Sains

Begini Rasanya Manusia Jadi Kelinci Percobaan 40 Hari Tinggal di Gua Tanpa Cahaya

Eksperimen di pedalaman Prancis ini dilakukan ilmuwan untuk memahami persepsi otak soal waktu, dan kemampuan manusia bertahan di kondisi ekstrem.
27.4.21
15 orang di Prancis jalani  40 Hari Tinggal di Gua Tanpa Cahaya
Sum "Deep Time"/Human Adaptation Institute  

Sebanyak 15 orang akhirnya keluar dari sebuah gua yang amat dalam masuk perut bumi di pedalaman Prancis, pada 24 April 2021. Mereka adalah subyek eksperimen ilmiah untuk mengukur konsep waktu dan ketahanan fisik manusia di kondisi ekstrem. Selama 40 hari, ke-15 sukarelawan tadi tidak terpapar sinar matahari sama sekali, tidak bisa memeriksa jam, serta dilarang berkomunikasi dengan dunia luar.

Proyek ini dijuluki ‘Deep Time’, dirancang mengukur gelombang otak para sukarelawan saat tidak lagi bisa memahami konsep waktu karena sulit membedakan siang dan malam. Dari temuan para peneliti, ketika peserta eksperimen kehilangan pola tidur circadian (yang biasanya terjadi akibat perbedaan siang-malam), tubuh mereka tetap mampu menyesuaikan diri.

“Rasanya sangat menakjubkan. Kami tidak menyangka sudah dalam gua selama 40 hari,” kata Christian Clot, peserta eksperimen yang profesinya penjelajah profesional sekaligus pendiri yayasan Human Adaptation Institute. “Buat kami semua, rasanya kayak masih sebulan berlalu.”

Eksperimen ini digelar di Gua Lombrives, di kawasan barat daya Prancis yang memiliki banyak cabang di perut bumi. Bersama 14 peserta lain, Clot muncul dari bibir gua pada pukul 10.30 waktu setempat, disambut tepuk tangan tim peneliti.

Para peserta eksperimen terdiri dari rentang usia 27 tahun hingga 50 tahun, terdiri atas tujuh perempuan dan delapan lelaki. Sebelum diizinkan mengikuti eksperimen ‘Deep Time’, mereka harus lolos sekian uji coba awal terlebih dulu, khususnya dari segi kesiapan mental.

Selama masuk gua pada 14 Maret lalu, tim peneliti mengirimkan makanan dan peralatan bertahan hidup secara berkala. Namun air harus mereka dapatkan sendiri dalam gua. Sebagian besar peserta memiliki latar belakang pecinta alam atau pendaki gunung profesional, sehingga mereka punya kemampuan dasar bertahan di alam. Meski demikian, ada juga peserta yang profesi aslinya perajin perhiasan atau analisis bisnis perusahaan.

Iklan

Variasi peserta ini, menurut keterangan di situs resmi proyek yayasan, untuk mendapat gambaran manusia dari kehidupan sehari-hari. Seluruh faktor kerja tubuh selama mereka dalam gua diukur; dari suhu tubuh, pencernaan, sampai pola buang air besarnya. Tim peneliti mendapatkan data-data tersebut dari termometer kecil dan pelacak infra merah yang dilekatkan di tubuh tiap peserta.

Selepas keluar dari gua, seluruh sukarelawan harus menjalani pemindaian otak (MRI) di Ibu Kota Paris terlebih dulu. Dipastikan, tak ada yang mengalami efek negatif selepas berada di gua nyaris dua bulan. Dari penuturan peserta, semuanya mengaku punya sensasi yang sama selama tidak mendapat cahaya matahari serta kehilangan konsep waktu.

“Seakan-akan kita memencet tombol pause dan waktu berhenti,” kata Marina Lançon, salah satu peserta, ketika diwawancarai Associated Press. Dia mengaku senang bisa menghirup udara segar kembali dan terpapar matahari, tapi menurut Marina, kalau diminta hidup dalam gua lebih lama pun dia masih sanggup.

Clot, sebagai inisiator penelitian ini yang ikut menjadi sukarelawan, meyakini hasil penelitian mereka akan bisa memberi sumbangsih pada pemahaman manusia tentang konsep waktu. Penelitian ini juga dapat menjadi pondasi pelatihan bagi manusia menjalani misi perjalanan luar angkasa di masa mendatang.

“Manusia sudah pasti akan berevolusi,” kata Clot. “Karenanya kita harus belajar sejak sekarang memahami cara kerja otak dalam merespons situasi yang ekstrem.”