Peluang bisnis konser livestreaming musisi Indonesia Vincent Rompies Barasuara
Ilustrasi live streaming konser musik via Phxere.
Industri Musik

Siasat Agar Konser Livestreaming Membantu Musisi Indonesia Bertahan Saat Pandemi

Ada peluang musisi mendapat pemasukan alternatif dari platform streaming, namun buruknya koneksi Internet di Tanah Air jadi salah satu faktor yang menghambat.
09 Mei 2020, 6:48am

Kendati sudah memasuki usia senjakala, The Rolling Stones tetap bisa tampil begitu prima. Pertengahan April 2020, band gaek ini membikin riuh jagat media sosial, membawakan “You Can’t Always Get What You Want,” yang diambil dari album The Rolling Stones Rock And Roll Circus (1968). Video penampilan mereka seketika viral, ditonton lebih dari empat juta orang.

Tapi, ada yang berbeda dari penampilan mereka. The Rolling Stones tak manggung di hadapan penonton yang jumlahnya bejibun. Kali ini, mereka tampil menggunakan format live streaming, dengan Mick Jagger, Keith Richard, Ronnie Wood, dan Charlie Watts bermain musik dari rumah masing-masing.

Pandemi corona membuat kehidupan umat manusia berubah drastis. Masyarakat dunia dipaksa beradaptasi sekaligus menerima apa yang disebut-sebut sebagai bentuk kenormalan baru. Industri musik, dan segala gegap gempita di dalamnya, tak luput dari arus perubahan itu.

Untuk sementara waktu, tak ada lagi konser di stadion, gelanggang besar, maupun bar atau gig kecil yang pengap. Keriaan sing along panjang, juga circle pit yang menggairahkan, ikut lenyap ditelan wabah. Semua berganti rupa lewat pertunjukan minimalis yang dilakukan di kamar pribadi serta interaksi yang terbangun dengan bantuan media sosial.

Gambaran yang sama mulai muncul di Indonesia. Dua bulan terakhir di media sosial, baik itu Instagram, TikTok, maupun YouTube, dipenuhi musisi yang tak ingin duduk berdiam diri dan menerima nasib yang hanya bikin pusing kepala.

Salah satu musisi yang memanfaatkan keberadaan media sosial untuk tetap bermusik ialah Vincent Rompies, pencabik bass Goodnight Electric sekaligus mantan personel Clubeighties. Selama pandemi, akun Instagram Vincent diisi unggahan video yang memperlihatkan dirinya jamming bareng musisi lainnya.

Bersama Riko Prayitno, gitaris Mocca, Vincent sempat memainkan balada "Also Ran" milik Blueboy, band yang berafiliasi dengan label Sarah Records, secara akustik. Pada kesempatan lain, Vincent mengiringi Ardhito Pramono menyanyikan "Silly Love Songs" ciptaan Paul McCartney. Vincent juga berkolaborasi dengan Ramadhista Akbar (Nidji), Brian Kresno Putro (Sheila On 7), serta Restu Triandy (/rif) membawakan lagu "One"-nya U2.

Di sisi lain, ada media arus utama seperti Kompas TV dan Narasi TV yang memanfaatkan layanan live streaming musik untuk menggalang dana. Narasi TV, ambil contoh, menyelenggarakan acara bertajuk Konser Musik #DIRUMAHAJA, menggandeng banyak musisi mulai dari Kunto Aji, Andien, Ari Lasso, Tulus, Trio Lestari, hingga Petra Sihombing. Konser ditayangkan melalui YouTube diadakan selama empat hari berturut, antara 25 sampai 28 Maret, dan berhasil mengumpulkan donasi belasan miliar rupiah yang keseluruhannya bakal disalurkan untuk mendukung kerja-kerja tenaga medis.

Sedangkan hajatan yang dibikin Kompas TV diberi judul “Konser Amal dari Rumah.” Pihak Kompas TV mengajak almarhum Didi Kempot, legenda campursari yang namanya kembali melambung di kalangan anak-anak muda beberapa waktu belakangan, sebagai penampil utama. Acara ini sukses mengumpulkan sumbangan sebesar Rp7,6 miliar.

Tak semua live streaming musisi mempertontonkan pementasan daring. Barasuara, kelompok musik yang dipimpin Iga Massardi, mengambil pendekatan berbeda. Lewat akun YouTube, mereka mengadakan siaran "Bersama di Balik Layar". Sesuai judulnya, konten ini berisi cerita proses kreatif masing-masing personel seperti "Tutorial Gitar Guna Manusia", “Efek-efek yang Saya Gunakan dalam Lagu Barasuara,” sampai "Kutak-katik Beat Barasuara."

Di setiap konten yang dirilis, Barasuara tak lupa menyertakan QR Code bagi penonton yang ingin berdonasi. Hasil donasi bakal disalurkan ke tim produksi Barasuara. "Karena kami yang sekarang adalah bagian dari buah tangan kerja keras mereka. Gerakan sederhana ini adalah bentuk apresiasi dan terima kasih untuk BaraGenk," demikian tulis Barasuara dalam satu unggahan di Instagram. "Mari kita lalui badai ini bersama-sama."

"Wah, pakai diingetin segala, nih," kata Faiz Novascotia Saripudin, gitaris Reality Club, kepada VICE, saat ditanya ihwal batalnya keberangkatan mereka ke ajang South by Southwest (SXSW).

Maret lalu semestinya menjadi kesempatan bagi Reality Club melebarkan sayap dengan main di SXSW, festival musik dan konferensi industri kreatif tahunan yang diselenggarakan di Texas, Amerika Serikat. Reality Club, bersama Grrrl Gang, terpilih sebagai perwakilan Indonesia setelah mengalahkan ribuan kandidat yang masuk ke meja panitia. Peluang manis tersebut urung terlaksana sebab adanya pandemi.

"Sudah pasti kecewa karena usaha buat ke sana enggak mudah. Apalagi visa kami sempat ditolak sebelum akhirnya disetujui," ungkap Faiz. "Ketika tahu kami batal ke sana [gara-gara corona], kami langsung down. Tapi, mau gimana lagi, kan? Kondisinya udah kayak gini."

Batal memanaskan panggung SXSW jelas bikin terpukul, terlebih kesempatan semacam ini tidak datang semudah membalik telapak tangan. Namun, Reality Club tak ingin lama-lama bermuram durja. Hasrat bermusik dan memupuk kreativitas harus terus jalan, sekalipun pandemi membuat kondisi berada di tengah keterbatasan.

Cara yang mereka tempuh yakni dengan tetap bermusik, walau hanya melalui format live streaming. Pertengahan April lalu, mereka diundang tampil di gelaran Live Stream Fest, yang diadakan Samara Live. Faiz mengatakan bandnya cukup antusias menyambut acara tersebut karena mereka bisa berinteraksi dengan para penggemar.

Bukan berarti semuanya berjalan dengan mulus. Mempersiapkan konser live streaming tidak sama dengan mempersiapkan penampilan offline. Ada elemen yang hilang, dalam kasus Reality Club menurut Faiz, hal tersebut mewujud pada aspek quality control.

"Kalau dalam show biasa, ada soundman yang bertugas mengatur ini-itu. Sementara ketika live streaming, kami juga turun buat ngatur peralatan yang kami bawa," papar personel dari band yang pada 2019 kemarin melepas album kedua berjudul What Do You Really Know? ini.

Tak jarang, dalam mempersiapkan live streaming, para personel Reality Club dilanda frustasi karena terdapat beberapa hal yang mesti dikuasi, seperti misalnya penggunaan software penunjang kualitas suara yang hendak dihasilkan. "Of course [itu] bikin frustasi," kata Faiz seraya tertawa. "Tapi, enggak bisa dipungkiri juga bahwa kami bisa belajar hal yang baru. It’s time to learn. Ada sisi menantangnya."

Sementara Iksal Harizal, manajer The Panturas, kuartet surf rock yang namanya melejit dengan album Mabuk Laut (2018), mengungkapkan bahwa problem penting dalam mengadakan sesi live streaming adalah koneksi internet. "Enggak peduli seberapa bagus penampilan elo, selama [koneksi] internet masih mengganjal maka itu akan jadi hal yang menyebalkan," ucapnya pada VICE.

Kendala tersebut, sepenuturan Iksal, dialami The Panturas kala mereka bermain dalam acara “From the Crib” yang terselenggara berkat kerjasama Studiorama Jakarta dan Sounds From The Corner. Pihak The Panturas mengaku butuh waktu enam jam khusus mengatur koneksi internet. Hasilnya tetap di luar ekspektasi: koneksi tak maksimal. "Padahal itu yang nonton lumayan banyak, sekitar 3 sampai 4 ribu orang," katanya.

Keluhan Iksal dapat dipahami. Tingkat konektivitas internet Indonesia masih cukup payah. Data Speedtest Global Index (per Maret 2020) menyebut Indonesia berada di peringkat 118 dunia untuk kategori mobile broadband (smartphone dan modem) dengan kecepatan download sebesar 14,05 Mbps dan upload sebesar 9,34 Mbps. Kemudian di kategori fixed broadband (kabel), Indonesia baru menempati posisi 113 dengan kecepatan download dan upload masing-masing sebesar 20,13 Mbps dan 12,07 Mbps.

Pandemi turut memengaruhi jaringan internet yang di kondisi normal saja sering lemot. Masih mengutip data Speedtest, selama masa pandemi, kecepatan download di Indonesia, per 27 April, baik dari mobile maupun fixed broadband, mengalami penurunan 12 persen dan 2 persen, menjadi 18,75 Mbps serta 14,42 Mbps—dibandingkan koneksi sebulan sebelumnya.


Simak wawancara VICE dengan komposer yang musiknya terinspirasi efek psikedelik jamur:


Mengadakan konser atau pementasan secara live streaming, tidak bisa dipungkiri, membuka peluang tatap muka dan menjalin kontak langsung dengan orang lain, sekalipun jumlahnya tidak banyak. Ini jelas bersinggungan dengan kebijakan physical distancing yang tengah digaungkan pemerintah demi mencegah penyebaran Covid-19 lebih lanjut. Meski begitu, para musisi mengantisipasi agar kerja mereka sesuai dengan protokol kesehatan yang telah ditentukan.

"Kalau dari The Panturas sendiri sejak awal memilih untuk enggak pakai teknisi. Kami nge-set sendiri semua peralatan. Plus, masker tetap dipakai. Stok hand sanitizer juga wajib dibawa. Kami juga meminta anak-anak buat mandi dulu sebelum show," terang Iksal. "Pokoknya protokol tetep diberlakukan selama proyek live streaming."

Situasi pandemi membuat banyak aspek dalam musik berubah, dan para pelakunya, mau tidak mau, diharuskan untuk beradaptasi. Tak dapat ditampik, selalu ada kekurangan yang muncul di banyak sisi sehingga tak jarang menjadikan hasil pementasan di luar ekspektasi. Dengan semua faktor tadi, Faiz dan Iksal sepakat: selama wabah belum memperlihatkan tanda-tanda penurunan, mereka wajib mempelajari sekaligus menyesuaikan diri dengan keadaan seperti saat ini.

"Sisi positifnya adalah [pandemi] membuat kami belajar bagaimana mengelola live streaming dengan baik," tegas Iksal.

Belum ada yang dapat memastikan rupa industri musik, terutama di tingkat lokal, pasca-pandemi. Banyak pihak masih menerka-nerka perubahan macam apa yang bakal turut mengiringi perjalanan industri ini di waktu mendatang.

Sejauh ini, penyelenggaraan konser live streaming, biasanya, tak jauh-jauh dari dua tujuan: menjaga kesenangan para pelaku di dalamnya dan ajang pengumpulan donasi. Tapi, yang perlu diingat, terus-menerus berada di dua zona itu bukan keputusan bijak. Idealnya live streaming bisa menjadi sumber pemasukan alternatif.

Riset menunjukkan pada 2019, pendapatan yang dihasilkan dari lini live streaming bagi musisi mancanegara cukup dominan. Hal ini disebabkan karena melonjaknya permintaan perangkat media digital, kebutuhan audiens untuk mengakses konten dari jarak jauh, video bebas iklan, hingga kualitas layanan yang di atas rata-rata. Di kawasan Asia-Pasifik, cakupan pasar live streaming bahkan diproyeksikan terus melonjak sampai 2027 mendatang.

Potensi yang cukup menggiurkan tersebut terbuka lebar asal dimanfaatkan para musisi lokal. Dimas Ario, kurator musik, berharap musisi Indonesia mengelola maksimal potensi live streaming. Sudah saatnya bagi musisi menggandeng pihak ketiga, dalam hal ini merujuk pada, misalnya, platform tiket atau brand.

"Setahu saya, mereka itu [pihak ketiga] kasih bayaran full atau sesuai fee normal kepada para musisi," kata laki-laki yang juga menjadi Program Curator RRREC Fest in the Valley ini saat dihubungi VICE. "Musisi atau band mesti melihat peluang itu."

Apa yang diungkapkan Dimas sudah dilakukan Indra Lesmana. Musisi jazz tersohor itu, pada akhir April lalu, mengadakan konser bertajuk “Mostly Jazz Live Online: Indra Lesmana Dewa Budjana (ILDB)” dengan menggandeng pihak Loket, layanan penyedia tiket daring. Harga tiket konser dijual dengan angka bervariasi, dari yang termurah sebesar Rp25 ribu sampai yang paling mahal yakni Rp2 juta. Dalam keterangan yang tertulis di laman resminya, dijelaskan bahwa sebagian hasil penjualan akan didonasikan.

Dimas menambahkan bahwa melangsungkan konser live streaming secara konsisten merupakan langkah yang mesti diapresiasi. Konsekuensi yang segera muncul adalah jangkauan pasar musisi atau band bersangkutan hanya akan berkutat pada audiens yang itu-itu saja.

"Misalnya saja musisi A ngadain live streaming tiap Kamis, entah berapa jumlah pengikutnya di media sosial. Maka, prediksi saya, yang nonton pun hanya orang-orang yang ada di [lingkaran] itu aja," tuturnya.

Pendapat berbeda diutarakan Iksal. Menurutnya, sampai sekarang, ruang live streaming belum terbukti menguntungkan bagi The Panturas. Iksal masih menganggap bahwa pintu pendapatan akan terbuka lebar jika mereka bermain secara offline. "Jujur aja bisnis [ live streaming_] ini belum jadi _main income kami," ungkapnya. "Karena, bagaimanapun, kehadiran [teknologi] digital itu juga bisa menghilangkan banyak hal."

Parade live streaming, sudah pasti, tidak bisa menggeser posisi konser offline yang menjadi elemen penting dalam industri musik. Konser live streaming dinilai punya banyak celah seperti kualitas suara yang tak maksimal sampai koneksi internet yang tak jarang membuat kenikmatan penonton menyaksikan konser tergerus tanpa sisa.

Konser musik tetaplah bentuk perayaan musik terbaik, ajang suka cita, sekaligus peluang melebarkan jaringan dan mengumpulkan pundi-pundi uang bagi para pelaku yang berkecimpung di dalamnya. Namun, di tengah pandemi ini, kemungkinan larut kembali dalam euforia semacam itu kecil sekali untuk diwujudkan. Suka tak suka, yang bisa dilakukan para musisi, seperti Dimas bilang, adalah menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada.

"Enggak ada yang siap [menghadapi pandemi] dan musisi atau band harus punya senjata untuk menghadapinya."


Faisal Irfani adalah jurnalis lepas yang rutin mengulas budaya pop Indonesia. Follow dia di Instagram