pemimpin Badan Perlindungan Lingkungan AS, Scott Pruitt, adalah sosok yang dulu rajib menuntut pembubaran lembaga itu di masa lalu. Belum lagi Menteri Luar Negeri yang baru, Rex Tillerson yang meraup keuntungan selangit lewat perusahaannya ExxonMobil berkat kebijaksanaan yang diambil oleh kaum sayap kanan.
Kebebasan yang diberikan Sega kepada para pengembangnya menghasilkan banyak game keren dan game bapuk. Tapi yang paling terpenting, menghasilkan game yang mempunyai pesan. Setelah 25 tahun lamanya beredar retorika anti-lingkungan, game seperti Awesome Possum, sekonyol-konyolnya ini, menjadi semacam bentuk pemberontakan.
“Saya berusaha netral politik ketika menjabat sebagai CEO Sega, tapi saya selalu mendorong tim untuk menerapkan keyakinan mereka,” kata Kalinsky. “Sekarang, saya merasa banyak pelajaran yang bisa dipetik dari game-game yang kami buat di masa lalu.”
More
From VICE
-

Screenshot: Capcom -

Screenshot: 33 Games -

Photo: Olga Rolenko / Getty Images -

Photo: Dann Tardif / Getty Images