Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur Kampung Nayu RT 02 RW 05, Kelurahan Joglo, Banjarsari, Solo, menyiapkan area tanam (3/8/2023). KWT Ngudi Makmur memanfaatkan sampah organik yang selanjutnya diolah menjadi pupuk. (Project M/Ariyanto Mahardika)
Sawah Nol Hektare
Perempuan pekerja proyek mengambil air dari selokan di Jl. Melon Raya, Karangasem, Laweyan, Solo (5/8/2023). Selokan itu sebelumnya berfungsi sebagai saluran irigasi. (Project M/Ariyanto Mahardika)
Syarat Minimum Lahan Pertanian Kota
Pandemi dan Masalah Pangan yang Bergizi
Sukarelawan Sedulur Pasar Legi Peduli Stunting (Lurginting) menyiapkan bantuan berupa sayur mayur, daging, dan susu di Kelurahan Setabelan, Kecamatan Banjarsari, Solo (4/8/2023). Bantuan itu tak saja dari pedagang Pasar Legi tetapi juga dari elemen warga lain yang peduli terhadap penanganan stunting. (Project M/Ariyanto Mahardika)
Artikel ini adalah kolaborasi Project Multatuli bersama Yayasan Kota Kita untuk memotret inisiatif kemandirian pangan di kawasan urban. Yayasan Kota Kita menerbitkan riset terkait pangan perkotaan yang bisa dibaca pada tautan ini: Pangan Perkotaan di Tiga Wilayah Urban di Indonesia.Artikel ini pertama kali terbit di Project Multatuli. VICE menayangkannya ulang dengan izin.